Ratusan jamaah memadati halaman Perguruan Muhammadiyah Ranting Padenganploso, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, dalam pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026). Suasana khidmat terasa sejak gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang, mengagungkan kebesaran Allah SWT sekaligus meneguhkan kerendahan hati manusia di hadapan-Nya.
Bertindak sebagai khatib, Ustadz Anton Wahyudin, M.Pd., yang juga Kepala Madrasah Aliyah Muhammadiyah 9 Al Mizan Lamongan, menyampaikan khutbah dengan menguraikan makna takbir, tahmid, dan tahlil dalam momentum Idulfitri. Kalimat Allahu Akbar menegaskan bahwa Allah Maha Besar, sementara manusia adalah makhluk lemah yang tidak pantas bersikap sombong. Tahmid mengajarkan manusia untuk senantiasa bersyukur, sedangkan tahlil memperkokoh keyakinan bahwa hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.
Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan madrasah terbaik dalam membentuk pribadi bertakwa. Oleh karena itu, umat Islam dihadapkan pada pertanyaan reflektif: apakah akan menjadi “alumni Ramadan” yang biasa-biasa saja atau pribadi yang luar biasa dengan menjaga istiqomah dalam ketaatan.
Mengutip hadis, khatib menyampaikan pesan Rasulullah SAW kepada seorang sahabat, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah” (HR. Muslim). Istiqomah, menurut para ulama seperti Ibnu Abbas, mencakup konsistensi dalam ucapan, menjaga hati (iman), serta amal perbuatan sehari-hari.
“Istiqomah bil lisan dengan menjaga ucapan yang baik, istiqomah bil qolbi dengan menjaga hati agar selalu dalam keimanan dan ketaatan, serta istiqomah bil amal dalam menjalankan ibadah sehari-hari,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa amalan yang dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.
Dalam lanjutan khutbah, khatib memaparkan empat aspek penting dalam menjaga istiqomah, yakni menjaga semangat keimanan pasca-Ramadan, mempertahankan tradisi ubudiyah, menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, serta menahan diri dari perbuatan yang tidak baik.
Istiqomah dalam keimanan, lanjutnya, dapat diuji melalui kenikmatan maupun musibah. Hal ini dicontohkan dalam kisah Nabi Ayyub AS yang sabar menghadapi ujian penyakit dan kehilangan, serta Nabi Sulaiman AS yang tetap taat meski dianugerahi kekayaan dan kekuasaan.
Selain itu, jamaah diajak untuk terus menjaga tradisi ubudiyah dan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Kedekatan dengan Al-Qur’an juga harus dipelihara, tidak hanya selama Ramadan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Khatib turut menyampaikan kisah hikmah tentang seorang kakek yang istiqomah membaca Al-Qur’an. Meski tidak memahami seluruh maknanya, kebiasaan tersebut tetap memberi dampak positif, layaknya keranjang kotor yang menjadi bersih karena terus-menerus dialiri air. Hal ini menegaskan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an mampu membersihkan hati manusia.
Sebagai penutup, jamaah diajak untuk terus istiqomah dalam menahan diri dari perbuatan buruk serta meneguhkan nilai ketakwaan sebagaimana tujuan puasa, la’allakum tattaqun. Jamaah juga diajak memohon kepada Allah SWT agar diberikan umur panjang yang penuh keberkahan serta kemampuan untuk senantiasa istiqomah dalam ketaatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments