Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rezeki Tak Butuh Pengejar, Ia Tahu ke Mana Harus Pulang

Iklan Landscape Smamda
Rezeki Tak Butuh Pengejar, Ia Tahu ke Mana Harus Pulang
Foto: littlemuslimhouse.com
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

عَنْ جابرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
((لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهَرَبُ مِنَ الْمَوْتِ؛ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ))

Dari Jabir radhiyallahu anhu berkata, berkata rasulullah sallallahu alaihi wa salam:
“Seandainya anak adam lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari mautnya, maka niscaya rizkinya akan mengejarnya sebagaimana maut mengejarnya.” (Hr Ibnu Hibban)

Kandungan hadis adalah sebagai berikut:

1. Maksudnya, andai kata seseorang itu telah lari dari rizkinya sebagaimana dia lari dari kematian. Niscaya rezeki itu mengejarnya sebagaimana kematian juga mengejarnya.

2. Maka tidak mungkin orang itu tidak mendapatkan rezeki, karena Allah telah menetapkan rezeki kepada mereka, bahkan mereka itu dikejar rezeki, bukan mereka yang malah mengejar rezeki.

3. Manusia tidak akan mampu menghindari rezeki sebagaimana mereka yang tidak akan mampu terhindar dari kematian. Karena sunatullahnya siapa yang hidup pasti mati, dan siapa yang hidup pasti masih dikaruniai rezeki oleh Allah.

4. Manusia di dalam hidup ini sudah Allah tetapkan, jatah, nasib kehidupan dunia dan rezekinya.

5. Dengan demikian, seharusnya manusia itu yakin 100 persen bahwa hidup ini telah diatur oleh Allah, bahkan rezeki itu sendiri yang akan menghampiri manusia. Maka tidak perlu membabi buta untuk mendapatkan rezeki, tidak perlu terlalu “ngoyo” untuk mendapatkan rezeki. Kaki jadi kepala, kepala menjadi kaki, siang kerja, malam kerja, berangkat pagi pulang tengah malam. Hingga lupa waktu, lupa salat, lupa Allah, lupa keluarga dan anak istri.

6. Namun, karena rendahnya iman, manusia terkadang lupa bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah, yang menjadikan mereka hidup adalah Allah, serta yang memberi mereka rezeki adalah Allah. Sehingga banyak dari mereka yang bersusah payah mengejar rezeki tapi malah lupa kepada Alloh. Padahal jelas, seperti yang tertera pada hadis di atas, bahwasanya manusia itu disetting oleh Alloh dikejar rizki bukan mengejar rizki.

7. Jika demikian, maka yang harusnya kita lakukan adalah ihtiar, berdoa dan bertawakkal kepada Allah, karena wajib hasil itu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menerima semua yang diberikan oleh Allah dan selalu syukur atas apa saja yang telah diberikan-Nya. Tidak perlu nggersulo dan terus merasa kurang, karena yang demikian itu akan membuat seseorang tidak pernah puas terhadap pemberian Allah kepadanya.

8. Bahkan hanya karena kemiskinan, kemudian menghalalkan segala cara hingga mencari harta haram. Apalagi mengikuti prinsip orang “yang haram saja susah, apalah yanghalal”. Korupsi dihalalkan, suap-menyuap menjadi bagian hidup. Bisnis-bisnis haram dia lakukan, jual diri, bahkan membuat proposal tipu tipu untuk mendapatkan bantuan dana yang itu dialamatkan kepada yayasan, anak yatim, pembangunan masjid dan lain sebagainya. Na’udzubillah.

9. Orang yang seperti itu adalah orang yang putus asa, serta lupa kepada Allah. Apa yang dilakukan tidak lagi diniati lillahi ta’ala serta merujuk kepada Al-Qur’an dan al-hadis. Jika sesuatu itu jelas-jelas haram maka tinggalkanlah, karena sesungguhnya yang halal itu masih berlimpah dan masih mudah untuk kita dapatkan.

10. Yakinlah bahwa selagi kita masih hidup, berarti Allah masih memberi rezeki kepada kita. ‘Tidak ada satupun orang di antara anak Adam meninggal dunia, sebelum disempurnahkan semua rezekinya. Telah dilengkapi semua rezekinya. Waallu a’lam. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu