Pada hari Selasa (30/9/2025), pukul 15.00 WIB, telah diselenggarakan kegiatan diskusi bertajuk “September Hitam: Ingatan, Keadilan, dan Perlawanan Catatan Pendek untuk Riwayat Panjang kasus Pelanggaran HAM”.
Acara ini berlangsung di Gedung ATT lantai 10 ruang 1008 dengan dihadiri oleh kader serta calon kader Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Blue Savant.
Kegiatan ini menghadirkan tiga Narasumber yaitu, Ketua Koorkom IMM Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Izza Mukmin, Ketua DPM U Wildan Pradana, dan Ketua DPM F M. Luthfillah.
Peristiwa September Hitam merupakan salah satu catatan sejarah panjang terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Diskusi ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi sekaligus pembelajaran kolektif, khususnya bagi kader dan calon kader IMM, agar tetap menaruh perhatian pada isu-isu keadilan sosial.
Tema Ingatan, Keadilan, dan Perlawanan dipilih untuk menekankan bahwa tragedi kemanusiaan tidak boleh dilupakan, harus diperjuangkan keadilannya, dan membutuhkan keberanian untuk melawan segala bentuk penindasan.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan doa bersama. Moderator kemudian memperkenalkan narasumber dan menjelaskan tujuan diskusi.
Narasumber pertama, Lutfi, membahas pentingnya ingatan. Menurutnya, mengingat September Hitam adalah bentuk perlawanan terhadap upaya pelupaan sejarah. Ia menekankan bahwa tanpa ingatan kolektif, bangsa akan mudah mengulang kesalahan yang sama.
Narasumber kedua, Wildan, membicarakan aspek keadilan. Ia menegaskan bahwa korban dan keluarga korban memiliki hak untuk memperoleh keadilan. Negara tidak boleh tinggal diam, melainkan harus bertanggung jawab atas penyelesaian kasus pelanggaran HAM.
Narasumber ketiga, Izza, mengangkat dimensi perlawanan. Perlawanan, menurutnya, bukan hanya berupa gerakan fisik, tetapi juga perjuangan intelektual, moral, dan sosial untuk menyuarakan kebenaran. Ia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk berani bersuara melawan ketidakadilan.
Diskusi dan antusiasme peserta setelah sesi pemaparan, diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab. Peserta, baik kader maupun calon kader, memberikan pertanyaan kritis mengenai relevansi perjuangan HAM masa lalu dengan kondisi hari ini.
Beberapa pertanyaan menyinggung tentang bagaimana mahasiswa dapat berperan dalam mengawal isu-isu HAM serta strategi konkret dalam memperjuangkan keadilan di tengah tantangan demokrasi.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan banyaknya gagasan yang disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa tema September Hitam tetap relevan dan mampu menggugah kesadaran generasi muda.
Acara ditutup dengan refleksi bersama yang menyimpulkan tiga poin utama, Ingatan adalah sarana menjaga sejarah agar tidak terulang, keadilan merupakan tuntutan moral yang harus diperjuangkan tanpa henti, dan perlawanan adalah semangat yang harus terus dipelihara untuk melawan ketidakadilan.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi juga bagian dari proses kaderisasi PK IMM Blue Savant. Melalui kegiatan ini, calon kader diharapkan memiliki kesadaran kritis, jiwa solidaritas, serta semangat perjuangan untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Selain itu Ketua Umum PK IMM Blue Savant, Reza Bima Sesoca menyampaikan gagasannya. “Bahwasanya kegiatan ini adalah bentuk bagian dari kita mempelajari sejarah, sejarah bukan sekedar untuk kita lupakan tetapi sejarah itu harus sebagai pandangan untuk kita di masa depan, jadi kita sebagai mahasiswa seharusnya untuk mengingat setiap peristiwa-peristiwa yang kelam yang terjadi di masa lalu,” tuturnya.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments