Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rahasia Flipped Classroom yang Bikin PR Tak Lagi Menakutkan

Iklan Landscape Smamda
Rahasia Flipped Classroom yang Bikin PR Tak Lagi Menakutkan
Flipped classroom. (Istimewa/WPMU.CO)
pwmu.co -

Di era digital seperti sekarang, belajar tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Kelas bukan lagi satu-satunya tempat untuk mencari ilmu. Teknologi telah membuka peluang baru dalam proses belajar-mengajar.

Siswa bisa belajar dari mana saja, kapan saja, dan dengan cara yang lebih menarik. Guru pun tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami informasi dari berbagai sumber.

Dalam konteks inilah muncul konsep flipped classroom, atau “kelas terbalik”, sebuah pendekatan yang membalik pola belajar tradisional. Jika biasanya guru mengajar di kelas lalu memberi PR di rumah, maka dalam kelas terbalik, siswa justru belajar materi di rumah dan menggunakan waktu di kelas untuk berdiskusi, memecahkan masalah, dan memperdalam pemahaman.

Model ini dianggap lebih relevan dengan gaya belajar generasi digital yang terbiasa dengan informasi visual dan interaktif. Video pembelajaran, podcast, maupun modul digital menjadi sumber utama untuk belajar di rumah. Siswa dapat mengulang penjelasan guru berkali-kali sampai benar-benar paham.

Ini tentu berbeda dengan kelas konvensional, di mana ketika penjelasan guru terlewat, siswa sulit mengejar. Dengan flipped classroom, mereka datang ke kelas sudah memiliki gambaran dasar tentang materi yang akan dibahas. Hasilnya, waktu di kelas tidak lagi dihabiskan untuk mendengar ceramah panjang, tetapi untuk berdebat sehat, tanya jawab, hingga praktik langsung.

Flipped Classroom

Flipped classroom muncul karena banyak guru dan peneliti pendidikan merasa sistem konvensional mulai kehilangan daya tariknya. Pola lama yang berpusat pada guru (teacher-centered) sering membuat siswa pasif dan cepat bosan. Banyak di antara mereka mengerjakan PR hanya untuk menggugurkan kewajiban, bukan untuk memahami konsep.

Padahal, inti dari pendidikan adalah bagaimana siswa bisa belajar secara bermakna. Dengan membalik proses belajar, PR yang dulunya menjadi beban kini justru menjadi bagian penting dari persiapan belajar. Siswa tidak lagi merasa dikejar tugas, tetapi tertantang untuk memahami materi agar bisa berpartisipasi aktif di kelas.

Pendekatan ini menghidupkan kembali semangat belajar yang mandiri dan kolaboratif. Siswa belajar dengan kecepatan mereka sendiri, namun tetap mendapatkan bimbingan langsung ketika berada di kelas.

Guru tidak lagi sibuk menulis di papan tulis atau membaca slide presentasi, melainkan mendampingi siswa yang mengalami kesulitan dan memberi contoh penerapan nyata dari konsep yang dipelajari. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih efektif, menyenangkan, dan sesuai dengan tantangan zaman digital.

Pendekatan ini juga melatih kemandirian belajar siswa. Di rumah, mereka harus mengatur waktu sendiri untuk menonton video atau membaca materi. Hal ini menumbuhkan tanggung jawab dan kebiasaan belajar mandiri yang sangat penting di abad ke-21.

Selain itu, siswa bisa mengulang materi kapan pun jika belum paham, karena bahan belajar digital mudah diakses kapan saja. Ini berbeda dengan kelas tradisional, di mana kesempatan memahami ulang penjelasan guru sangat terbatas.

Penerapan Flipped Classroom

Bagi guru, penerapan flipped classroom membuka ruang baru dalam praktik mengajar. Guru tidak lagi menjadi pusat perhatian di depan kelas, tetapi berperan sebagai fasilitator yang menuntun siswa menemukan pemahamannya sendiri. Peran ini membuat proses belajar menjadi lebih dinamis. Guru dapat lebih fokus memperhatikan siswa yang membutuhkan bantuan, bukan sekadar menyampaikan materi dari awal hingga akhir.

Dalam suasana seperti ini, interaksi antara guru dan siswa menjadi lebih hangat dan bermakna. Diskusi, tanya jawab, dan pemecahan masalah menggantikan suasana ceramah satu arah yang sering membuat siswa pasif. Dengan begitu, kelas berubah menjadi ruang kolaboratif tempat ide-ide tumbuh dan rasa ingin tahu berkembang.

Selain itu, guru memiliki kesempatan untuk memberi umpan balik secara langsung selama kegiatan belajar berlangsung. Misalnya, saat siswa mengerjakan proyek atau memecahkan soal di kelas, guru bisa segera mengoreksi kesalahan konsep dan memberikan arahan.

Proses ini tidak hanya membantu siswa memahami materi lebih cepat, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Guru tidak lagi sekadar menjadi pengajar, melainkan mitra belajar yang berjalan bersama siswa dalam proses menemukan pengetahuan.

Namun, penerapan flipped classroom tentu tidak bisa dilakukan begitu saja. Diperlukan kesiapan dari berbagai pihak. Guru harus memiliki keterampilan digital yang memadai agar mampu menyiapkan materi pembelajaran daring seperti video, modul interaktif, atau presentasi singkat yang bisa diakses siswa di rumah.

Sementara itu, siswa juga perlu disiplin dan tanggung jawab untuk belajar mandiri tanpa selalu menunggu arahan guru. Tantangan terbesar justru terletak pada fasilitas. Tidak semua sekolah memiliki akses internet stabil atau perangkat yang memadai. Hal ini menjadi pengingat bahwa inovasi pembelajaran harus selalu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing sekolah.

Cara Pandang Belajar

Meski demikian, semangat utama dari flipped classroom tetap bisa diterapkan dalam berbagai situasi. Esensinya bukan pada teknologi, melainkan pada perubahan cara pandang terhadap belajar. Siswa diajak menjadi subjek aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar penerima informasi.

Guru pun menjadi pembimbing yang membantu mereka mengaitkan teori dengan kenyataan. Dengan semangat ini, flipped classroom bisa menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih mandiri, interaktif, dan relevan dengan tantangan zaman.

Tim Pengabdian Universitas Muhammadiyah Surabaya yang dipimpin oleh Wiwi Wikanta menilai bahwa model flipped classroom dapat menjadi solusi nyata untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa di era digital, terutama di daerah yang mulai beradaptasi dengan pembelajaran berbasis teknologi.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, tim ini menemukan bahwa pendekatan kelas terbalik tidak hanya membantu siswa memahami materi lebih baik, tetapi juga meningkatkan keaktifan mereka selama proses belajar. Menurut Wiwi, ketika siswa diberi kesempatan mempersiapkan diri di rumah, mereka datang ke kelas dengan rasa ingin tahu yang lebih tinggi, sehingga diskusi menjadi lebih hidup dan bermakna.

“PKM yang didanai DPPM Ditjen Riset dan Pengembangan Kementerian Diktisaintek Batch III Tahun 2025 ini, dengan No. Kontrak: 006/LL7/DT.05.00/PM-BATCH III/2025, tidak berhenti hanya sekedar PKM, tetapi harus diimplementasikan secara berkelanjutan di kelas sekolah masing-masing anggota MGM,” pungkas Wiwi. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu