Olahraga tidak hanya berbicara tentang prestasi dan kompetisi, tetapi juga tentang perubahan sosial dan pemberdayaan manusia.
Adalah Prof. Dr. Rumpis Agus Sudarko, MS, guru besar kepelatihan olahraga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sosok yang peduli peran olahraga adaptif sebagai bagian penting dari pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pemberdayaan penyandang disabilitas.
Olahraga adaptif menjadi salah satu instrumen strategis dalam pembangunan olahraga inklusif. Menurut Rumpis, olahraga tidak hanya berdimensi fisik dan prestasi, tetapi juga memiliki fungsi yang mampu mengubah kualitas hidup individu, termasuk penyandang disabilitas.
Dia menegaskan bahwa pendekatan olahraga bagi atlet disabilitas tidak bisa disamakan dengan atlet non-disabilitas, karena memerlukan pemahaman, empati, dan kesadaran khusus dari para pelatih.
“Olahraga itu bukan sesuatu yang sederhana, di dalamnya ada dimensi sosial, ada perubahan hidup. Pelatih harus punya awareness terhadap kebutuhan teman-teman disabilitas,” ujar. Rumpis, Selasa (6/1/2026).
Keterlibatan Rumpis dalam olahraga disabilitas dimulai sejak 2008, ketika dipercaya menjadi bagian penyelenggara Pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional.
Sejak saat itu, sosok yang ramah ini aktif dalam berbagai struktur pembinaan olahraga disabilitas, mulai dari Badan Pembina Olahraga Cacat hingga National Paralympic Committee di Indonesia.
Rumpis juga pernah mendampingi atlet-atlet disabilitas dalam berbagai kejuaraan internasional, termasuk kejuaraan dunia dan ASEAN Paragames.
Secara tidak langsung, Rumpis menilai bahwa pendampingan atlet disabilitas memberikan pengalaman emosional yang kuat.
Dia menyebutkan bahwa kemandirian para atlet justru seringkali lebih tinggi dibandingkan atlet non-disabilitas, terutama ketika didukung fasilitas yang memadai.
Kepeduliannya pada olahraga adaptif dituliskannya dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar di tahun 2024.
Rumpis menekankan pentingnya pendekatan kepelatihan yang adaptif. Menurutnya, pelatih harus memahami aspek kognitif, afektif, teknis, sosial, budaya, hingga teknologi dalam melatih atlet disabilitas.
Kesalahan dalam berkomunikasi atau bersikap justru dapat menghambat perkembangan atlet. Dia mencontohkan bahwa membantu atlet disabilitas tidak selalu berarti melakukan segalanya untuk mereka.
“Ada kalanya niat membantu justru salah jika tidak dikomunikasikan terlebih dahulu. Pendekatan sosial-budaya itu harus sangat hati-hati,” ujar Rumpis.
Hasil dari pembinaan olahraga adaptif dari prestasi atlet disabilitas Indonesia, khususnya dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai menelorkan hasil.
Salah satu atlet bulu tangkis disabilitas bahkan berhasil meraih medali perak di ajang Paralimpiade dan menduduki peringkat satu dunia.
Selain itu, prestasi juga diraih dicabang catur, balap sepeda tandem, basket kursi roda, hingga renang.
Prestasi tersebut tidak hanya berdampak pada nama daerah dan negara, tetapi juga membuka akses pendidikan tinggi bagi atlet disabilitas.
Beberapa atlet bahkan diterima di perguruan tinggi hingga jenjang pascasarjana melalui jalur prestasi.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Rumpis menjelaskan bahwa pengembangan olahraga adaptif telah masuk dalam kurikulum fakultas olahraga, khususnya pada departemen pendidikan dan kepelatihan.
Mahasiswa dibekali pemahaman tentang cara melatih atlet disabilitas secara profesional dan beretika.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi dalam aspek fasilitas publik. Prof. Rumpis menyoroti bahwa belum semua sarana olahraga di Yogyakarta ramah disabilitas.
Dia berharap implementasi Peraturan Daerah tentang olahraga dapat mendorong penyediaan fasilitas yang lebih inklusif,, mulai dari akses tribun hingga sarana latihan.
Menutup perbincangan, Rumpis menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan olahraga disabilitas justru sering datang dari lingkungan keluarga.
Masih ada keluarga yang merasa malu atau ragu untuk memberi ruang bagi anggota keluarganya yang disabilitas. Oleh karena itu, Rumpis menekankan pentingnya pendekatan aktif dalam pemberdayaan olahraga disabilitas.
“Tidak cukup hanya memberi ruang dan waktu, tetapi kita juga harus menjemput mereka. Karena kalau sudah diberi kesempatan dan berprestasi, kepercayaan diri itu akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Rumpis.
Rumpis yang juga aktif di Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu, menyebutkan bahwa keberadaan Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (Hidimu) menunjukan kepedulian yang bisa dilanjutkan dengan pengenalan olahraga adaptif bagi para anggotanya.
Melalui olahraga adaptif, Muhammadiyah dan berbagai pemangku kepentingan berupaya mewujudkan manusia yang utuh dan berdaya, sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dan inklusivitas sosial. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments