Kegiatan pelatihan ketahanan pangan yang betempat di SMA Muhammadiyah 11 Laren menghadirkan Prof. Isnawati, M.Si dari Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai narasumber utama.
Dalam pengantarnya, Prof. Isnawati menekankan pentingnya membangun kesadaran ketahanan pangan sejak lingkungan pendidikan sebagai fondasi kemandirian generasi muda.
Mengawali pemaparannya, Prof. Isnawati menjelaskan bahwa ketahanan pangan tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga mencakup kemampuan masyarakat, termasuk pelajar, dalam memproduksi pangan secara mandiri dan berkelanjutan. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi dan pembentukan karakter, termasuk dalam menanamkan nilai kemandirian pangan.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari kesadaran. Ketika siswa memahami bagaimana pangan diproduksi dan dikelola, mereka akan lebih menghargai makanan dan lingkungan,” tutur Prof. Isnawati dalam pengantar pelatihannya.
Prof. Isnawati memilih budidaya jamur sebagai materi utama pelatihan karena dinilai relevan dengan kondisi sekolah dan mudah diterapkan. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa jamur merupakan sumber pangan bergizi tinggi, memiliki nilai ekonomi, serta tidak membutuhkan lahan luas. Hal ini menjadikan budidaya jamur sebagai solusi tepat untuk diterapkan di lingkungan sekolah maupun rumah tangga.
Lebih lanjut, Prof. Isnawati menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga membangun pola pikir kewirausahaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui budidaya jamur, siswa diajak memahami siklus produksi pangan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai media tanam.
Pendekatan Praktik
Dalam penyampaiannya, Prof. Isnawati juga menekankan pentingnya pendekatan praktik dalam pembelajaran. Ia berharap pelatihan ini dapat menjadi pemicu lahirnya kegiatan produktif di sekolah, seperti pengembangan unit usaha kecil berbasis budidaya jamur yang dikelola oleh siswa dengan pendampingan guru.
“Sekolah adalah tempat terbaik untuk menanamkan nilai produktif. Dari kegiatan sederhana seperti budidaya jamur, siswa dapat belajar disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama,” tambahnya.
Peserta pelatihan, baik guru maupun siswa dan perwakilan kepala sekolah di sentra ketahanan pangan tampak menyimak dengan serius pengantar yang disampaikan Prof. Isnawati. Materi yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh konkret membuat konsep ketahanan pangan mudah dipahami dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pelatihan ketahanan pangan ini diharapkan menjadi langkah awal SMA Muhammadiyah 11 Laren dalam mengembangkan program pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kemandirian. Melalui pengantar dan arahan Prof. Isnawati, peserta memperoleh pemahaman bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang dapat dimulai dari lingkungan sekolah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments