Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rahasia Puasa: Bersihnya Sel, Matangnya Jiwa

Iklan Landscape Smamda
Rahasia Puasa: Bersihnya Sel, Matangnya Jiwa
Dr. M. Saad Ibrahim, MA menyampaikan ceramah di engajian Ahad Pagi PDM Kabupaten Jember. Foto: Muhammad Fajar Al Amin/PWMU.CO
pwmu.co -

Puasa Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan proses penyembuhan tubuh sekaligus pembinaan jiwa.

Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, KH. Dr. M. Saad Ibrahim, MA, dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jember, Ahad (8/2/2026).

Dalam ceramah bertema “Menyambut Ramadan: Puasa dan Kesehatan” tersebut, Saad menjelaskan bahwa ajaran puasa dalam Islam memiliki dimensi spiritual yang kuat sekaligus selaras dengan temuan ilmiah modern.

Pengajian yang berlangsung pukul 06.00–07.30 WIB di Kantor PDM Kabupaten Jember, Jalan Bondoyudo No. 7 Jemberlor, Patrang, itu diikuti jajaran pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, pimpinan amal usaha, serta warga Muhammadiyah dengan antusias.

Dalam pemaparannya, Kiai Saad, begitu panggian mengaitkan praktik puasa dengan riset ilmiah tentang autophagy yang meraih Hadiah Nobel pada 2016.

Dia menjelaskan bahwa saat tubuh tidak menerima asupan dalam waktu tertentu, terjadi proses pembersihan sel secara alami.

“Puasa mengondisikan tubuh berada pada fase tanpa asupan dalam waktu tertentu. Kondisi ini memicu proses autophagy, yakni mekanisme sel untuk membersihkan bagian-bagian yang rusak dan mendaur ulangnya menjadi sel yang lebih sehat,” jelasnya.

Menurut Kiai Saad, durasi puasa Ramadan yang lebih panjang dari delapan jam justru memberi ruang optimal bagi tubuh untuk melakukan proses pemulihan alami.

Namun, dia mengingatkan agar puasa tidak disalahpahami sebagai ajang pelampiasan saat berbuka.

“Islam mengajarkan berbuka dengan cara yang proporsional. Diawali dengan makanan ringan seperti kurma dan minuman manis secukupnya, lalu dilanjutkan setelah salat magrib. Jika berbuka dilakukan berlebihan, justru manfaat kesehatannya bisa berkurang,” tegasnya.

Selain aspek kesehatan fisik, Saad menekankan hikmah puasa dari sisi pembinaan jiwa. Merujuk pada pemikiran Yusuf al-Qaradawi, dia menyebutkan nilai-nilai utama puasa seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), pembentukan kesabaran, dan penguatan kemauan (tarbiyatul iradah).

“Puasa melatih manusia mengendalikan diri, tidak reaktif, dan lebih responsif dalam menyikapi persoalan hidup. Dari sinilah lahir kesabaran dan kematangan jiwa,” ujarnya.

Kiai Saad menegaskan, puasa sejatinya adalah sarana membangun mindset dan kedewasaan spiritual.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Al-Qur’an dan sunnah Nabi, menurutnya, tidak hanya memerintahkan puasa, tetapi juga mengajarkan cara mengelola jiwa agar tidak mudah bereaksi secara emosional.

“Puasa melatih kita untuk tidak tergesa-gesa dalam merespons sesuatu. Tidak semua hal harus langsung ditanggapi dengan reaksi. Ada perbedaan antara reaktif dan responsif, dan puasa mendidik kita untuk bersikap bertanggung jawab dalam merespons,” ungkapnya.

Kiai Saad kemudian mengaitkan pelajaran kesabaran tersebut dengan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan pentingnya menahan diri, mendengarkan penjelasan, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Kata dia, Ramadan adalah momentum terbaik untuk melatih kesabaran tingkat tinggi, baik dalam ibadah maupun kehidupan sosial.

Puasa, imbuh Kiai Saad, juga mengajarkan empati sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, seorang Muslim diajak memahami kondisi fakir dan miskin sehingga tumbuh kepedulian dan solidaritas kemanusiaan.

“Islam itu ajaran yang ramah dan membawa kebaikan universal. Puasa bukan hanya baik bagi umat Islam, tetapi juga relevan bagi siapa saja dari sisi kesehatan dan pembentukan karakter,” terangnya.

Selain itu, rasa lapar dan dahaga membuat seseorang lebih menyadari nikmat Allah yang selama ini kerap dianggap biasa.

“Ketika nikmat itu Allah cabut sementara, barulah kita sadar betapa berharganya. Dari situ tumbuh rasa syukur yang lebih dalam,” jelasnya.

Menutup pengajian, Kiai Saad mengajak jamaah menjadikan Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pembinaan jiwa dan raga secara utuh.

Dengan puasa yang dijalankan secara benar, diharapkan lahir pribadi-pribadi Muslim yang sehat, sabar, berkemauan kuat, serta memiliki empati sosial yang tinggi. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu