Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pulihkan Trauma Pascabencana, Muhammadiyah Dampingi 600 Warga Sekolah di Sumatera

Iklan Landscape Smamda
Pulihkan Trauma Pascabencana, Muhammadiyah Dampingi 600 Warga Sekolah di Sumatera
Pelatihan dukungan psikososial bagi 600 guru dan siswa terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Sebagai bagian dari fase pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menggelar pelatihan dukungan psikososial bagi 600 guru dan siswa terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Pelatihan ini difokuskan untuk memperkuat ketahanan mental warga sekolah sekaligus memastikan keberlanjutan proses pendidikan pada masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari respons lanjutan Muhammadiyah dalam mendukung pemulihan sektor pendidikan serta kesehatan mental anak pascabencana.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah (LRB) / MDMC dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (PKPLK Kemendikdasmen).

Selain itu, pelatihan mendapat dukungan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, serta melibatkan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yakni Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, Universitas Muhammadiyah Aceh (UMAHA) Bireuen, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), serta Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Koordinator Layanan Dukungan Psikososial Posko Nasional Muhammadiyah Respons Bencana Sumatera, Natta Hendriatti, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas murid dan guru dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana, khususnya akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

“Pada fase transisi menuju pemulihan, anak-anak dan pendidik membutuhkan ruang aman untuk memulihkan kondisi psikososial agar proses pembelajaran dapat kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan,” ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers pada Selasa (6/1/2026).

Pelatihan ini bertujuan membantu murid mengenali perasaan dan kecemasan pascabencana, membekali teknik dasar pengelolaan stres, serta menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak untuk berbagi pengalaman.

Para peserta juga didorong untuk menyusun rencana pemulihan yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun hunian sementara.

Sementara itu, bagi guru, pelatihan difokuskan pada peningkatan pemahaman tentang dukungan psikososial dalam situasi darurat, penguatan keterampilan mendeteksi gejala psikologis pada murid, serta kemampuan menyediakan ruang aman dan pendampingan yang efektif pada masa pemulihan.

Guru juga dibekali untuk menyusun rencana aksi pemulihan guna menjaga keberlanjutan layanan pendidikan di sekolah terdampak.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dan fasilitator dari MDMC serta kalangan profesional, di antaranya Budi Santoso, Zakarija Achmat, Elisa Kurniadewi, Psikolog, serta Natta Hendriatti.

Kegiatan ini diikuti oleh 600 peserta yang terdiri atas 200 siswa dan 400 guru dari satuan pendidikan negeri maupun swasta di wilayah terdampak bencana.

Melalui pelatihan ini, MDMC berharap murid memiliki kemampuan mengelola kecemasan dan stres pascabencana serta mampu menyusun rencana pemulihan pribadi yang mendukung kesejahteraan psikososial.

Adapun bagi guru, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat peran pendidik sebagai pendamping pemulihan anak, sekaligus memastikan layanan pendidikan tetap berjalan secara aman, ramah anak, dan berkelanjutan pada masa transisi menuju pemulihan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu