PWMU.CO – Ustadz Drs. H. Arifin Ahmad menyampaikan kajian rutin Rabu Ba’dal Maghrib di Masjid Baitul Huda, Pasuruan, pada Rabu (27/08/2025).
Kajian ini membahas bab “Konsep dan Dasar-Dasar Syar’i Tata Kelola” dari Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.
Dalam ceramahnya, Ustadz Arifin Ahmad menekankan tiga prinsip utama dalam tata kelola, baik dalam lingkup negara maupun keluarga.
Tiga Prinsip Tata Kelola Islami
Menurut Ustadz Arifin, tata kelola yang baik harus didasarkan pada tiga prinsip utama yang bersumber dari Al-Quran. Antara lain:
1. Prinsip Amanah: Merujuk pada QS. An-Nisa’ ayat 58
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 58).
Ustadz Arifin menjelaskan bahwa setiap pemimpin dan individu memiliki amanah untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak serta menetapkan hukum dengan adil. Ia juga mengutip QS. Al-Anfal ayat 27 yang mengingatkan umat Islam agar tidak mengkhianati amanah yang ia terima.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (QS. Al-Anfal 8: Ayat 27).
Ustadz Arifin menyoroti bahwa kegagalan dalam menjaga amanah akan memicu kekacauan, yang ia lihat tercermin dalam kasus-kasus korupsi yang menyeret pejabat negara.
2. Prinsip Tanggung Jawab: Berlandaskan pada QS. Al-Mu’minun ayat 115,
أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثًا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”. (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 115).
Kajian ini mengingatkan bahwa Allah tidak menciptakan manusia dengan main-main dan akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan dalam mengelola sebuah urusan memiliki konsekuensi di hadapan Allah.
3. Prinsip Uswatun Hasanah: Merujuk pada QS. Al-Ahzab ayat 21.
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21).
Ustadz Arifin menekankan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ia menyayangkan apabila para pejabat yang mengelola urusan publik tidak mencontoh akhlak mulia Rasulullah, yang dapat menimbulkan rasa malu di hadapan umat.
Tata Kelola dalam Keluarga sebagai Fondasi Negara
Lebih lanjut, Ustadz Arifin juga mengaitkan prinsip-prinsip tersebut dengan lingkup terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.
Ia menjelaskan bahwa tata kelola yang baik harus dimulai dari rumah. Dengan merujuk pada QS. At-Taghabun ayat 14, ia mengingatkan bahwa pasangan dan anak-anak bisa menjadi sumber ujian.
Dalam konteks ini, Ustadz Arifin memberikan nasihat kepada para suami untuk mengelola rumah tangga dengan bijaksana, bukan hanya dengan emosi.
Ia menekankan bahwa kesempurnaan iman seorang suami salah satunya diukur dari akhlaknya yang baik terhadap istrinya. Ia mengajarkan tiga sikap yang harus dimiliki suami untuk mencegah keretakan rumah tangga: memaafkan (ta’fu), bersikap lapang dada (tasfahu), dan tidak menghukum (ta’firu).
Ustadz Arifin menutup kajiannya dengan mengajak seluruh jamaah untuk menjadi pribadi yang visioner dan berpegang teguh pada iman.
Ia menyampaikan bahwa tata kelola yang benar harus dimulai dari diri sendiri, dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman utama, agar terwujud kebaikan di dunia maupun di akhirat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments