Ramadan selalu menyuguhkan kurikulum kehidupan yang sederhana namun sarat makna.
Setiap detiknya adalah madrasah ruhani.
Saat sahur, kita diajak menyelami rasa syukur atas kecukupan yang ada.
Di siang hari, puasa menempa kesabaran dan pengendalian diri.
Lalu, ketika azan Magrib berkumandang, kita merayakan nikmatnya menunggu—sebuah latihan sunyi yang mendewasakan jiwa untuk menghargai proses, bukan sekadar hasil.
Namun, di tengah kemuliaan bulan suci ini, terselip sebuah refleksi menarik yang mengemuka saat saya memberikan kultum di Musholla Al-Jihad, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Giri Gajah, Gresik, pada malam ke-20 Ramadan 1447 H.
Refleksi itu berpusat pada sebuah istilah kontemporer: Rojali dan Rohana.
Di telinga masyarakat umum, Rojali dan Rohana bukanlah sepasang kekasih dalam roman picisan.
Rojali adalah akronim dari Rombongan Jarang beLi.
Sedangkan Rohana adalah Rombongan Hanya Nanya.
Istilah ini awalnya merupakan satire atau kritik sosial terhadap fenomena di pusat perbelanjaan.
Orang-orang datang berbondong-bondong memenuhi mal, melihat-lihat etalase, membandingkan harga, namun tidak melakukan transaksi apa pun.
Pengamat ekonomi menyebut fenomena ini dipicu oleh dua hal: satu, daya beli yang melemah sehingga masyarakat harus sangat selektif.
Dua, sekadar melakukan “survei fisik” sebelum akhirnya membeli produk yang sama di toko online dengan harga lebih miring.
Intinya, ada kehadiran fisik, tetapi tidak ada kontribusi nyata bagi ekosistem perdagangan di tempat tersebut.
Metafora Keagamaan
Lantas, adakah hubungan antara perilaku konsumen mal ini dengan ibadah puasa?
Secara teologis tentu tidak ada. Namun, sebagai metafora, fenomena “Rojali-Rohana” sangat relevan untuk menggambarkan perilaku keberagamaan sebagian dari kita di bulan Ramadan.
Ramadan adalah “pasar raya” kemuliaan.
Di dalamnya tersedia obral ampunan, diskon pahala yang berlipat ganda, hingga “produk eksklusif” bernama Lailatul Qadar.
Secara historis, ini adalah bulan Al-Qur’an, menandai turunnya wahyu pertama di Gua Hira.
Namun, segala kemuliaan ini hanya akan menjadi pajangan di etalase waktu jika manusia tidak benar-benar “membelinya” dengan amal nyata.
Seringkali, kita terjebak menjadi “Rojali” spiritual.
Kita hadir di tengah keramaian Ramadan, ikut dalam euforia buka bersama, atau sekadar hadir di saf salat tarawih tanpa menghadirkan hati.
Kita melihat keutamaan Ramadan, mengetahui janji-janji pahalanya, namun “jarang membeli” atau mengambil kesempatan itu melalui konsistensi ibadah.
Kita hanya menjadi penonton di bulan yang seharusnya menjadi medan pertempuran melawan hawa nafsu.
Pahala sedekah yang melimpah tidak akan diraih oleh mereka yang hanya bertanya tentang keutamaan berbagi namun tangannya tetap mengepal.
Ampunan Allah tidak akan turun secara otomatis tanpa ada lisan yang beristigfar.
Petunjuk Al-Qur’an pun tidak akan merasuk ke kalbu jika kitab suci itu hanya terpajang di rak tanpa pernah dibaca dan dipahami maknanya.
Ancaman Kerugian
Ketidaksungguhan ini sebenarnya telah diperingatkan sejak lama.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dikisahkan Malaikat Jibril berdoa agar celakalah orang yang mendapati Ramadan namun hingga bulan itu berakhir, dosanya tidak diampuni.
Doa pedih ini diaminkan langsung oleh Rasulullah SAW. Mengapa seseorang bisa gagal mendapatkan ampunan di bulan yang pintu maafnya dibuka selebar-lebarnya?
Jawabannya sederhana: karena ia melewati Ramadan hanya dengan status “Rojali” dan “Rohana”—hadir secara fisik, namun absen secara substansi.
Kini, kita telah berada di penghujung Ramadan.
Malam ke-21 sudah di depan mata. Inilah saatnya kita mengencangkan semangat untuk berburu Lailatul Qadar.
Sebagaimana janji Nabi Muhammad SAW, menghidupkan malam kemuliaan dengan iman dan mengharap rida Allah akan menghapus dosa-dosa masa lalu.
Mari kita ubah narasi “Rojali-Rohana” dalam diri kita.
Jadikanlah Rojali sebagai Rombongan Salat Berjamaah dan Mengaji, serta Rohana sebagai Rombongan Bersedekah dan Berderma untuk Sesama.
Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja layaknya pengunjung mal yang keluar dengan tangan hampa.
Belilah kemuliaan itu dengan kesungguhan, agar di hari kemenangan nanti, kita benar-benar menjadi hamba yang fitrah, bukan hamba yang sekadar “bertanya” tanpa pernah “merasa”.***






0 Tanggapan
Empty Comments