
PWMU.CO – Inti dari puasa Ramadhan adalah menahan diri dari segala perbuatan yang tidak baik dan tercela, termasuk perbuatan yang merugikan umum bahkan negara. “Dan puasa harus didasarkan pada keimanan, bukan lainnya.”
Hal tersebut disampaikan oleh oleh M Nurul Humaidi pada Kajian Ramadhan 1440 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Dome UMM, Sabtu (8/5/19).
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengatakan orang berpuasa harus mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. “Jika tidak mampu menahan hawa nafsunya, maka puasanya tidak sempurna, bahkan bisa juga batal,” ujarnya.
Dia menyoroti fenomena saat ini soal banyaknya pejabat atau orang pintar yang masuk penjara karena tidak mampu menahan hawa nafsunya dengan baik.
“Kita ketahui bersama, banyak orang pintar dan juga pejabat yang masuk penjara karena terjerat kasus korupsi. Ini adalah salah satu bentuk tidak mampunya menahan hawa nafsu yang tidak baik atau tercela, sehingga melakukan tindakan-tindakan yang melawan hati nurani dan juga melawan hukum,” katanya mengingatkan.
Nurul Humaidi yang juga pernah menjadi penceramah di dalam penjara menyampaikan pengalamannya, seharusnya penjara sekarang ini lebih baik dan lebih tercerahkan, karena penghuninya banyak orang pintar dari pejabat publik yang juga paham agama.
“Saya jadi bingung, dulu saya sering ke penjara diundang untuk mengisi ceramah agama Islam kepada napi penghuni penjara, tapi sekarang kok jarang bahkan tidak pernah, ada apa ini?” tanyanya penuh penasaran.
“Eh, ternyata didalam penjara juga banyak penghuni dari kalangan pejabat dan orang pintar, yang nota bene-nya juga ngerti agama, semestinya bisa menularkan ilmu dan pemahamannya tentang agama di dalam penjara,” terangnya.
Nurul Humaidi juga heran, kenapa mereka saat menjadi pejabat juga tidak mampu menahan diri dari hawa nafsunya sehingga melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan umum bahkan negara, dengan melakukan korupsi.
Selain itu, ia juga mengingatkan hadirin agar berpuasa dengan ikhlas hanya karena Allah SWT yang didasarkan pada keimanan. “Niat berpuasa harus didasarkan keimanan kepada Allah SWT, jangan karena yang lainnya. Terutama ibu-ibu, berpuasa jangan karena ingin lebih kurus dan langsing, karena itu adalah nikmat tersendiri,” imbuhnya disambut gerr-gerran oleh ibu-ibu.
“Jika ibu-ibu gemuk jangan sedih tapi harus bersyukur karena pertanda makmur dan subur, dan ibu-ibu yang kurus bisa jadi banyak pikiran beban hidup,” selorohnya, lagi-lagi disambut gemuruh jamaah ibu-ibu.
Selanjutnya, Nurul Humaidi mengajak ribuan jamaah untuk lebih khusuk, hikmat dan nikmat dalam melaksanakan ibadah puasa dengan prinsip menahan diri.
“Jadi, marilah kita berpuasa semua dengan tulus menahan diri dari hawa nafsu perbuatan yang merugikan umum, serta menjerumuskan manusia baik di dunia dan akhirat nantinya,” pesannya di akhir pengajian jelang berbuka puasa tersebut. (Izzudin)






0 Tanggapan
Empty Comments