Bencana sering kali dianggap sebagai ujian bagi mereka yang terdampak. Namun bagi dr. Wildan Firdaus, relawan medis dari RSA Bojonegoro, Aceh Tamiang justru menjadi ruang belajar—tentang sabar, syukur, dan kemanusiaan, Jumat (13/2/2026).
Datang sebagai bagian dari tim relawan MDMC Jawa Timur, dr. Wildan menyaksikan langsung bagaimana banjir mengubah wajah kehidupan warga. Rumah rusak, akses terputus, dan fasilitas kesehatan lumpuh. Di tengah situasi itulah, kehadiran tenaga medis menjadi sangat berarti.
Pelayanan kesehatan tidak selalu dilakukan di tempat ideal. Kadang di tenda darurat, kadang dari rumah ke rumah. Untuk mencapainya, relawan harus melewati sungai berarus deras dan medan licin yang melelahkan.
“Tidak ada jalur mudah di lapangan. Tapi kebutuhan warga jauh lebih penting,” katanya.
Berbagai kasus medis ditangani, termasuk ulkus kornea yang membutuhkan penanganan cepat agar tidak berujung pada gangguan penglihatan permanen. Dengan keterbatasan alat, keputusan medis harus diambil dengan cermat dan cepat, disertai koordinasi rujukan yang tepat.
Namun nilai terbesar dari pengabdian ini tidak tercatat di lembar rekam medis. Ia tercermin dari sikap para penyintas.
“Mereka sedih, tapi tetap bersyukur. Mereka melihat ke sekeliling, ada yang kondisinya lebih berat,” tutur dr. Wildan.
Sikap itu menjadi pelajaran hidup yang mendalam. Baginya, bencana justru memperlihatkan ketangguhan iman dan empati sosial masyarakat. Para penyintas menyambut relawan dengan hangat, senyum, dan doa—meski mereka sendiri sedang berada dalam keterbatasan.
Kehadiran relawan medis membawa rasa aman di tengah ketidakpastian. Ketika layanan kesehatan sulit diakses, dokter yang datang langsung ke warga menghadirkan kelegaan dan harapan.
Pengalaman ini mendorong dr. Wildan untuk menyampaikan pesan kuat kepada generasi muda tenaga kesehatan.
“Gunakan masa muda untuk pengalaman kemanusiaan. Menjadi relawan bukan sekadar membantu orang lain, tapi juga membentuk cara pandang hidup,” pesannya.
Aceh Tamiang mungkin akan dikenang sebagai lokasi bencana. Namun bagi dr. Wildan, tempat itu juga menjadi saksi tumbuhnya kesadaran—bahwa di tengah kehancuran, selalu ada nilai kemanusiaan yang menyala dan selama kepercayaan itu masih ada, ia siap kembali mengabdi.






0 Tanggapan
Empty Comments