Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) Praktek Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (Ismuba) di SMPM 12 (Spemudas) Paciran Lamongan Jawa Timur, kegiatan ini memiliki tujuan membekali santri kelas IX agar mampu merawat jenazah, berupa memandikan dan mengkafaninya.
Di bawah bimbingan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Spemudas, Ustadz M. Arromuharmuzi dan Ustadzah Muthmainah kegiatan tersebut diikuti 361 peserta, seluruh kelas IX putra dan putri, untuk santri putra tanggal Selasa 7 April 2026 sedangkan putri Kamis 9 April 2026. Praktek dimulai jam 07.30 WIB hingga sekesai.
M. Arromuharmuzi saat ditemui, Kamis (9/4/2026) mengaku telah mempersiapkan kegiatan ini dengan mengundang beberapa guru yang biasa terlibat di praktek putra, antara lain; Abdul Ghofar, Gondo Waloyo, Yusuf Abidin, Arif Rahman, dan Farih Hamdan. Adapun putri Hariyati, Sri Asian, Ariningsun, Nur Rohmah, dan Nur Azizah.
Nampak peserta praktek telah hadir dan berkerumun di halaman SMPM 12 Paciran sebelum kegiatan dimulai, mereka hadir tidak dengan tangan kosong, ada yang bawa kain, sarung, handuk dan lainnya untuk keperluan memandikan jenazah, sedangkan M. Arromuharmuzi telah menyiapkan puja kain kafan, boneka besar untuk peraga mayit, sabun, kapur barus, sampo, dan lainnya.
“Dalam praktek ini, akan dinilai adab, tata cara memandikan, dan mengkafani jenazah, keseriusan peserta praktek, tidak boleh ada canda tawa, pengetahuan dan pemahaman kalian dalam merawat jenazah,” ucap Ustadz M. Arromuharmuzi dalam arahannya sebelum praktek dimulai.
Sementara itu, Ustadzah Muthmainah yang sekaligus guru Al-Islam di Spemudas Paciran menjelaskan bahwa kegiatan praktek ibadah ini dalam rangka membekali santri agar faham dan mampu menjalankan secara empirik merawat jenazah.
“Tidak hanya teori saja yang diberikan oleh sekolah, anak-anak perlu juga dibekali dengan cara mempraktekkan langsung bagaimana merawat jenazah, seperti memandikan dan mengkafaninya, dengan praktek meskipun dengan boneka diharapkan santri serius dan tahu adab dan tatacara memberlakukan mayit,” jelasnya.
“Ini mengesankan sekali, terkesan serius tapi seru juga karena ini yang kita hadapi mayit, suasana dibikin masa saat berkabung, jadi serius penuh keheningan, tapi serunya saat melihat teman salah tindakan atau kurang lemah lembut dalam melakukan praktek, mau ketawa tapi takut dosa,” pengakuan santri putri asal Surabaya yang tak mau disebutkan namanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments