Mentari pagi yang cerah menyinari Aula Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon Laren pada Ahad (8/2/2026).
Puluhan kader Nasyiatul ‘Aisyiyah dari dua desa tampak berkumpul dalam kegiatan “Kajian Kolaborasi Perdana“.
Kegiatan ini merupakan inisiasi Pimpinan Ranting Nasyiatul ‘Aisyiyah (PRNA) Laren dan PRNA Pelangwot.
Kegiatan ini lahir dari inisiatif unik dua ketua ranting, Rofiqotul Ainiyah (Ketua PRNA Laren) dan Iftihatur Rofi’ah (Ketua PRNA Pelangwot).
Menariknya, keduanya merupakan saudara ipar yang merefleksikan kuatnya nilai kekeluargaan dalam gerak dakwah Muhammadiyah.
Acara dibuka dengan pembagian tugas yang apik antara kedua ranting.
Tim dari PRNA Pelangwot bertugas sebagai pelaksana teknis yang diwakili oleh Iftihatur Rofiah (MC), Irma Lutfia Agustini (Qari’ah), dan Nurmayanti Fajrin (Dirigen).
Sementara itu, PRNA Laren selaku tuan rumah menghadirkan Mida untuk pembacaan Komitmen Kader Nasyiah dan Rofiqotul Ainiyah yang memberikan sambutan tuan rumah.

Membersihkan Hati, Menguatkan Ibadah
Memasuki acara inti, Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PDNA) Lamongan, Arika Karim, S.HI., S.Pd.I., hadir sebagai narasumber utama.
Mengusung tema “Membersihkan Hati, Menguatkan Ibadah Menjelang Ramadan“, sambil mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang segumpal daging dalam tubuh, Arika menekankan bahwa hati (qalbun) adalah pusat dari segala tindakan dan pikiran manusia.
Kebaikan perilaku seseorang sangat bergantung pada kondisi batinnya, yang meliputi kejernihan akidah, keikhlasan, dan ketakwaan.
“Segala perubahan fundamental dalam hidup harus dimulai dari perbaikan hati, bukan sekadar aksi lahiriah yang bersifat sementara,” tegasnya.
Dalam paparannya, Arika membagikan kiat mendeteksi “penyakit” hati, di antaranya adalah seringnya melakukan kemaksiatan, kesibukan duniawi yang berlebih, hingga sikap pragmatis yang melupakan urusan akhirat.
Sebagai penawar, ia menawarkan lima langkah penyembuhan: mengenal sifat-sifat Allah, tadabur Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, senantiasa berzikir, dan memperbanyak selawat.
Muhasabah yang Menyentuh
Sesi kajian mencapai puncaknya saat Arika mengajak seluruh kader melakukan muhasabah diri.
Suasana berubah haru ketika lafaz istighfar dilantunkan bersama-sama.
Isak tangis pecah di dalam ruangan sebagai bentuk penyesalan atas khilaf yang telah diperbuat.
“Tangisan ini menandakan hati kita masih hidup dan mampu mengingat Allah. Berbahayalah bagi manusia yang hatinya telah mengeras,” ujar Arika di sela-sela sesi tersebut.
Ia juga memotivasi para kader untuk bangga berorganisasi, “Bernasyiah itu menyenangkan; kita dapat ilmu, relasi, dan pengalaman.”
Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama, bersalaman, dan makan bersama dengan menu liwetan untuk mempererat keakraban.
Iftihatur Rofiah berharap kolaborasi ini menjadi awal dari kerja sama yang berkelanjutan. “Kami ingin silaturahmi ini terus berlanjut dalam agenda-agenda produktif lainnya,” pungkasnya.***






0 Tanggapan
Empty Comments