Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Sukadiono Sampaikan Tiga Pesan Penting bagi Alumni IMM Umsura

Iklan Landscape Smamda
Prof Sukadiono Sampaikan Tiga Pesan Penting bagi Alumni IMM Umsura
Arin Setyowati, Radius Setiawan, Prof Sukadinono, dan Ahmad Labib menghadiri acara Bukber Alumni IMM Umsura, Jumat (6/3/2026). Foto: Umsura
pwmu.co -

Suasana hangat penuh keakraban mewarnai acara Buka Bersama Forum Keluarga Alumni (FOKAL) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) yang digelar di Excotel Hotel Surabaya, Jumat (6/3/2026) petang.

Kegiatan bertema “Menjalin Silaturrahmi untuk Menguatkan Ikatan dan Jejaring” ini menjadi momentum penting bagi para alumni IMM untuk mempererat hubungan sekaligus memperkuat kontribusi mereka bagi persyarikatan dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, yang akrab disapa Prof Suko, menyampaikan tausiyah yang mengajak para alumni IMM merefleksikan kembali nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

Hadir dalam acara tersebut Anggota DPR RI Ahmad Labib, Wakil Rektor Umsura Dr. Radius Setiyawan, jajaran dekan, serta staf dan karyawan Umsura.

Di hadapan para alumni IMM, Prof Suko mengajak kader Muhammadiyah untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan, bukan sekadar bacaan ritual.

Dalam tausiyahnya, Prof Suko mengutip firman Allah dalam Surat Al-Fathir ayat 29:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

Dari ayat tersebut, Prof Suko menyampaikan tiga pesan penting kepada para alumni IMM.

Prof Sukadiono Sampaikan Tiga Pesan Penting bagi Alumni IMM Umsura
Alumni IMM Umsura di acara buka puasa bersama. Foto: Umsura

Pertama, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur. Menurut Prof Suko, membaca Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada aspek spiritual semata, tetapi harus dilanjutkan dengan pemahaman dan pengamalan dalam kehidupan nyata.

Dia mengutip pandangan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, bahwa membaca Al-Qur’an tidak boleh hanya berhenti pada spiritualisasi dan mistifikasi, seperti sekadar membaca surat tertentu berulang-ulang untuk tujuan tertentu.

“Tetapi harus sampai pada objektifikasi, bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an menjadi inspirasi dalam kehidupan,” jelasnya.

Sebagai contoh, Prof Suko menyinggung kisah Nabi Nuh yang diperintahkan Allah untuk membuat kapal, meskipun saat itu belum terjadi banjir besar.

“Waktu itu Nabi Nuh dianggap gila. Tapi sebenarnya itu adalah bentuk mitigasi bencana. Inilah contoh bagaimana wahyu bisa menjadi inspirasi tindakan nyata,” ungkapnya.

Prof Sujo menegaskan, membaca Al-Qur’an harus disertai tadabbur, yaitu memahami maknanya dan menjadikannya sumber inspirasi dalam kehidupan.

Dia juga menyinggung kebiasaan salat tahajud yang memiliki dampak besar bagi kesehatan dan spiritualitas seseorang.

Dia mengutip pandangan KH Mohammad Sholeh, penulis buku bestseller Terapi Salat Tahajud. Dia menyatakan bahwa tahajud dapat membantu menjaga kesehatan tubuh.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Gemar tahajud itu luar biasa. Perkataan Allah itu qoulan tsaqila, perkataan yang sangat kuat dan manjur,” katanya.

Kedu, salat harus melahirkan kepedulian sosial. Dia menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat dua dimensi kesalehan, yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Menurutnya, keduanya tidak boleh dipisahkan.

“Ada orang rajin salat, tetapi tidak peduli kepada orang lain. Ini yang tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Prof Suko mengingatkan pentingnya mengamalkan nilai ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, yaitu saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Salat, kata Prof Suko, seharusnya melahirkan kepedulian sosial kepada sesama. Bukan hanya menjadi ibadah pribadi, tetapi juga mendorong seseorang untuk membantu orang lain.

Prof Sukadiono Sampaikan Tiga Pesan Penting bagi Alumni IMM Umsura
Kebersaman Alumni IMM Umsura dalam acara bukber di Excotel Hotel Surabaya, Jumat (6/3/2026). Foto: Umsura

Ketiga, infak sebagai manifestasi salat. Prof Suko menegaskan bahwa menginfakkan harta merupakan manifestasi nyata dari salat yang dikerjakan seseorang.

Dia mengingatkan agar kader Muhammadiyah yang memiliki posisi atau jabatan tidak justru mempersulit kader lainnya.

“Jangan sampai ketika kita punya jabatan, justru menyusahkan kader-kader kita,” tegasnya.

Menurutnya, infak dapat dilakukan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Prof Suko juga menekankan perbedaan antara mendirikan salat dan sekadar mengerjakan salat. Mendirikan salat, kata dia, berarti menjadikan salat sebagai nilai yang membentuk karakter dan perilaku seseorang.

Dia juga mengajak para alumni IMM untuk terus berjuang dan memberi kontribusi terbaik bagi Muhammadiyah.

“Berjuang di Muhammadiyah harus semaksimal mungkin. Cita-cita kita adalah menjadi orang yang memberi manfaat bagi banyak orang,” pesannya.

Mengakhiri tausiyahnya, Prof Suko mengutip firman Allah: “In ahsantum ahsantum li anfusikum” — jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.

Melalui pesan tersebut, ia mengingatkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan seseorang pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu