Selama ini banyak umat Islam berpendapat masyarakat Mekkah sesaat sebelum kenabian Muhammad adalah penyembah berhala. Bukan Tuhan pencipta alam semesta. Anggapan penyembah berhala (paganisme) ini salah satunya muncul karena Ka’bah dikelilingi banyak berhala.
“Ka’bah dikelilingi 360 berhala yang kemudian dihancurkan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 630 M, begitu tulis Ali Mufrodi dalam Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Bahkan ada yang menyatakan masyarakat Quraisy saat itu tidak percaya kepada Tuhan.
Padahal merujuk pada ayat-ayat al-Quran, sangat jelas orang-orang kafir Quraisy itu bukan tak percaya kepada Tuhan. Dzat pemilik bangunan Ka’bah. Kepercayaan pada Tuhan ini direkam al-Quran dengan istilah pencipta langit dan bumi (QS 39: 38), serta Tuhan pemilik Ka’bah (QS 106: 3).
“Hanya saja mereka memandang Allah sebagai Tuhan Tertinggi tidak bisa langsung digapai oleh manusia. Harus ada tuhan-tuhan kecil yang lebih rendah sebagai pendamping sekaligus perantara,” jelas Jonathan P. Berkey dalam buku Formation of Islam: Religion and Society in the Near East 600-1800. Keyakinan tentang washilah ini juga direkam al-Quran QS al-Ankabut ayat 65 dan QS az-Zumar ayat 3.
Tauhid “rububiyyah” ini juga dicatat oleh dua sahabat Nabi, ‘Ikrimah dan Ibn ‘Abbas. Menurut dua tokoh ini, masyarakat jahiliyyah sebenarnya mengetahui bahwa Allah-lah Tuhan yang sesungguhnya. “Tapi mereka tetap menyekutukan-Nya dengan cara menyembah Allah melalui perantara,” tulis Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari dalam Tafsir al-Tabariy, Juz 16 halaman 286.
Inti kepercayaan berhala sebagai perantara menuju Tuhan ini juga jadi keyakinan Abu Sufyan bin Mu’awiyyah –sebelum memeluk Islam. Menanggapi kabar dari rahib akan datangnya nabi, dia menuduh para rahib itu tidak mengerti soal agama sehingga membutuhkan Nabi. “Masyarakat Mekkah sudah mempunyai banyak berhala yang bisa mendekatkan mereka kepada Tuhan sehingga tidak memerlukan nabi,” kata Abu Sufyan yang ditulis Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad Edisi Digital.
Keyakinan masyarakat Mekkah pra-Islam ini juga dibenarkan oleh para peneliti Barat seperti Martin Ling dan Marshall G.S. Hodgson. Termasuk keyakinan mereka bahwa Allah juga mempunyai “anak” malaikat. “Karena itu, mereka membuat berhala-berhala yang diakuinya sebagai malaikat sebagai perantara penyembahan kepada Tuhan,” tulis Manna’ Khalil al-Qathtan, dalam Tafsir al-Qaththan, Juz 1 halaman 341.
Masyarakat Mekkah sebelum Muhammad juga telah mengenal Allah sebagai nama Tuhan. Karena itu, ketika periode awal kenabian, al-Quran menyebut nama Tuhan dengan kata “rabbuka (Tuhanmu)”, bukan “Allah”. Dalam tiga wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, QS al-‘Alaq (1-5), QS al-Mudaththir (1-10), dan QS al-Dluha (1-11), kata rabbak dan yang semakna terdapat 7 buah. Yaitu masing-masing dua di al-‘Alaq (1 dan 3) dan al-Mudaththir (3 dan 7), dan tiga dalam QS al-Dluha (3, 5, dan 11).
Tentu ada tujuannya, yaitu meluruskan keyakinan masyarakat Mekkah. Penghilangan kata Allah pada wahyu-wahyu pertama ini juga untuk membedakan “Tuhannya” Muhammad dan Tuhan yang dimaksud masyarakat Mekkah umumnya. “Tuhan Muhammad tidak membutuhkan pendamping atau perantara, sementara sebagian masyarakat Mekkah berkeyakinan sebaliknya,” tulis M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.
Masyarakat Mekkah secara fisik memang menyembah berhala dan juga melakukan berbagai pengorbanan dan ritual. Tetapi tujuan utama mereka adalah Tuhan. Karena itu Jonathan P. Berkey menyebut bahwa Paganisme yang dipraktikkan masyarakat Mekkah sebenarnya juga tidak lepas dari agama Ibrahim, hanifiyyah.
“Hanya saja dengan perkembangannya terdapat ragam improvisasi dan inovasi sebagai hasil perjumpaan dengan agama dan budaya lain, sehingga terjadi penyelewengan,” tulis Jonathan P. Berkey.
Kronologi perubahan ajaran hanifiyyah ini terjadi saat Suku Khaza’ah memimpin Mekkah, dengan pemimpinnya Amr bin Luhay. Suatu hari, dia melakukan perjalanan ke Syam. Di sana dia melihat penduduknya menyembah berhala. Dia pun menganggapnya sebagai sesuatu yang baik karena Syam adalah tempat para Rasul dan kitab.
“Ketika dia pulang, maka dia membawa sebuah patung dan meletakkannya dekat Ka’bah. Ia memerintahkan penduduk Mekkah untuk memuliakannya,” tulis Sayed Abul Hasan Ali Nadwi dalam Muhammad The Last Prophet: A Model For All Time.
Pada sisi lain, masyarakat Mekkah juga senang memuliakan batu-batu yang ada di sekeliling Ka’bah. Ketika bepergian, mereka selalu membawa batu tersebut untuk kemudian thawaf mengelilingi batu yang dibawanya itu. Setelah tahunan, batu dari sekitar Ka’bah yang dibentuk menjadi patung itu berada di berbagai tempat. “Patung-patung dan berhala itu mereka kumpulkan di sekitar Ka’bah,” tambah Sayed Abul Hasan Ali Nadwi.
Sementara inti dari hanifiyyah tentang keesaan Allah swt adalah sama dengan ajaran Islam yang didakwahkan Muhammad. Untuk mengambil kesimpulan yang kedua ini, Berkey menggunakan kalimat yang cukup hati-hati.“…In this light, the phenomenon of the hanifiyya might indicate, once again, that Islam’s origins, even in the Arabian environment, were very much a part of wider religious patterns embracing the whole of the Near East…”.
Menurut Abu ‘Ubaydah, kelompok hanifiyyah adalah orang-orang yang mengikuti ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Kemudian pengikut agama ini diidentikkan dengan mereka yang melaksanakan khitan dan berhaji,” jelas Abu ‘Ubaydah dalam Majaaz al-Qur’aan Juz I halaman 12.
Di antara penganutnya adalah Zayd bin ‘Amr, Ustman bin al-Huwayrisy, ‘Ubaydillah bin Jahsy, dan Waraqah bin Nawfal. Selain tidak mau beribadah yang melalui perantara, keempatnya juga mengembara ke berbagai wilayah untuk menemukan hakikat beribadah kepada Tuhan. “Zayd bin ‘Amr pergi ke Syria dan Iraq, Ustman menempuh perjalanan ke Romawi Timur, sementara Waraqah hijrah ke Ethopia,” tulis Muhammad Husain Haekal.
Berbagai fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mekkah sebenarnya kaum beriman. Hanya saja keberimanan ini tidak dibarengi dengan keunggulan dalam ilmu. Sehingga sikap baik ini justru berakibat pada penyekutuan Tuhan. Kehilangan tauhid sebagai ruh kehidupan membuat mereka terjebak pada perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan Allah SWT.
Meski demikian, “keteguhan” kepercayaan mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya menjadi poin penting yang cukup penting dijadikan i’tibar untuk kaum beriman kekinian.






0 Tanggapan
Empty Comments