Suasana ruang Kepala SMKN 12 Surabaya pada 10 November lalu terasa berbeda. Di tengah aroma upacara Hari Pahlawan yang masih terasa di seluruh penjuru kota, sekelompok orang berkumpul dalam sebuah seremoni sederhana namun penuh makna.
Di ruangan itu, Bambang Sulistomo — putra sang pahlawan nasional Bung Tomo — meresmikan sebuah karya unik hasil kreativitas siswa: “Radio Bung Tomo.”
Peresmian berlangsung tanpa gegap gempita, tapi sarat emosi dan kebanggaan. Di hadapan Kepala SMKN 12 Drs. Cone Kustarto Arifin, para guru, dan perwakilan komunitas budaya Puri Aksara Rajapatni, Bambang Sulistomo menekan tombol “On” pada radio bergaya vintage itu.
Seketika terdengar suara lantang ayahandanya, Bung Tomo, menggelegar memenuhi ruangan: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Saudara-saudara, kita sekarang berada dalam suasana genting!”
Suara itu seakan menembus ruang dan waktu, membawa hadirin kembali ke Surabaya 1945, ketika semangat arek-arek Surabaya membara melawan penjajah.
Menjaga Ingatan Kolektif
Gagasan pembuatan “Radio Bung Tomo” bermula dari keresahan. Tahun 2016, rumah bersejarah di Jalan Mawar No. 10, tempat Bung Tomo menyiarkan pidato perjuangan, dibongkar. Sejak itu, tidak ada lagi penanda fisik dari lokasi bersejarah tersebut.
Saya selaku Ketua Puri Aksara Rajapatni, mengaku kehilangan momentum sejarah yang selalu ia liput setiap Hari Pahlawan.
Sebelum 2016, tiap tahun saya selalu datang ke lokasi itu. Tapi setelah dibongkar, tak ada lagi liputan karena tetenger peristiwa pidato Bung Tomo sudah hilang.
Kehilangan itu melahirkan tekad baru: menjaga ingatan kolektif melalui karya. Maka lahirlah ide untuk membuat radio modern yang bukan sekadar alat elektronik, tetapi simbol perlawanan dan pelestarian sejarah.
Ide itu kemudian disambut oleh SMKN 12 Surabaya, sekolah yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan teknologi menengah di kota ini.
Kepala SMKN 12 Cone Kustarto Arifin melihat potensi besar kolaborasi antara Puri Aksara Rajapatni dan anak-anak didiknya.
“Radio Bung Tomo ini lahir dari kolaborasi antara gagasan dan keterampilan. Gagasannya dari Puri Aksara Rajapatni, sementara skill-nya dari siswa kami,” ujarnya.
Dibimbing Sigit, guru SMKN 12, para siswa jurusan perkayuan, mulai merancang radio dengan desain klasik.
Namun, radio ini memiliki satu keistimewaan: ketika dinyalakan, bukan siaran biasa yang terdengar, melainkan rekaman pidato Bung Tomo tahun 1945. Setelah itu, radio dapat digunakan seperti radio AM dan FM biasa.
Peresmian yang Sarat Makna
Peresmian “Radio Bung Tomo” dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November. Selain Bambang Sulistomo dan Cone Kustarto, hadir pula pembina Puri Aksara Rajapatni, A. Hermas Thony, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya (2019–2024).
Thony, yang dikenal sebagai pemerhati sejarah perjuangan Surabaya, menuturkan bahwa pembongkaran rumah Radio Bung Tomo pernah menjadi titik balik dalam karier politiknya.
“Saya kembali ke DPRD saat itu karena merasa terpanggil. Saya menginisiasi Raperda Pemajuan Kebudayaan Kejuangan dan Kepahlawanan Surabaya agar situs-situs perjuangan kita tidak punah,” ujarnya penuh semangat.
Untuk menandai kelahiran Radio Bung Tomo, digelar syukuar atas “kelahiran” sesuatu yang baru. Di sela aroma tumpeng dan doa-doa, seluruh hadirin memanjatkan harapan agar karya ini menjadi pengingat abadi akan nilai-nilai kejuangan Bung Tomo.
Radio ini bukan hanya benda, melainkan simbol. Ia adalah jembatan antara generasi yang hidup di masa kemerdekaan dan generasi yang tumbuh di era digital.
Dalam sambutannya, Bambang Sulistomo tampak terharu melihat semangat anak-anak muda Surabaya menjaga warisan perjuangan ayahnya.
“Bangsa besar adalah bangsa yang mengenang jasa para pahlawannya,” ujarnya.
“Saya salut kepada teman-teman di Surabaya yang menjaga ingatan kolektif tentang perjuangan Bapak saya. Rumah bersejarah itu memang tiada, tapi semangat kejuangan tidak akan pernah hilang. Perjuangan harus ikhlas,” imbuh dia.
Bambang juga meninjau workshop pembuatan radio, melihat langsung proses produksi yang dilakukan para siswa. Dia kagum pada kerapian dan ketelitian mereka.
“Meski ini sekolah, tapi fasilitasnya seperti industri kecil. Luar biasa,” katanya sambil tersenyum.
Menghidupkan Suara yang Tak Pernah Padam
Ketika “Radio Bung Tomo” dinyalakan, terdengar suara Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya. Suara itu tidak hanya bergema dari pengeras suara, tapi juga di dada setiap pendengarnya.
Mendengarkan pidato itu lewat karya siswa masa kini memberi pengalaman yang unik — seolah menyatukan masa lalu dan masa depan dalam satu frekuensi perjuangan.
Setelah pidato berakhir, radio bisa digunakan seperti biasa, seakan mengingatkan bahwa sejarah bukanlah kenangan mati, tetapi inspirasi yang terus hidup.
“Radio Bung Tomo” bukan sekadar perangkat elektronik. Ia adalah bentuk nyata bahwa sejarah bisa dihidupkan kembali lewat inovasi dan kolaborasi lintas generasi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, karya ini menjadi pengingat bahwa teknologi pun bisa menjadi alat pelestarian nilai — bukan penghapusnya.
Bambang Sulistomo menutup acara dengan pesan sederhana namun menggugah:
“Jangan biarkan semangat itu padam. Bung Tomo bukan sekadar nama jalan atau patung di taman kota. Ia adalah api perjuangan yang harus dijaga oleh generasi muda.”
Dan pada hari itu, di sebuah sekolah kejuruan di Surabaya, api itu menyala lagi — lewat sebuah radio kecil bernama “Radio Bung Tomo.” (*)






0 Tanggapan
Empty Comments