Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur terus memperkuat perannya dalam menghadirkan dakwah Islam yang inklusif, membumi, dan menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) LDK PWM Jawa Timur yang digelar selama dua hari, Sabtu–Ahad (20–21/12/2025), di Kota Batu, Malang.
Rakerpim yang diikuti seluruh personalia LDK PWM Jatim ini mengusung tema “LDK Mencerahkan untuk Membangun dan Menyejahterakan Bangsa”, sebagai refleksi arah dakwah Muhammadiyah yang tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga sosial dan kesejahteraan umat.
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jawa Timur, Akhmad Tolhah, dalam sambutannya menegaskan, dakwah Muhammadiyah sejak awal hadir untuk semua lapisan masyarakat, khususnya mereka yang berada di wilayah-wilayah rentan dan terpinggirkan.
“Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah Islam di masyarakat adalah untuk semua, guna mencerahkan sekaligus menyejahterakan. LDK hadir di ruang dakwah yang inklusif, terutama pada komunitas-komunitas yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah yang utuh, baik secara spiritual, sosial, maupun kesejahteraan,” ujar Akhmad Tolhah.
Dia menjelaskan, Rakerpim menjadi momentum strategis untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap capaian program LDK sepanjang tahun 2025, sekaligus menyusun agenda dan langkah dakwah yang lebih terarah untuk tahun 2026.
“Rakerpim ini sangat penting untuk mengevaluasi program-program yang telah kita jalankan selama 2025 dan menyusun agenda dakwah 2026 agar lebih terukur, berkelanjutan, dan memberi dampak langsung,” imbuhnya.
Dakwah pada Komunitas Rentan
Akhmad Tolhah menuturkan, objek dakwah LDK PWM Jatim mencakup beragam komunitas dengan karakter dan kebutuhan khusus, mulai dari anak jalanan, mualaf, pejuang damai eks narapidana terorisme, penyandang disabilitas, hingga komunitas marginal lainnya.
Keragaman tersebut, menurutnya, menuntut sinergi dakwah yang berkesinambungan serta pendekatan yang tidak seremonial, tetapi benar-benar menyentuh akar persoalan.
“Dakwah LDK menyasar berbagai komunitas. Karena itu, diperlukan sinergi dakwah yang berkelanjutan, tidak parsial, dan tidak berhenti pada kegiatan simbolik,” tegasnya.
Ia kemudian mengaitkan semangat dakwah tersebut dengan teladan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang berdakwah secara total kepada kaum dhuafa.
“KH Ahmad Dahlan berdakwah dengan sangat total kepada masyarakat dhuafa, bukan sekadar seremonial. Semangat inilah yang ingin kita hidupkan kembali melalui Rakerpim ini, agar lahir ide-ide program dakwah berkelanjutan yang memberi kemanfaatan langsung bagi umat,” ujarnya.
Lima Kekuatan Dakwah Muhammadiyah
Sementara itu, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. Sholihin Fanani, yang membidangi LDK, dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kapasitas personalia LDK agar dakwah yang dijalankan semakin bermakna dan berdampak luas.
“Personalia LDK perlu terus meningkatkan peran dakwahnya. Itu artinya, wawasan dan kemampuan dakwah harus terus diperluas agar dakwah yang dilakukan benar-benar berarti,” katanya.
Sholihin memaparkan lima kekuatan utama Muhammadiyah yang harus dimaksimalkan untuk mengoptimalkan dakwah, khususnya di lingkungan LDK.
Pertama, Manhaj Muhammadiyah. Menurutnya, pemahaman dan penerapan manhaj Muhammadiyah harus tuntas, terutama di level wilayah.
“Faham agama dalam Muhammadiyah harus benar-benar kita terapkan. Di tingkat wilayah, manhaj ini seharusnya sudah matang dan tuntas,” tegasnya.
Kedua, Man Power (SDM). Ia menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada pengurusnya, terutama pada gagasan dan ide-ide yang lahir dari para penggerak dakwah.
“Kekuatan Muhammadiyah ada di pengurusnya. Ide-ide pengurus inilah yang diharapkan memberi sumbangsih bagi kemajuan organisasi, umat, dan bangsa,” ujarnya.
Ketiga, Manajemen, yang menurutnya berakar pada kepemimpinan. Inti kepemimpinan adalah komunikasi, dan inti komunikasi adalah keikhlasan.
“Manajemen itu intinya leadership. Leadership intinya komunikasi. Dan komunikasi intinya adalah keikhlasan,” jelasnya.
Keempat, Meritokrasi, yakni keunggulan kualitas kader Muhammadiyah yang cerdas, berilmu, dan ikhlas dalam berjuang.
“Muhammadiyah diisi oleh orang-orang yang berkualitas, pintar, dan ikhlas berjuang. Ciri orang yang tidak ikhlas adalah tidak bisa aktif dan tidak bisa berkontribusi,” tandasnya.
Kelima, Mutualisme atau kebermanfaatan (khoirunnas). Menurutnya, organisasi harus memberi manfaat, baik untuk internal maupun masyarakat luas.
“Organisasi itu manfaatnya ada dua, untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain. Itulah hakikat khoirunnas,” ujarnya.
Sholihin juga mengingatkan kembali cita-cita besar KH Ahmad Dahlan yang menjadi fondasi gerakan dakwah Muhammadiyah, antara lain menjadikan sendi kehidupan berlandaskan agama, mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin umat, membangun masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT, serta mengantarkan umat pada keselamatan dunia dan akhirat.
Dia menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah memiliki empat karakter utama, yakni mencerahkan, mencerdaskan, menggembirakan, dan memberdayakan.
Dia juga menyampaikan harapan besar agar LDK PWM Jawa Timur pada tahun 2026 semakin solid, produktif, dan luas jejaring dakwahnya.
“Selamat melaksanakan Rakerpim. Semoga di tahun 2026 kegiatan LDK Jatim semakin banyak, semakin kompak, jejaring dakwah makin luas, dan penguatan sinergi terus dilakukan,” pungkasnya.
Melalui Rakerpim ini, LDK PWM Jawa Timur meneguhkan komitmennya untuk terus menghadirkan dakwah yang berorientasi pada pencerahan, pemberdayaan, dan kesejahteraan, sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments