Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) sekaligus sosialisasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) di Universitas Muhammadiyah Gresik, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ketua MTT PWM Jatim Prof. Dr. Achmad Zuhdi, M.Fil.I., Sekretaris MTT PWM Jatim Dr. Dian Berkah, M.H.I., serta keynote speech oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur Dr. Syamsuddin. Sosialisasi KHGT diisi oleh narasumber Ir. Amirul Muslihin, Drs. Muhammad Syarif, M.Ag., dan Andi Sitti Mariyam, M.Si.
Rakerwil ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk menyelaraskan program kerja Majelis Tarjih dan Tajdid tingkat wilayah dan daerah se-Jawa Timur agar memiliki kesamaan tujuan, sasaran, serta waktu pelaksanaan pada 2026 M/1447 H. Selain memplenokan program kerja PWM, forum ini juga membuka ruang usulan dari MTT PDM kabupaten/kota guna memperkuat agenda strategis sepanjang tahun.
Forum ini juga bertujuan mempererat silaturahim antarpengurus, menginventarisasi masukan dari daerah, serta memastikan rencana program dapat direalisasikan sebagai acuan bersama. Sosialisasi KHGT menjadi agenda penting mengingat penentuan awal Ramadhan 1447 H semakin dekat.
Dalam sambutannya, Prof. Zuhdi menegaskan bahwa program kerja tidak boleh berhenti pada daftar administratif, tetapi harus menjadi momentum dakwah nyata di tengah masyarakat.
Ia menekankan pentingnya pengorbanan, komitmen, dan perencanaan yang matang agar kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah yang masih minim aktivitas dakwah. Kolaborasi anggaran dan program antardaerah, menurutnya, dapat membantu mengangkat potensi wilayah kecil agar lebih dikenal luas.
Dalam pidato kunci, Dr. Syamsuddin menjelaskan bahwa gagasan kalender Hijriah global telah lama muncul dalam sejarah Islam, namun belum terealisasi secara menyeluruh. Padahal, kalender merupakan salah satu penopang peradaban umat manusia.
Selama lebih dari 15 abad, umat Islam belum memiliki kalender tunggal yang disepakati dunia, sehingga penentuan awal Ramadhan atau Syawal kerap menunggu sidang isbat. Melalui KHGT, umat diharapkan lebih mandiri karena penanggalan dapat diketahui jauh hari melalui perhitungan astronomi.
Syamsuddin juga mengingatkan pentingnya membedakan antara nilai universal syariat dan praktik partikular dalam sejarah. Metode hisab astronomis, menurutnya, merupakan bagian dari ijtihad ilmiah yang sejalan dengan semangat syariat untuk memudahkan umat.
Ia menambahkan, aktivitas Majelis Tarjih di tingkat daerah perlu ditingkatkan agar tidak hanya bergantung pada kegiatan wilayah. Konsolidasi rutin diyakini dapat memperkuat rasa kebersamaan, memperluas dampak dakwah, serta memberi efek positif pada bidang ekonomi dan keilmuan masyarakat.
Rakerwil ini diharapkan menghasilkan program kerja yang terintegrasi dan aplikatif bagi seluruh Majelis Tarjih se-Jawa Timur, sekaligus memperkuat pemahaman tentang KHGT menjelang Ramadhan. Dengan demikian, keputusan keagamaan dapat dipahami secara ilmiah, sistematis, dan seragam di kalangan warga Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments