Di tengah dunia yang bergerak secepat notifikasi ponsel dan sepraktis satu kali klik, kata halal sering kali terdengar seperti suara lirih yang tenggelam di tengah riuh ambisi.
Kita hidup di zaman ketika kecepatan lebih dihargai daripada keberkahan, ketika viral lebih diburu daripada nilai, dan ketika hasil lebih dipuja daripada proses.
Di era serba instan ini, rezeki tidak lagi sekadar dicari—ia dikejar, dipaksa, bahkan direkayasa. Namun di situlah letak persoalannya: apakah semua yang cepat itu benar? Apakah semua yang menghasilkan itu layak?
Rezeki halal bukan hanya soal label syariah atau sertifikasi formal. Ia adalah soal cara, niat, dan dampak.
Dalam Islam, Allah menegaskan, “Yā ayyuhā an-nās, kulū mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyiban” (QS. Al-Baqarah: 168) — wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik.
Kata ḥalālan ṭayyiban bukan hanya legal, tetapi juga bersih dan membawa kebaikan. Artinya, rezeki yang halal tidak cukup sekadar “tidak haram,” tetapi juga harus membawa kemaslahatan dan tidak merusak tatanan moral.
Fenomena pinjaman online ilegal, judi daring, manipulasi konten demi monetisasi, hingga praktik korupsi berjubah digital menjadi cermin betapa nilai halal semakin terpinggirkan. Banyak orang tergoda oleh janji kaya mendadak.
Ironisnya, masyarakat yang dulu mengecam riba kini tanpa sadar terjebak dalam sistem bunga mencekik hanya demi gaya hidup. Keinginan untuk terlihat sukses lebih cepat sering kali mengalahkan kesabaran untuk berproses dengan benar.
Padahal, rezeki yang haram tidak pernah benar-benar membawa ketenangan. Ia mungkin menambah angka di rekening, tetapi mengurangi keberkahan dalam hidup. Rumah bisa megah, tetapi hati terasa sempit.
Makanan bisa mewah, tetapi jiwa tetap gelisah. Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa daging yang tumbuh dari yang haram lebih pantas bagi neraka. Pesan ini bukan ancaman kosong, melainkan peringatan tentang konsekuensi spiritual yang sering diabaikan.
Era digital sebenarnya bukan musuh. Ia adalah alat. Platform e-commerce, ekonomi kreatif, hingga peluang kerja jarak jauh membuka ruang rezeki yang luas.
Namun, di tengah peluang itu, godaan untuk memanipulasi data, memalsukan testimoni, atau menjual produk tanpa kejelasan kualitas begitu besar. Di sinilah integritas diuji. Jalan halal sering kali sunyi karena tidak semua orang mau memilihnya.
Jalan sunyi itu memang tidak glamor. Ia tidak selalu viral. Orang yang memilih menolak suap, menolak proyek curang, atau menutup usaha karena tidak sesuai syariat sering dianggap “kurang cerdas” dalam membaca peluang.
Tetapi sejarah membuktikan, kehormatan tidak pernah lahir dari kecurangan. Keberkahan tidak pernah tumbuh dari pengkhianatan.
Mereka yang bersabar di jalan halal mungkin tertinggal dalam hitungan bulan, tetapi menang dalam hitungan akhirat.
Ada yang berkata, “Yang penting niatnya baik.” Kalimat ini sering dijadikan tameng untuk membenarkan cara yang salah. Padahal dalam Islam, tujuan tidak pernah menghalalkan segala cara. Niat baik tanpa cara yang benar adalah kontradiksi moral.
Rezeki halal menuntut konsistensi antara niat dan tindakan. Ia menuntut keberanian untuk berkata tidak ketika peluang datang dengan syarat melanggar batas.
Krisis terbesar generasi hari ini bukan kemiskinan, tetapi kegagalan memaknai cukup. Budaya konsumtif membuat standar kebutuhan terus naik.
Media sosial menciptakan ilusi kesuksesan instan. Kita lupa bahwa rezeki bukan hanya uang; ia adalah kesehatan, keluarga yang harmonis, waktu yang tenang, dan hati yang damai. Ketika orientasi hidup hanya pada materi, maka segala cara terasa sah.
Memilih rezeki halal adalah bentuk perlawanan. Ia adalah sikap radikal di tengah normalisasi penyimpangan. Ia adalah komitmen untuk menjaga diri meski tidak ada yang melihat.
Dalam sunyi, seseorang menolak mengambil yang bukan haknya. Dalam sepi, ia tetap jujur meski tidak ada kamera. Inilah kemuliaan yang tidak dipertontonkan, tetapi dicatat oleh langit.
Pada akhirnya, rezeki halal adalah investasi jangka panjang—bukan hanya untuk dunia, tetapi untuk kehidupan yang lebih abadi.
Di era serba instan ini, mungkin yang paling revolusioner justru adalah kesabaran. Mungkin yang paling berani adalah kejujuran.
Dan mungkin yang paling mulia adalah mereka yang tetap berjalan di jalan sunyi, menjaga halal di tengah dunia yang tergesa-gesa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments