Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah KH. Dr. Saad Ibrahim menegaskan bahwa manusia sejak awal telah dikaruniai mindset keindahan untuk menghadirkan keindahan dan kemaslahatan di muka bumi.
Hal itu ia sampaikan dalam Kajian Ramadan 1447 H yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi di Islamic Center Muhammadiyah Ngawi, Sabtu (7/3/2026).
Dalam ceramahnya, Kiai Saad mencontohkan kepemimpinan Lee Kuan Yew yang berhasil mengubah Singapura dari negara yang kumuh menjadi lingkungan yang bersih, tertata, dan penuh kesejahteraan—sebuah ikhtiar manusia untuk menghadirkan “keindahan seperti surga” di bumi.
Mengawali pemaparannya, Saad teringat oleh sosok Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura (1959 – 1990). Saad mengungkap bahwa dari sosok tokoh Singapura tersebut, terdapat sebuah pengajaran yang dapat dipetik di dalamnya terutama tentang ilmu ke khafilahan manusia dalam mewujudkan Surga di muka Bumi.
“Di tahun 1965, Mantan Perdana Menter Singapura, Lee Kuan Yew, dibuat gundah gulana dengan kondisi negaranya. Di mana sungainya keruh, orang-orang berpakaian kumuh, bahkan sukar menemukan anak-anak yang tersenyum,” jelas Kiai Saad.
Melanjutkan hal itu, Kiai Saad secara singkat menjelaskan bahwa Lee Kuan Yew pada akhirnya berhasil menyelesaikan kegundahannya.
Kiai Saad mengungkap bahwa membangun cara pandang (mindset), cara berpikir, dan kepekaan terhadap rakyatnya merupakan kunci utama Lee Kuan Yew dalam mengatasi problema krusial yang ada di negaranya.
“Lee Kuan Yew mencontoh negara Swiss. Ia pelajari sungainya relatif jernih, pohon-pohonnya rindang, masyarakatnya berpakaian bagus, anak-anak juga penuh dengan senyum,” tambah Saad.
Atas usahanya itu, pada akhirnya di era milenium ketiga (2000) masyarakat Singapura dapat merayakan keberhasilan dari perjuangan panjang sosok Lee Kuan Yew untuk mentransformasikan kondisi lingkungan setempat.
Lebih jauh, dengan inspirasi dari sosok Lee Kuan Yew, Kiai Saad menyebut bahwa secara tidak langsung praktik yang dijalankan oleh Lee Kuan Yew mengandung makna teologis yang tentang kekhafilahan manusia di muka bumi.
“Maknanya secara teologis, karena ia (Lee Kuan Yew) tidak mengambil dari Quran, tapi secara tidak langsung ia berusaha mewujudkan surga itu di bumi sesuai kadar kemampuan manusia,” jelasnya.
Allah Berikan Mindset Keindahan untuk Menciptakan Kesejahteraan
Sebagaimana penjelasan Al Quran, Surga digambarkan dengan sungai-sungainya yang jernih dan airnya dapat diminum, bahkan terasa seperti susu, ada juga yang seperti madu, dan lain sebagainya. Pakaian penghuni surga amat indah, dan anak-anak kecil disana penuh dengan senyuman.
Begitulah, jelas Kiai Saad, ketika menjelaskan kondisi Surga. Kemudian, ia merelevansikan hal itu dengan Nabi Adam, yang mana sebelum diturunkan di muka bumi, ia bersama Hawa telah merasakan hidup di Surga.
Skenario kehidupan Adam di Surga itu, menurut Saad bukanlah tanpa alasan, melainkan memberikan pengajaran kepada manusia supaya mindsetnya dapat diasuh oleh lingkungan yang serba keindahan, kesejukan, dan ketentraman.
“Bekal pengalamannya tidak bisa kita rasakan karena tidak diwariskan. Tapi, mindsetnya tentang surga itu diwariskan secara psikis genetik,” katanya.
Karena itulah, manusia memiliki sensitivitas terhadap kondisi lingkungan. Tentu, sebagai khafilah di bumi, manusia telah di ajarkan tentang keindahan oleh Allah sebelum diturunkannya di bumi.
“Fungsi itulah yang perlu dijaga agar manusia dapat senantiasa mengelola bumi dengan benar dan jauh dari kerusakan di muka bumi,” terang Kiai Saad.
Bersamaan dengan itu, menjelang akhir ceramahnya, Saad memngaksentuasikan perlunya mentransformasikan paradigma terhadap lingkungan berbasis nilai keislaman.
Upaya itulah yang kemudian diharapkan dapat menciptakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan perdamaian di muka bumi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments