Akhir perjalanan kehidupan adalah kematian, yang merupakan pintu gerbang menuju alam barzakh (alam kubur) dan meninggalkan kehidupan dunia sementara.
Kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan awal kehidupan baru menuju kekekalan di akhirat. Manusia akan menjalani tahapan selanjutnya: dibangkitkan, dikumpulkan, dihisab, dan menerima balasan atas perbuatannya di dunia
Kekuasaan Allah Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan ujung perjalanan kehidupan, yakni kematian atas diri manusia.
Sehingga sekuat dan sehebat apapun manusia, berkelit, menutupi kebohongan demi kebohongan, berupaya menghindar dari jeratan hukum, kematian itu tetap akan mengejarnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’:78)
Kematian adalah kepastian takdir Allah yang mutlak, tidak dapat dihindari oleh siapapun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun, meskipun bersembunyi di dalam benteng paling kokoh atau menara tinggi.
Ayat ini mengajarkan keberanian, ketawakalan, dan kesadaran bahwa hidup dan mati sepenuhnya di tangan Allah, sehingga ketakutan berlebihan terhadap kematian adalah sia-sia.
Orang yang cerdas akan mengutamakan dan mempersiapkan urusan akhirat yang pasti datang, dan juga urusan dunia tetap diikhtiari sekalipun akan ditinggalkan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ وَلَن يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya, Rabbku. Mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih”. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 9-11)
Oleh karena itu, seseorang hendaklah memanfaatkan masa hidupnya dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan amal shalih sebelum datang kematian.
Bukan malah mengisinya dengan kezaliman demi kezaliman yang akan menambah banyak dosanya. Imam Bukhari meriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar mengatakan: “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” (HR. Bukhari, no. 5.937)
Hadis ini adalah pesan Nabi Muhammad saw kepada Ibnu Umar untuk tidak terlena dengan dunia, memandangnya hanya sebagai tempat persinggahan sementara (seperti musafir), dan segera memaksimalkan amal saleh tanpa menunda-nunda . Manusia diminta memanfaatkan waktu sehat dan hidup sebelum datang sakit dan wafat.
Berikut adalah penjabaran maksud dari hadits tersebut:
• “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir”: Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat perantauan. Seorang asing atau musafir tidak akan membangun rumah mewah atau menetap lama, melainkan fokus mempersiapkan bekal untuk pulang ke tanah air aslinya (akhirat).
• “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh”: Perintah untuk tidak menunda-nunda amal shalih. Anggaplah kesempatan hidup hanya hari ini, karena kematian bisa datang kapan saja tanpa menunggu waktu sore atau pagi.
• “Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu”: Manfaatkan waktu sehat untuk beribadah dan beramal secara maksimal, karena saat sakit, aktivitas tersebut akan terbatas.
• “Ambillah dari hidupmu untuk matimu”: Gunakan waktu selama masih hidup untuk mempersiapkan bekal (iman dan amal shalih) sebelum ajal menjemput, karena setelah mati, kesempatan beramal akan terputus.
Hadis ini mengajarkan sikap zuhud dan waspada terhadap angan-angan panjang umur (thulul amal) adalah inti pendidikan akhlak dalam Islam untuk menciptakan ketenangan jiwa dan fokus pada persiapan akhirat.
Zuhud bukanlah meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan tidak membiarkan dunia menguasai hati.
Hamid Al Qaishari mengingatkan kepada kita, “Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya!
Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya!
Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu nantikan? Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu (Allah) dengan perjalanan yang bagus.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi)
Betapa penting mempersiapkan diri menghadapi kematian, yang merupakan ujung perjalanan kehidupan yang dihadapi setiap insan. Imam Ibnu Majah meriwayatkan:
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا
Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda: “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini!” (HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments