
PWMU.CO – Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bekerja sama dengan penulis dan kolumnis isu gender, Kalis Mardiasih, kembali menyelenggarakan ruang belajar yang hangat, reflektif, dan penuh makna melalui agenda bertajuk Kelas Menulis Perempuan.
Kegiatan yang digelar di kantor RBC Institute, Kota Malang pada Selasa (29/7/2025) ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperluas akses literasi kritis, khususnya bagi perempuan.
Kelas ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari karyawan, mahasiswa, peneliti, aktivis komunitas, hingga perempuan muda yang baru memulai perjalanan menulis. Dengan pendekatan berbasis pengalaman langsung dan diskusi terbuka, sesi ini menjadi ruang aman untuk membicarakan keresahan sehari-hari yang sering kali sulit terungkap di ruang publik.
“Menjadi perempuan di hari ini tidak mudah. Kami percaya, menulis bisa menjadi cara menyelamatkan diri sekaligus menyuarakan yang tak terdengar,” ungkap Kalis Mardiasih dalam kelasnya.
Peserta diajak mengeksplorasi cara menemukan ide dari keresahan personal, merangkai logika dan emosi dalam tulisan, serta memahami dasar-dasar personal branding secara tipis-tipis, namun strategis.
Kolaborasi ini disambut antusias oleh RBC Institute sebagai bagian dari gerakan cegah, lawan, dan rangkul.
Sementara itu, Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara, menyampaikan bahwa ia percaya, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang keberanian untuk menyuarakan pengalaman.
“Kolaborasi dengan Kalis merupakan upaya bersama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan agar dapat menulis dan mencatat pengalaman hidup mereka dengan jujur dan penuh keberanian,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa Inisiatif ini juga menjadi bagian dari program yang digagas oleh RBC Institute untuk mempertemukan pemikiran progresif dengan komunitas akar rumput. RBC Institute meyakini bahwa tulisan yang lahir dari pengalaman perempuan memiliki kekuatan untuk membongkar ketimpangan serta memperluas ruang dialog sosial.

Peserta tidak hanya diajak untuk berani menulis, tetapi juga didorong untuk saling mendukung dalam mengekspresikan diri melalui berbagai platform. Proses ini membuka ruang empati antarperempuan, di mana setiap peserta menyadari bahwa pengalaman pribadi mereka ternyata tidaklah tunggal. Beberapa peserta bahkan mengaku bahwa ini adalah pertama kalinya mereka merasa keresahan mereka penting dan layak untuk dituliskan.
Sesi diakhiri dengan tanya jawab dan berbagi pengalaman seputar keperempuanan. Bagi banyak peserta, menulis di kelas ini bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga tentang memaknai ulang pengalaman hidup sehari-hari.
Dengan kapasitas terbatas dan suasana yang intim, kelas ini bukan hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang penyembuhan, penguatan, dan keberanian. RBC Institute berharap gerakan seperti ini dapat menyebar lebih luas ke kota-kota lain, membuka lebih banyak pintu bagi perempuan untuk mencatat, merekam, dan mengartikulasikan hidup mereka. (*)
Penulis Manda Danastri Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments