
PWMU.CO – Pendekatan baru dalam praktik psikiatri klinis yang menggabungkan logoterapi dengan kearifan spiritual Jepang dan Indonesia dipresentasikan oleh dr Era Catur Prasetya SpKJ, dalam The International College of Neuropsychopharmacology (CINP)–AsCNP 2025 Joint Congress di Melbourne, Australia, pada 15–18 Juni 2025.
Dalam presentasi bertajuk “Spiritual Meaning Making in Post-Disaster Recovery: Cross Cultural Study”, dr Era, psikiater dari RS Muhammadiyah Lamongan sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya, memperkenalkan pendekatan lintas budaya yang memadukan kekuatan spiritual dan intervensi klinis dalam mendukung pemulihan trauma, terutama pascabencana.
Temuan Empiris dari Pengungsi Sampang
Dr Era memulai pemaparannya dengan studi lapangan terhadap 97 pengungsi korban kerusuhan Sampang yang telah mengungsi lebih dari enam tahun. Hasilnya mengejutkan: 58,8% mengalami pertumbuhan pascatrauma yang tinggi, dan 83,5% mengalami transformasi spiritual signifikan dalam proses pemulihan. Hanya 39,2% dari mereka yang mengalami gangguan mental—jauh lebih rendah dari perkiraan untuk populasi dengan trauma berat.
“Mereka yang memiliki ‘mengapa’ untuk hidup, dapat bertahan dengan hampir semua ‘bagaimana’,” kutip dr Era dari Viktor Frankl, menggambarkan pentingnya makna dalam proses penyembuhan.
Secara neurobiologis, pencarian makna terbukti meningkatkan aktivitas korteks prefrontal hingga 40% dan menurunkan reaktivitas amigdala sebesar 45%, menandakan keterlibatan signifikan otak dalam merespons trauma secara konstruktif.
Model Lintas Budaya Jepang–Indonesia
Dr Era memperlihatkan bahwa spiritualitas memiliki kesamaan mendasar dalam lintas budaya. Ia membandingkan praktik pemulihan pascatrauma di Jepang dengan nilai-nilai lokal Indonesia. Di Jepang, praktik seperti Moai (komunitas), Ikigai (tujuan hidup), dan meditasi Zen terbukti menurunkan depresi dan meningkatkan regulasi emosi pemuda.
Ia mengembangkan Arsitektur Makna Universal—sebuah kerangka kerja yang menyatukan prinsip-prinsip logoterapi Frankl, kebijaksanaan Jepang, dan nilai-nilai Indonesia seperti amanah, sabr, dan gotong royong. Pendekatan ini menyoroti bahwa spiritualitas bukan semata-mata dogma agama, tetapi dimensi universal yang dapat dipraktikkan secara klinis.
Protokol Klinik Indonesia–Japan Meaning Protocol
Bagian paling praktis dari presentasi dr Era adalah protokol intervensi enam bulan berbasis makna yang dapat diterapkan di layanan kesehatan mental komunitas. Protokol ini dibagi dalam tiga fase:
- Fase Penemuan Makna (Bulan 1–2): Identifikasi tujuan hidup dan nilai komunitas, dengan target peningkatan skor makna hidup sebesar 40%.
- Fase Transformasi Trauma (Bulan 3–4): Pendalaman narasi trauma dan pelatihan coping berbasis penerimaan, dengan target penurunan gejala PTSD sebesar 50%.
- Fase Transendensi Komunitas (Bulan 5–6): Aktivitas kolektif dan perayaan makna bersama, menargetkan peningkatan koneksi sosial sebesar 60%.
Protokol ini menggabungkan kekuatan teori logoterapi, praktik Jepang yang terbukti efektif, dan adaptasi lokal untuk meningkatkan keberhasilan klinis, efisiensi biaya, serta kecepatan pemulihan.
Relevansi Global dan Implikasi Klinik
Dr Era menyoroti urgensi pendekatan ini mengingat 1,6 miliar orang tinggal di wilayah rawan bencana di seluruh dunia. Model terapi konvensional menunjukkan kegagalan hingga 60%, sementara pendekatan berbasis spiritualitas menunjukkan hasil lebih cepat dan berkelanjutan, terutama dalam konteks trauma kolektif.
“Integrasi spiritualitas bukan pilihan alternatif, tapi kebutuhan dalam layanan kesehatan mental modern,” tegas dr Era.
Ia menunjukkan bahwa program yang diadaptasi untuk pemuda Indonesia menghasilkan peningkatan signifikan: 85% kejelasan tujuan hidup, 70% penurunan gejala kecemasan, dan 60% peningkatan koneksi sosial.

Dalam penutupannya, dr Era kembali mengutip Viktor Frankl:
“Segala sesuatu dapat diambil dari manusia kecuali satu hal, kebebasan untuk memilih sikapnya dalam situasi apa pun.”
Refleksi ini menjadi penegasan bahwa pencarian makna adalah fondasi pemulihan yang otentik.
Menuju Psikiatri Holistik
Respons dari komunitas psikiatri internasional terhadap presentasi ini sangat positif. Pendekatan yang menggabungkan evidensi ilmiah, spiritualitas lintas budaya, dan konteks lokal dinilai sebagai langkah penting menuju psikiatri holistik yang lebih manusiawi dan efektif.
Kontribusi dr. Era membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya penerima praktik global, tetapi juga kontributor aktif dalam membentuk masa depan psikiatri dunia yakni satu yang mengakui makna dan spiritualitas sebagai inti dari penyembuhan manusia. (*)
Penulis Rahma Ismayanti Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments