Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Riset UMY: TikTok Diam-Diam Memicu Kesepian dan Krisis Identitas Gen Z

Iklan Landscape Smamda
Riset UMY: TikTok Diam-Diam Memicu Kesepian dan Krisis Identitas Gen Z
foto: getty images
pwmu.co -

Bagi sebagian remaja, TikTok bukan sekadar hiburan. Riset Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok Melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual, menunjukkan platform ini bisa menjerumuskan mereka dalam rasa sepi yang menusuk dan krisis identitas yang membingungkan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yang unik, yakni menggabungkan antara pendekatan literasi media digital dan kajian hiperrealitas audiovisual dari Baudrillard untuk mengungkap bagaimana pengguna, terutama remaja, mengkonstruksi identitas diri mereka berdasarkan konten emosional di TikTok.

“Gen Z cenderung menginternalisasi representasi emosi digital sebagai satu-satunya cara menghadapi masalah atau yang sering disebut dengan coping stress,” ungkap Najwa, salah seorang tim peneliti,  kepada PWMU.CO, Ahad (10/8/2025).

Hal ini, kata dia,  akhirnya berdampak pada kemampuan mereka dalam membangun relasi sosial yang otentik di dunia nyata, dan memperkuat ketergantungan terhadap validasi digital.

Hasil studi juga menunjukkan bahwa narasi kesedihan dan trauma yang terus-menerus dikonsumsi melalui algoritma TikTok dapat memicu kecemasan, rasa insecure, bahkan kecanduan.

“Tanpa adanya literasi digital yang kuat, pengguna sulit membedakan antara realitas dan konstruksi digital yang disajikan secara estetik,” jelas Najwa.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Riset UMY: TikTok Diam-Diam Memicu Kesepian dan Krisis Identitas Gen Z
Tim Hypercrowd bersama Dr. Fajar Junaedi (dosen Pendamping) (Doc.Pribadi/Hypercrowd)

Riset ini membawa kebaruan dengan menelusuri bagaimana konten-konten kesepian diproduksi, diterima, dan ditafsirkan di ruang digital.

Hal ini melengkapi temuan-temuan sebelumnya dari Adawiyah dan Indra (2023) serta Aderiani dan Primanita (2024), yang menyoroti peran algoritma dan hiperrealitas dalam membentuk pengalaman emosional pengguna.

“Riset ini tentunya sangat relate dengan keadaan Gen Z saat ini. Bagaimana budaya menonton ini sudah berubah dari era televisi ke era sosial media yang dapat dijangkau dengan gawai. Sehingga, jika fenomena ini tidak ditelisik lebih jauh akan memunculkan istilah “Matinya Kepakaran,” ujar Dr. Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi UMY yang menjadi pembimbing.

Oleh karena itu, para peneliti mendorong perlunya pendidikan literasi media digital yang lebih kuat, terutama bagi masyarakat urban digital, agar pengguna tidak terjebak dalam jebakan emosional yang semu di media sosial. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu