“Bagiku, menulis bekerja dalam kesunyian dan berbisik untuk masa depan. “Aku pernah ada, aku pernah bermimpi. Mimpi kini nyata membawaku bebas dan mengantarku menjadi manusia merdeka.”
Bagiku, menulis bukanlah sekedar merangkai kata. Menulis adalah seni untuk mengabadikan waktu. Hari ini, besok, dan untuk selamanya, aku masih ada. Tulisan itu menjelma menjadi cahaya.
Untuk itu, aku tak akan mengurung ilmu di kepala. Tak kubiarkan ilmuku yang sedikit ini terpasung tak berdaya. Kuberikan ruang ilmu untuk hadir di alam nyata. Kutuangkan dalam karya, untuk menjawab beragam realita.” Inilah alasan mengapa aku menulis dan terus belajar menulis.
Bukankah menulis itu perintah dan bagian dari proses literasi? Ketika Nabi Muhammad saw mendapat amanah sebagai rasulullah, maka perintah pertama adalah membaca dan menulis, hingga diabadikan dalam surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5.
“Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah Menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Sangat Pemurah. Yang telah mengajarkan penggunaan pena. Yang telah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya.”
Sebuah renungan. Di zaman Rasulullah dan para sahabat, alat tulis tak secanggih sekarang. Namun karya tulis para sahabat, ulama, begitu menginspirasi dan mencerahkan. Lalu bagaimana dengan sekarang dengan kecanggihan sarana tulis menulis? Mari bersama mengikat ilmu dengan menulis.
Allah mengajarkan tentang literasi. Ternyata konsep ini telah diterjemahkan oleh negara maju. Melalui konsep “Y Card” maka literasi diawali dari “sounds like“, apa yang didengar. Lalu “looks like“, apa yang dilihat. Dan “feels like”, apa yang dirasakan. Ternyata, sesungguhnya sumber utamanya ada di dalam surat An-Nahl ayat 78.
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Dan Dia menjadikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu mau bersyukur.”
Bentuk rasa syukur bagi orang yang berilmu adalah mentrasformasi ilmu yang didengar dan dilihat. Hati nurani inilah yang bisa mengeksekusi dengan membuahkan aksi berupa karya yang diikat dan abadi berupa tulisan.
Menulis bukanlah kemampuan, tetapi kemauan. Siapapun yang memiliki kemauan untuk menulis, maka Allah yang akan memudahkan. Allah yang mengajarkan penggunaan pena. Allah yang membimbing tulisan itu bisa mencerahkan. Ingat, sesungguhnya tulisan adalah produk hati.
Ketika orang-orang yang berilmu dan orang yang behati mulia tidak menulis, maka di era digital native seperti saat ini, semua akan menulis, termasuk yang tidak berilmu dan dan yang berhati kotor. Pada akhirnya, melalui tulisan bertebaran tulisan fitnah di dunia maya.
“Demi Pena dan apa saja yang dituliskannya.” Surat Al-Qalam ayat 1 ini memberikan petunjuk bahwa pena tergantung dari pemegangnya. Jika pena dipegang oleh orang yang berilmu, maka menjadi rahmatan lil’aalami. Jika pena dipegang oleh orang yang berhati kotor, akan terjadi kerusakan.
Di akhir tahun 2025 perlu merenung sejenak, sudahkan kita menulis yang berdampak kebaikan? Jika sudah ayo di tahun 2026 terus ditingkatkan. Jika belum, ayolah bersama menulis kebaikan yang bisa berdampak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments