Menjelang waktu berbuka puasa, Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Malang menggelar kegiatan “Learning by Fasting” hari pertama.
Mengusung tema besar “Arus Islam Transnasional: Napak Tilas Perjalanan Umat Islam Pasca Kepemimpinan Rasulullah”, acara ini menjadi ruang diskusi hangat bagi para pelajar untuk memahami sejarah panjang dinamika umat Islam.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu sore (14/3/2026), menghadirkan Fachrudin Ad’han Tohari, ketua bidang KDI di PD IPM Kota Malang sebagai pemateri utama.
Dalam paparannya, Fachrudin mengajak peserta untuk menengok kembali peristiwa Al-Fitnah Al-Kubra yang menjadi titik balik sejarah persatuan umat.
Ia menjelaskan bahwa benih konflik mulai muncul pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan akibat isu-isu nepotisme dan provokasi yang memicu ketidakpuasan di wilayah Mesir serta Irak.
Tragedi memuncak saat rumah Khalifah Utsman dikepung selama beberapa pekan hingga beliau wafat terbunuh dalam keadaan sedang membaca al-Quran.
Dinamika politik semakin pelik saat Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah. Fachrudin memaparkan bahwa banyak pihak yang keberatan sebelum kasus pembunuhan Utsman tuntas diusut.
Hal ini memicu Perang Jamal, perang saudara pertama antarumat Muslim, disusul dengan Perang Siffin antara kubu Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Sorotan utama dalam diskusi sore tadi adalah peristiwa Tahkim (arbitrase). Fachrudin meluruskan persepsi sejarah yang sering kali keliru di masyarakat.
Menurutnya, hasil asli dari peristiwa Tahkim sebenarnya menyepakati pembagian wilayah kekuasaan; Ali tetap berkuasa di wilayahnya, sementara Muawiyah memegang kendali di wilayah Syam.
Namun, peristiwa ini justru memperlebar celah perpecahan dan memunculkan berbagai golongan dalam Islam.
“Tahkim adalah efek domino dari fitnah yang terjadi karena kedzaliman pada zaman Utsman bin Affan,” jelas Fachrudin di hadapan para peserta.
Fenomena ini, menurutnya, sejalan dengan hadis riwayat Tirmidzi yang menyebutkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan.
Fachrudin menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah sunnatullah atau ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari.
“Perbedaan adalah hal yang pasti, dan yang perlu kita pelajari adalah awal dari perpecahan tersebut,” tuturnya.
Di akhir sesi, Fachrudin memberikan catatan kritis mengenai kondisi toleransi saat ini. Ia merasa prihatin karena terkadang umat Islam justru lebih bisa bertoleransi terhadap agama lain daripada terhadap sesama Muslim yang berbeda organisasi masyarakat (ormas).
Melalui materi ini, ia berharap para kader IPM Kota Malang memiliki kedewasaan berpikir dalam menyikapi perbedaan di masa depan.
“Setelah mendapatkan materi ini, insyaAllah teman-teman bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi sebuah perbedaan,” pungkasnya sebelum menutup sesi diskusi menjelang magrib.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments