Tepat di usia 113 tahun, Muhammadiyah telah menjelma menjadi gerakan besar yang tidak hanya bertahan, tetapi terus tumbuh, memberi manfaat, dan menginspirasi.
Sebuah usia yang menunjukkan kedewasaan, keteguhan visi, dan kekuatan amal. Ranting Gempolpading, sebagai bagian kecil dari gerakan besar ini, turut merasakan derasnya limpahan manfaat yang terus mengalir dari Muhammadiyah.
Namun tidak sedikit yang masih mempertanyakan : “Benarkah kita diuntungkan oleh Muhammadiyah? Bukankah kita sering mengeluarkan biaya, tenaga terkuras, pikiran pun mumet? Bukannya malah rugi ngurusi Muhammadiyah?”
Pertanyaan seperti ini wajar muncul. Tetapi, sebagaimana ungkapan seorang tokoh ranting, mungkin kita hanya “kurang adoh ngopine”, kurang merenung lebih dalam.
Sebab jika diamati dengan jernih, kita sebenarnya sangat diuntungkan oleh adanya Muhammadiyah, baik secara spiritual, sosial, maupun amal kebaikan yang terus terbuka luas.
Allah SWT berfirman “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…”(QS. Al-Māidah: 2)
Ayat ini menjadi dasar bahwa melakukan kebaikan adalah kewajiban, namun fasilitas untuk berbuat baik bukanlah hal yang datang begitu saja. Muhammadiyah menghadirkan sistem, struktur, dan budaya yang membuat kebaikan menjadi mudah, teratur, dan berkelanjutan.
Di Ranting Gempolpading, hal itu tampak sangat nyata:
1. Kemudahan Ibadah dan Ketenteraman Hati
Masjid Al-Hidayah selalu ramai oleh jamaah. Imam yang faqih, hafidz, dan memiliki suara merdu membuat shalat menjadi kekuatan spiritual harian. Rasulullah SAW bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, pahala besar itu dapat diraih terus menerus hanya karena Muhammadiyah merawat masjid dan menghadirkan imam terbaik.
2. Sedekah dan Filantropi Lebih Terarah
Lazismu menyediakan wadah yang terorganisir untuk bersedekah. Mulai dari sedekah harian, zakat, qurban, hingga tabungan umrah melalui TAQWAMU dan TAUBATMU. Semua transparan, profesional, dan penuh kebermanfaatan.
3. Terhindar dari Riba
Banyak warga ingin membantu atau membutuhkan bantuan keuangan, namun ingin menjauhi riba. Melalui PILAR Utama, kebutuhan itu terjawab. Program ini memudahkan masyarakat sekaligus menjaga mereka tetap dalam koridor halal.
4. Majelis Ilmu yang Terus Menghidupkan Ruhani
Kajian setiap hari, pengajian rutin, kultum Subuh, serta kegiatan ilmu lainnya menjadi ruang untuk mendekat kepada Allah. Bahkan, penyajian tempat yang nyaman dan penuh kekeluargaan membuat jamaah semakin betah.
Semua ini bukan hal kecil. Inilah yang dimaksud oleh banyak ulama sebagai wasilah kebaikan.
Imam Al-Ghazali berkata “Siapa yang memudahkan kebaikan bagi orang lain, sesungguhnya Allah telah memudahkan baginya jalan menuju surga.” Muhammadiyah menyediakan jalan itu, tinggal kita memilih untuk melangkah.
Menjadi pimpinan, pengurus, atau bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah bukanlah beban; itu adalah karunia besar. Setiap program yang berjalan, setiap dakwah yang tersampaikan, setiap jamaah yang mendapat manfaat, semua menjadi tambahan kebaikan bagi para penggeraknya.
Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapatkan pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim)
Artinya, seorang pengurus masjid yang memfasilitasi shalat jamaah, seorang pengurus Lazismu yang menyalurkan sedekah, atau anggota ranting yang menghidupkan kegiatan, mendapat pahala yang terus mengalir meski ia tidak selalu hadir di depan.
KH. Ahmad Dahlan pernah berkata: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Maknanya jelas: bukan keuntungan dunia yang dikejar, tetapi limpahan amal, keberkahan, dan jalan menuju keridaan Allah.
Karena Allah tidak menakdirkan semua orang masuk ke dalam barisan pejuang kebaikan. Kita termasuk sedikit orang yang diberi kesempatan beramal.
Allah SWT berfirman “Dan barang siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk menerima Islam…” (QS. Al-An’ām: 125)
Maka, menjadi bagian dari Muhammadiyah adalah bentuk petunjuk dan karunia. Sesuatu yang patut disyukuri, bukan dikeluhkan.
Buya Hamka berkata “Berkhidmat dalam kebaikan itu melelahkan. Namun jika tidak mau lelah, maka kita akan lelah menanggung akibat tidak melakukan kebaikan.”
Pada akhirnya, refleksi Milad ke-113 ini menegaskan sebuah kebenaran:
Bukan Muhammadiyah yang membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan Muhammadiyah.
Gerakan ini akan tetap besar dan terus berjalan meski kita tidak lagi ada di dalamnya. Tetapi bersama Muhammadiyah, Allah membuka pintu amal, pahala, dan keberkahan yang begitu banyak.
Semoga di usia ke-113 ini, Muhammadiyah semakin berkemajuan, dan kita semua semakin ikhlas menapaki jalan kebaikan yang telah dibentangkan oleh para pendirinya.
Selamat Milad Muhammadiyah ke-113. Semoga Allah meridai setiap langkah perjuangan kita. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments