Presisi bukan sekadar berbicara tentang akurasi, nilai, dan angka. Lebih luas dari sekadar akurasi, presisi adalah hasil yang didapat dari proses yang konsisten melalui beragam tantangan.
Ada satu kata yang menyertai puasa, yakni ihtisab. Yaitu aktivitas yang mencerminkan kematangan beragama (religious maturity), sekaligus tanggung jawab dalam beragama.
Beragama secara presisi mensyaratkan adanya kepercayaan (iman) yang dengannya menjadi daya dorong bagi kesungguhan dalam menjalankan ajaran agama.
Pengamalan agama memerlukan pengetahuan. Karena itu ada istilah berilmu sebelum beramal (al-‘ilmu qablal ‘amal).
Bahkan pesan tentang pentingnya ilmu pertama kali disampaikan Allah kepada Rasul-Nya sebelum beliau mengemban tugas kerasulan atau berdakwah.
Beragama secara presisi memerlukan pemahaman yang benar. Karena itu, di samping perlu mendengar dan melihat, juga memerlukan praktik.
Masing-masing memerlukan tata cara (kaifiyat atau manasik) sebagaimana dicontohkan oleh Rasul-Nya.
Beragama secara presisi membutuhkan pengamalan yang sungguh-sungguh sebagai perwujudan dari keyakinan (iman) yang didasarkan pada pengetahuan (ilmu) dan pemahaman.
Ihtisab dalam puasa adalah perwujudan dari nilai kesungguhan (ihsan), di mana puasa merupakan bagian dari tanggung jawab beragama.
Puasa dijalankan bukan sekadar kebiasaan atau rutinitas tahunan. Apalagi jika dijalankan karena keterpaksaan dan pamer (riya), maka seseorang tidak akan memperoleh apa pun karenanya.
Namun ihtisab dalam puasa dimaknai sebagai aktivitas ibadah yang dijalani sepenuh jiwa. Ada kelapangan jiwa karena semata-mata mengharapkan penerimaan (rida) serta berharap memperoleh kebaikan (pahala) dari Allah.
Beragama secara presisi adalah gambaran dari beragama secara bertanggung jawab. Beragama dijalani karena keyakinan, pengetahuan, pemahaman, pengamalan, kesungguhan, serta pengharapan rida dan pahala dari Allah semata. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments