Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag mengingatkan pentingnya membangun masyarakat yang beradab dan berkarakter di era modern.
Menurutnya, membangun keluarga dan masyarakat yang beradab bukanlah perkara mudah, melainkan membutuhkan komitmen dan perjuangan berkesinambungan.
“Tidak ada bangsa yang berkeadaban jika bangsa itu tidak ditopang oleh pendidikan yang baik,” tegas Biyanto.
Dia menjelaskan konsep catur pusat pendidikan, yakni empat pilar yang memengaruhi pembentukan karakter generasi bangsa: keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan media.
Pertama, keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak. “Disebutkan al-baytu madrasatul ula. Keluarga adalah sekolah pertama, dan guru terbaik adalah ayah dan ibu yang menjadi mudarris bagi anak-anaknya,” jelas Biyanto.
Namun, dia menyoroti realitas bahwa tidak semua orang tua mampu mendidik anak dengan baik. Bahkan ada fenomena broken home yang berdampak negatif pada pembentukan akhlak generasi muda.
Kedua, sekolah menjadi elemen penting untuk menanamkan karakter. Mulai dari PAUD hingga SMA, pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa.
“Kalau kita ingin anak-anak kita kelak menjadi tuan di negeri sendiri, maka mereka harus tumbuh dari keluarga yang baik, dan menempuh pendidikan terbaik,” ujarnya.
Ketiga, lingkungan sosial turut membentuk perilaku anak. Anak-anak kerap lebih menuruti teman sebaya ketimbang orang tua atau guru. Karena itu, orang tua wajib mengenal lingkungan pergaulan anak-anaknya.
Keempat, media menjadi faktor yang tak bisa dihindari di era digital. “Anak-anak kita sekarang no gadget no life. Mereka lebih senang berinteraksi di dunia maya daripada di dunia nyata. Di sinilah peran pendidikan dan pengasuhan menjadi semakin penting,” papar Biyanto.
Dia menegaskan, membangun karakter bukan hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga keteladanan. Rasulullah saw telah menegaskan peran pendidik dalam sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah)
Di era modern, kata Biyanto, generasi muda kerap kehilangan sosok teladan.
“Berita-berita yang mereka baca di media lebih banyak menampilkan perilaku negatif seperti korupsi, kekerasan, atau pornografi. Maka keteladanan menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Biyanto juga mengutip Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 140 yang mengingatkan tentang sunnatullah dalam pergiliran nasib bangsa:
وَتِلْكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran: 140)
Ayat ini, jelasnya, turun setelah Perang Uhud, ketika umat Islam mengalami kekalahan dan banyak sahabat terluka bahkan gugur, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib.
Kekalahan itu mengingatkan bahwa kehidupan selalu berputar; kadang menang, kadang kalah.
Biyanto mencontohkan sejarah peradaban Islam yang pernah berjaya di Baghdad dan Andalusia. Namun, ketika karakter dan adab pemimpin melemah, kejayaan itu runtuh.
Hal serupa terlihat pada negara-negara modern seperti Korea, Jepang, dan China yang dulu tertinggal, namun bangkit karena komitmen pada pendidikan dan karakter bangsanya.
“Bangsa kita akan merayakan HUT ke-80. Jika kita ingin menjadi bangsa yang beradab, pemimpin dan warganya harus memiliki karakter yang kuat dan akhlak mulia,” tutup Biyanto, seraya mengutip syair Ahmad Syauqi:
إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ
فَإِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوا
“Sesungguhnya bangsa itu tegak karena akhlaknya. Jika akhlak mereka hilang, maka hilanglah bangsa itu.” (*)
Catatan:
Disarikan Khotbah Jumat Prof. Dr. Biyanto, M.Ag di Masjid Al Falah Surabaya, pada 4 Juli 2025






0 Tanggapan
Empty Comments