
Oleh Andi Hariyadi – Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya
PWMU.CO – Gema Takbir Tahlil dan Tahmid bersahutan penanda Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H / 31 Maret 2025 telah tiba, setelah berpuasa Ramadan telah memberikan banyak hikmah dan pencerahan dalam kehidupan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tujuan berpuasa adalah menjadi pribadi yang bertaqwa baik berdimensi spiritual yang sadar akan ke Maha Kuasanya Allah SWT dengan limpahan rahmat dan nikmat bagi kehidupan kita, untuk menjadi pribadi Istiqomah beribadah kepadaNya. Dan dimensi sosial yang mampu membangun relasi sosial dengan keteladanan nilai – nilai Akhlaqul Karimah.
Capaian ketaqwaan didukung oleh keimanan dengan menjalankan puasa Ramadan secara sempurna, tidak sekedar lapar dan dahaga saja yang dilakukan tetapi sikap berinteraksi sosial dengan penuh kebermaknahan, kebersamaan dan bertanggungjawab sebagai cermin implementasi nilai nilai amal soleh yang konstruktif bukan destruktif, sekaligus amal soleh yang menginspirasi dengan karya kebaikan baik untuk diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.
Takbir tahlil dan tahmid bagi orang yang beriman akan menggetarkan kesadaran (Al Anfal 2) ketika ayat ayat Allah dikumandangkan semakin menambah keimanan, bentangan alam sebagai bagian ayat ayat kauniyah yang ditampakkan begitu sempurna dan penuh keindahan, sehingga ber-idul Fitri dengan rasa syukur bukan kufur nikmat.
Ber-idul Fitri sejatinya kita menyadari untuk mengisi lembaran kehidupan dengan nilai nilai positif, baik berupa kesolehan spiritual maupun kesolehan sosial yang keduanya tidak dapat dipisahkan, keduanya saling berkaitan yang akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.
Ber-idul Fitri, tidak sekedar berkisar tentang mudik lebaran untuk bersilaturahmi dan bermaafan dengan ketersediaan kuliner khas lebaran yang sudah siap disajikan untuk dinikmati bersama keluarga, tetangga dan handai taulan, tetapi sudahkah kita memperhatikan kondisi lingkungan kita yang bersih, asri, indah dan menyehatkan.
Lingkungan Bersih
Prosesi lebaran yang penuh persaudaraan jangan sampai di rusak oleh perilaku kita tentang etika terhadap sampah. Banyak aktivitas kita baik disadari ataupun tidak disadari ada sampah yang menyertai interaksi kita.
Sampah yang berasal dari sisa masakan, sisa makanan, hingga kemasan, dan lebih runyamnya menyambut malam lebaran dengan menyalakan mercon dar dor dar dor yang tidak hanya menghamburkan uang dengan cara dibakar, membuat kebisingan, resiko kecelakaan saja tetapi tersebar juga kertas kertas berhamburan dengan sorakan kebanggaan, tanpa peduli dengan lingkungan yang semula bersih menjadi kotor dan kurang nyaman.
Momen silaturahmi untuk mempererat persaudaraan dan persahabatan saat Idul Fitri ini alangkah eloknya kita tetap menjaga lingkungan yang bersih, nyaman, aman, asri dan menyehatkan. Budayakan peduli lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan atau terus memproduksi sampah tanpa ada upaya yang cerdas terhadap sampah.
Orang yang beriman dan bertaqwa hasil didikan puasa Ramadan selama sebulan penuh tentu akan berusaha menjadi teladan tidak hanya dalam sisi ritual saja tetapi juga di sisi sosial di lingkungan kita. Ketika tempat ibadah kita kotor dan kurang nyaman segera kita bersihkan dan aksi ini kita perluas spektrumnya di sudut sudut rumah kita, selokan dan berbagai tempat fasilitas umum lainnya.
Jangan sampai akibat rendahnya kesadaran kelola sampah, sehingga seperti kita ketahui bersama diberbagai daerah mulai bergejolak terhadap problem sampah. Jika main side kita sampah adalah barang bekas dan bebas dibuang dimana saja itulah awal bencana akibat sampah.
Kenyamanan lebaran idul Fitri akan terganggu akibat salah persepsi tentang sampah, bak sampah yang tersedia sudah penuh, petugas pengangkut sampah masih mudik sehingga sampah menumpuk dengan bau menyengat, dan tempat pembuangan akhir sampah sudah overload akibat produksi sampah terus bertambah.
Kebersihan lingkungan berubah menjadi kotor, akibat ulah tangan kita sebagai manusia yang tanpa disadari melakukan pengerusakan lingkungan. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ar Rum 41 artinya “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Kebersihan
Tanpa mengurangi kekhidmatan dan kenyamanan dalam berhari raya Idul Fitri Kita sesungguhnya bisa berbuat yang tepat terhadap sampah. Sehingga tidak termasuk bagian yang mengakibatkan kerusakan di darat dan di laut akibat sampah dampaknya sangat membahayakan bagi kehidupan kita. Bersikap bijak terhadap sampah kita awali pemilahan sampah sejak dari rumah, mulai dari sampah organik berasal dari: sisa makanan (sisa nasi, sisa sayuran, sisa buah-buahan, sisa daging dan tulang, sisa ikan dan kulitnya.
Sampah dapur (Kulit bawang, ampas kopi ampas teh). Selanjutnya ditempatkan di bak sampah organik atau diproses menjadi pupuk ditempatkan di tong Takakura atau kompuster aerob). Sedang sampah anorganik bisa berupa: produk berbahan plastik, kemasan logam, kaca, barang elektronik dan lainnya, sehingga diantaranya bisa didaur ulang.
Budaya bersih sejatinya sudah melekat dalam ajaran Islam berupa Thoharo sehingga diperluas cakupannya di sekitar lingkungan kita. Maka mari kita budayakan hidup bersih secara berkelanjutan dan itu implementasi dari iman dan taqwa kita.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H / 31 Maret 2025
Mohon maaf lahir dan batin
Taqabbalallallahu Minna wa minkum
Taqabbal ya Karim. (*)
Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments