Sejak berdiri pada tahun 1912, Persyarikatan Muhammadiyah telah diakui sebagai organisasi keagamaan sekaligus kemasyarakatan yang mampu mengembangkan diri sebagai organisasi yang terus bertumbuh dan berkembang.
Hingga kini, Muhammadiyah memiliki aset yang besar, baik berupa infrastruktur maupun sumber daya manusia (SDM).
Infrastruktur yang dimaksud meliputi sarana pendidikan, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, serta sarana kesehatan, mulai dari PKU hingga rumah sakit.
Adapun SDM yang dimaksud adalah para guru, dosen, dan tenaga medis yang mumpuni. Semua ini merupakan bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang terus berkembang.
AUM kini tumbuh dan berkembang tidak hanya pada bidang pendidikan dan kesehatan, tetapi juga pada bidang ekonomi, seperti UKM, minimarket, SPBU, perhotelan, dan lain-lain.
Menjelang pengujung tahun 2025 ini, Indonesia berada di persimpangan jalan transformasi besar. Di tengah dinamika politik pascatransisi kepemimpinan nasional dan tantangan global yang kian kompleks, posisi organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah menjadi semakin krusial.
Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan napas bagi kehidupan sosial, pendidikan, dan kesehatan bangsa ini.
Persyarikatan Muhammadiyah juga tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas dan integritas dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Muhammadiyah tidak hanyut dalam ambisi menduduki kursi kekuasaan, baik di level nasional maupun daerah.
Tahun 2025 merupakan tahun di mana stabilitas nasional diuji setelah pesta demokrasi besar pada tahun sebelumnya.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah terus konsisten memerankan diri sebagai kekuatan penengah (wasathiyah).
Melalui konsep Darul Ahdi wa Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian), Muhammadiyah mengingatkan bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dirawat dengan nilai-nilai integritas.
Refleksi akhir tahun ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tetap berdiri di atas kepribadiannya: tidak terseret arus politik praktis, namun tetap vokal dalam menyuarakan kritik konstruktif demi keadilan sosial dan kebenaran.
Satu abad lebih melayani masyarakat, Muhammadiyah tidak berhenti pada pola lama. Tahun ini kita menyaksikan akselerasi digital di ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Di bidang pendidikan, transformasi sekolah dan universitas Muhammadiyah diarahkan menjadi institusi berbasis riset dan teknologi. Sementara itu, di bidang kesehatan, jaringan rumah sakit Muhammadiyah–Aisyiyah semakin terintegrasi dengan layanan kesehatan berbasis digital.
Di bidang sosial, peran aktif Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) tetap menjadi garda terdepan dalam setiap bencana nasional.
Peran ini menjadi sangat penting, terutama saat terjadi bencana di Sumatra belakangan ini. Belum lagi peran Lazismu yang telah terbukti manfaatnya hingga menjangkau korban di Palestina.
Islam Berkemajuan di Kancah Global
Refleksi tahun ini juga mencatat peran Muhammadiyah yang semakin go internasional. Diplomasi kemanusiaan untuk Palestina, pengembangan rantai ekonomi halal, hingga pendirian institusi pendidikan di luar negeri—seperti di Malaysia dan Australia—membuktikan bahwa gagasan Islam Berkemajuan bukan hanya untuk konsumsi domestik.
Muhammadiyah membawa wajah Islam yang moderat, damai, dan solutif ke panggung dunia.
Namun demikian, refleksi tidak lengkap tanpa evaluasi. Tantangan terbesar Muhammadiyah ke depan adalah memperkuat pilar ketiga, yaitu kedaulatan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan jaringan ekonomi warga (jamaah) menjadi pekerjaan rumah yang harus diakselerasi pada tahun-tahun mendatang.
Hal ini penting agar Muhammadiyah tidak hanya mandiri secara organisasi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi akar rumput.
“Muhammadiyah hadir bukan untuk menjadi beban negara, melainkan untuk menjadi solusi bagi persoalan bangsa.”
Penutup
Menutup tahun 2025, kita melihat Muhammadiyah tetap menjadi oase di tengah gersangnya keteladanan.
Dengan semangat tajdid (pembaruan), Muhammadiyah terus membuktikan bahwa agama harus hadir sebagai pembebas dan pencerah, bukan sekadar identitas formal.
Tugas kita sebagai bagian dari bangsa adalah memastikan api semangat ini tetap menyala. Indonesia yang berkemajuan hanya dapat dicapai jika nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang diperjuangkan Muhammadiyah menjadi napas kolektif seluruh elemen bangsa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments