Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof. Din Syamsuddin Serukan Perumusan Ekoteologi Hadapi Krisis Lingkungan Global

Iklan Landscape Smamda
Prof. Din Syamsuddin Serukan Perumusan Ekoteologi Hadapi Krisis Lingkungan Global
Din Syamsuddin Serukan Perumusan Ekoteologi Hadapi Krisis Lingkungan Global, Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Cendekiawan Muslim Indonesia, Din Syamsuddin, menegaskan pentingnya perumusan konsep ekoteologi sebagai respons teologis atas krisis lingkungan global.

Gagasan tersebut ia sampaikan dalam Kajian Ramadan PWM Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, persoalan lingkungan saat ini bukan lagi isu lokal, melainkan telah menjadi problem peradaban dunia. Perubahan iklim, pemanasan global, hingga kerusakan ekosistem menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup manusia.

Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas agama untuk menghadirkan solusi berbasis nilai spiritual dan moral.

“Kita dulu berbagi teologi toleransi, sekarang saatnya berbagi teologi lingkungan hidup,” ujarnya.

Alam sebagai Subjek Ciptaan Allah

Din menjelaskan bahwa dalam perspektif Al-Qur’an, alam tidak boleh dipandang sekadar objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek ciptaan Allah yang memiliki fungsi dalam sistem kehidupan. Istilah-istilah Al-Qur’an tentang alam menunjukkan posisi aktif ciptaan Tuhan dalam tatanan kosmis.

Ia mengutip firman Allah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.”
(QS. Fathir: 1)

Ayat tersebut, jelasnya, menegaskan bahwa penciptaan alam bukan peristiwa tanpa tujuan. Di dalamnya terdapat fitrah keseimbangan yang harus dijaga manusia.

Prinsip keseimbangan itu juga ditegaskan dalam firman Allah:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ۝ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan keseimbangan, agar kamu tidak merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8)

Makna Kekhalifahan dalam Perspektif Peradaban

Din juga menyinggung mandat kekhalifahan manusia di bumi sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Menurutnya, istilah khalifah tidak semata bermakna politik sebagaimana dipahami sebagian kalangan, tetapi lebih luas sebagai mandat peradaban. Manusia adalah wakil Allah untuk membangun, memakmurkan, serta menjaga bumi.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai khilafah peradaban, bukan sekadar khilafah politik. Prinsip tanggung jawab menjaga bumi, lanjutnya, juga ditemukan dalam tradisi agama samawi lainnya, yang menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan nilai universal lintas iman.

Bencana: Alamiah dan Akibat Ulah Manusia

Dalam kajian tafsir klasik seperti karya Fakhruddin ar-Razi dan Ahmad Mustafa al-Maraghi, musibah dijelaskan memiliki dua dimensi: terjadi karena proses alamiah dan akibat perbuatan manusia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Al-Qur’an menegaskan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Menurut Din, krisis lingkungan modern tidak dapat dilepaskan dari perilaku eksploitatif manusia seperti penggundulan hutan, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Ia menilai Indonesia termasuk wilayah rawan bencana, baik karena faktor geologis maupun faktor manusia. Rentetan peristiwa seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung berapi menunjukkan betapa rentannya keseimbangan alam ketika tidak dikelola secara bijak.

Tanggung Jawab Kolektif

Din menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ…

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan yang melanggarnya seperti kaum yang berada di kapal… Jika mereka membiarkan, semuanya binasa; jika mereka mencegah, semuanya selamat.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan prinsip tanggung jawab sosial: kerusakan yang dibiarkan oleh sebagian orang akan berdampak kepada semua.

Hadis lain juga memperingatkan pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar:

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ

“Sungguh kalian harus menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau Allah akan menimpakan azab kepada kalian.” (HR. Tirmidzi)

Menurutnya, terdapat hukum kausalitas moral: kerusakan sosial maupun lingkungan akan terjadi ketika kemungkaran dibiarkan tanpa koreksi.

Seruan Ekoteologi Global

Din mendorong perumusan konsep ekoteologi secara sistematis agar dapat menjadi rujukan dunia internasional. Hasil kajian keislaman tentang lingkungan perlu diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dijadikan referensi global.

Ia juga menyoroti urgensi transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan untuk mencegah krisis iklim yang lebih parah di masa depan.

Perguruan tinggi, lembaga riset, serta organisasi keagamaan dinilai harus menjadi pelopor inovasi energi ramah lingkungan.

“Ekoteologi bukan sekadar konsep ilmiah, melainkan panggilan iman. Menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” tandasnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu