Ahad kemarin, (15/03) para relawan BankZiska berkumpul dalam sebuah acara sederhana: buka bersama, pembinaan, dan koordinasi. Sebagian besar relawan yang hadir telah mendampingi mitra lebih dari empat tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengenal tidak hanya usaha para mitra. Tetapi juga perjalanan hidup mereka; suka, duka, dan berbagai tantangan yang mereka hadapi.
Di sela kegiatan, saya membagikan sebuah kuesioner singkat kepada para relawan. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah: “Menurut Bapak/Ibu, apa arti “hidup lebih sejahtera” bagi mitra yang didampingi?”
Jawaban para relawan cukup beragam, namun memiliki pola yang sama. Ada yang mengatakan bahwa mitra dianggap lebih sejahtera ketika tidak lagi terjerat hutang riba. Ada yang menjawab cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bisa menyisihkan untuk menabung, hidup lebih tenteram, hati lebih tenang karena bersyukur, serta mandiri secara ekonomi dan memiliki peningkatan keterampilan usaha.
Menariknya, hampir tidak ada jawaban yang mengaitkan kesejahteraan dengan menjadi kaya raya. Bagi para relawan yang berinteraksi langsung dengan pelaku usaha mikro, kesejahteraan justru dimaknai sebagai kecukupan hidup dan ketenangan hati.
Pandangan ini sejalan dengan pendekatan basic needs oleh International Labour Organization. Bahwa kesejahteraan tercapai ketika kebutuhan dasar manusia terpenuhi.
Demikian pula pendekatan capability dari Amartya Sen yang menilai kesejahteraan dari kemampuan seseorang menjalani kehidupan yang layak dan bermakna. Termasuk kemampuan untuk mandiri secara ekonomi.
Selain itu, jawaban relawan juga menyinggung dimensi psikologis, seperti rasa tenang dan tenteram. Dalam kajian ekonomi modern, hal ini dikenal sebagai subjective well-being. Ekonom seperti Richard Easterlin bahkan menunjukkan, peningkatan pendapatan tidak selalu sejalan dengan peningkatan kebahagiaan.
Dalam perspektif ekonomi Islam, makna kesejahteraan ini juga dekat dengan konsep falah. Yaitu kebahagiaan yang mencakup dimensi material dan spiritual. Menurut Umer Chapra, kesejahteraan tidak hanya diukur dari kekayaan. Tetapi juga dari terpenuhinya kebutuhan hidup, keadilan sosial, dan ketenangan spiritual.
Karena itu, pengalaman para relawan BankZiska memberikan pelajaran penting. Bagi banyak keluarga miskin, kesejahteraan bukanlah tentang menjadi kaya. Tetapi tentang terbebas dari hutang menjerat, mampu memenuhi kebutuhan hidup, memiliki sedikit tabungan, serta menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang dan penuh rasa syukur.
Dalam kesederhanaannya, pemaknaan ini justru menunjukkan bahwa kesejahteraan sejati sering kali bukan tentang memiliki lebih banyak. Tetapi tentang hidup yang cukup, stabil, dan bermakna.






0 Tanggapan
Empty Comments