“Dua tokoh ini mengajarkan kita bahwa gerakan harus memiliki dasar yang kuat, baik secara spiritual maupun struktural. Tujuh Pokok Pikiran Muhammadiyah, yang kemudian disarikan menjadi Muqaddimah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, adalah kompas kita. Poin terakhir tentang organisasi menegaskan: perubahan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui pergerakan kolektif yang terorganisir, tertib, dan visioner” tegas Ustadz Muladzid.
Sambutan ini menjadi pengingat akan jati diri dan metode perjuangan Muhammadiyah yang rasional dan terencana.
Menyelami Samudera Makna Iman, Islam, dan Ihsan
Sebagai puncak acara, Ustadz Rifqy Ja’far Tholib menyampaikan tausiyah yang mendalam dan kontekstual.
Dengan merujuk pada Hadits Arbain ke-2 yang populer, beliau membedah konsep Islam, Iman, dan Ihsan sebagai tingkatan keberagamaan yang holistik.
Pertama, prinsip Menata Niat (Ikhlas). Ustadz Rifqy menekankan bahwa ikhlas bukanlah sekadar mantra, tetapi adalah proses penyelarasan hati yang terus-menerus.
“Lihatlah rumah sakit Muhammadiyah, dari zaman beliau KH. Ahmad Dahlan mendirikan ‘penolong kesengsaraan umat’ hingga sekarang. Niat awalnya adalah ibadah. Bukan mencari nama, bukan mencari pujian. Itulah yang membuat amal ini langgeng dan diberkahi hingga 113 tahun” ujar Rifqy.
“Setiap rupiah yang disalurkan, setiap tenaga yang dikerahkan, harus diawali dan diiringi dengan audit niat yang ketat” nasihatnya. Ia menggambarkan ikhlas sebagai “ruh” yang menghidupkan setiap “jasad” amal usaha Muhammadiyah.
Kedua, prinsip “Setiap amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka tertolak”. Prinsip ini, tegas beliau, adalah benteng Muhammadiyah dari penyimpangan.
“Kita tidak hanya mengejar kemajuan materi. Setiap langkah, termasuk kerja sama dengan perusahaan seperti tadi, harus dipastikan sesuai syariat” tegasnya.
Tidak ada yang haram, tidak ada yang syubhat. Inilah yang membedakan lembaga ekonomi Muhammadiyah dengan yang lain: kita mengejar keberkahan, bukan hanya keuntungan,” papar Rifqy.
Pembahasan tentang Ihsan menjadi klimaks kajian. Dengan bercerita tentang dialog Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril yang menyamar sebagai seorang sahabat, Ustadz Rifqy menggambarkan Ihsan sebagai level tertinggi dimana seorang hamba menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya.
“Inilah level Muhammadiyah yang kita cita-citakan. Bukan sekadar membangun sekolah (Islam), bukan sekadar yakin akan manfaatnya (Iman), tetapi membangunnya dengan kualitas seolah-olah Allah yang langsung memerintahkan dan mengawasi. Setiap bata, setiap kurikulum, setiap senyum guru, adalah bentuk penyembahan kepada-Nya” jelasnya penuh hikmah.
Kisah-keteladanan sahabat Nabi dalam merefleksikan Ihsan dalam kehidupan sehari-hari pun disampaikan, membuat kajian terasa hidup dan aplikatif.
Rangkaian Kegiatan Penunjang: Aksi Nyata untuk Masyarakat
Semarak Milad tidak berhenti di sana. Pawai Ta’aruf yang melibatkan Keluarga Besar Muhammadiyah dan Aisyiyah menyusuri sepanjang Jalan Desa, menebar pesan damai dan semangat berorganisasi.
Apel Milad berlangsung serentak di semua Lembaga Pendidikan Muhammadiyah pada Selasa (18/11/2025), menanamkan rasa bangga dan identitas sebagai bagian dari persyarikatan.
Puncak penutup akan terisi dengan bakti sosial masif pada Sabtu (22/11/2025), berupa Donor Darah, Pemeriksaan Kesehatan Gratis (cek gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah). Serta Pengobatan Gratis yang melibatkan tenaga kesehatan dari Amal Usaha Muhammadiyah setempat.
Rangkaian kegiatan Milad ke-113 PRM Golokan ini adalah sebuah statement. Sebuah bukti bahwa di usianya yang lebih dari seabad, Muhammadiyah tetap relevan, dinamis, dan menjadi salah satu pilar penting dalam membangun kesejahteraan bangsa Indonesia, mulai dari tingkat ranting yang paling akar rumput.
Semoga langkah-langkah nyata ini menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala untuk para pendiri dan penggeraknya. Serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat dan bangsa.






0 Tanggapan
Empty Comments