Search
Menu
Mode Gelap

Saat Cahaya Ilmu Dicabut Satu per Satu, Apa yang Salah dengan Umat?

Saat Cahaya Ilmu Dicabut Satu per Satu, Apa yang Salah dengan Umat?
Empat foto ulama' yang meninggal ditahun 2025. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Pengajar di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan
pwmu.co -

Belakangan ini, dunia Islam kembali diliputi rasa duka yang mendalam. Sejumlah ulama, tokoh berilmu, dan figur panutan umat berpulang ke rahmatullah dalam rentang waktu yang relatif berdekatan.

Kepergian mereka bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga ruang hening yang mengajak umat untuk bertanya dan bertafakur: apa makna di balik dicabutnya cahaya-cahaya ilmu ini secara beruntun, dan amanah apa yang sesungguhnya sedang Allah titipkan kepada kita yang masih hidup?

Pada tahun 2025 hingga awal 2026, umat Islam kehilangan banyak sosok berilmu yang selama hidupnya menjadi rujukan, pendidik, dan penggerak dakwah. Di antaranya adalah Drs H. M Chozin, Ketua Yayasan Al Islam Al Hasyimi sekaligus anggota Majelis Tabligh PDM Lamongan yang wafat di Tenggulun, Ahad 11 Januari 2026 pukul 18.15 WIB.

Kemudian, Prof. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus tokoh yang memiliki keterkaitan historis dengan Muhammadiyah, yang wafat pada Januari 2026. Beliau dikenal sebagai pendidik ulung yang mendedikasikan hidupnya untuk kaderisasi umat melalui jalur pendidikan.

Duka juga datang dari Yogyakarta dengan wafatnya Ustaz Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, pada Senin pagi, 22 Desember 2025, di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sosok beliau dikenal luas sebagai penggerak masjid, pendakwah yang membumi, dan teladan dalam membangun Islam yang ramah sekaligus berdaya.

Dari Lamongan, umat Muhammadiyah kehilangan Pendekar Besar KH Ahmad Kasuwi Thorif, MA, Wakil Ketua PDM Lamongan sekaligus Anggota Pimpinan Pusat Tapak Suci. Wafat di usia 72 tahun, beliau bukan hanya dikenal sebagai pendekar besar, tetapi juga sebagai ulama yang tawadhu’, santun, dan mendalam ilmunya. Lahir pada 1953, beliau adalah figur yang menyatukan ilmu, akhlak, dan pengabdian dalam satu napas kehidupan.

Sebelumnya, pada 30 Juli 2025, umat juga berduka atas wafatnya Rosyad Soleh, pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan pernah menjabat sebagai sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sehari berselang, H. Suryadharma Ali, mantan Menteri Agama RI periode 2009–2014 yang juga dikenal sebagai kader Muhammadiyah, wafat pada 31 Juli 2025 di usia 68 tahun.

Dari Aceh, dua ulama kharismatik, Tgk H Rasyidin Ahmad (Waled Nura) dan Aba H Yunus bin Thaha, wafat pada 11 Juni 2025. Kepergian keduanya begitu mengguncang hingga jamaah haji Indonesia menggelar shalat ghaib sebagai bentuk penghormatan dan doa. Sementara itu, dari Sumatera Barat, wafatnya Buya Letter turut meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat yang selama ini menjadikannya rujukan ilmu dan keteladanan.

Dalam rentang tahun yang sama, ulama nasional lainnya seperti KH Lukmanul Hakim, Ketua MUI Bidang Ekonomi, wafat pada akhir September 2025. Kontribusinya dalam pengembangan ekonomi syariah dan penguatan etika sosial umat sangatlah besar. Menyusul kemudian KH Muhammad Syukri Unus, ulama sepuh dari Kalimantan Selatan, yang wafat pada awal Desember 2025 setelah puluhan tahun membina santri dan masyarakat.

Duka ini juga dirasakan umat Islam secara global. Ulama besar bidang hadits, Abu Ishaq al-Huwayni, wafat pada Maret 2025 di Qatar. Karya-karyanya dalam ilmu hadits menjadi rujukan dunia Islam. Disusul wafatnya Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al-Sheikh, Grand Mufti Arab Saudi, pada September 2025, sosok yang selama puluhan tahun menjadi suara utama fatwa dan penuntun umat.

Memasuki awal 2026, dunia Islam kembali kehilangan Sheikh Fazlur Rahim Ashrafi, seorang shaykh al-hadith dari Pakistan dan pemimpin lembaga pendidikan Islam besar.

Kepergian para ulama dan tokoh berilmu ini secara beruntun memunculkan kegelisahan kolektif: apakah ini sekadar rangkaian takdir individual, ataukah sebuah peringatan ilahiah bagi umat?

Dalam pandangan Islam, kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun. Allah Swt berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian” (QS Ali Imran: 185).

Ayat di atas menegaskan bahwa kematian adalah sunnatullah yang berlaku umum dan mutlak, tanpa pengecualian siapa pun, baik orang biasa maupun orang besar, baik awam maupun ulama, baik rakyat maupun pemimpin. Ungkapan kullu nafsin (setiap jiwa) menunjukkan keumuman dan kepastian; tidak ada satu makhluk hidup pun yang bisa menghindar dari hukum ini.

Ayat ini juga mengandung pesan ideologis dan moral yang sangat kuat: bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan fase ujian. Kematian adalah gerbang menuju pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatan. Karena itu, nilai seseorang tidak diukur dari lamanya hidup, popularitas, atau kedudukannya, tetapi dari kualitas iman, ilmu, dan amal saleh yang ditinggalkan.

Namun, wafatnya para ulama memiliki makna yang lebih dalam. Mereka bukan sekadar manusia, melainkan penjaga ilmu dan penuntun umat. Ketika satu per satu ulama berpulang, sesungguhnya yang dicabut bukan hanya nyawa, tetapi juga cahaya ilmu dari tengah-tengah umat.

Rasulullah SAW bersabda,

Iklan Landscape UM SURABAYA

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmidzi) 

Hadis Rasulullah Saw tersebut menegaskan kedudukan strategis ulama dalam Islam. Maknanya, ulama bukan sekadar orang yang banyak mengetahui dalil, tetapi penerus misi kenabian, yaitu menyampaikan kebenaran, membimbing umat, menegakkan akhlak, dan menjaga kemurnian ajaran Islam. Para Nabi tidak meninggalkan harta, kekuasaan, atau warisan materi, karena yang paling bernilai dan kekal adalah ilmu yang menuntun manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Hadis ini juga memberi pemahaman bahwa otoritas ulama bersumber dari keilmuan dan keteladanan, bukan dari status sosial atau kekayaan. Karena itu, ketika seorang ulama wafat, sejatinya yang hilang bukan hanya sosok pribadi, tetapi mata rantai transmisi ilmu jika tidak ada regenerasi yang sungguh-sungguh.

Inilah sebabnya Rasulullah saw dalam hadis lain menjelaskan bahwa ilmu tidak dicabut sekaligus dari dada manusia, tetapi dicabut dengan diwafatkannya para ulama, hingga manusia mengangkat pemimpin yang bodoh dan menyesatkan.

Dalam konteks kehidupan umat hari ini, hadis ini menjadi peringatan ideologis agar umat Islam tidak berhenti pada penghormatan simbolik kepada ulama, tetapi menyiapkan pewarisnya. Pewarisan ilmu hanya terjadi melalui proses belajar, kaderisasi, pengkaderan ulama-intelektual, dan pengamalan ajaran Islam secara nyata dalam kehidupan sosial.

***

Meski demikian, Islam tidak mengajarkan sikap tergesa-gesa menafsirkan setiap musibah sebagai tanda pasti kiamat. Yang lebih ditekankan adalah hikmah dan tanggung jawab. Bisa jadi, wafatnya para ulama secara beruntun adalah cara Allah mengingatkan umat agar tidak bergantung pada figur semata, tetapi segera bangkit menyiapkan generasi penerus ilmu. Ilmu tidak boleh berhenti di liang lahat, tetapi harus hidup dalam amal, karya, dan perjuangan generasi berikutnya.

Allah Swt mengajarkan doa,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah (Muhammad): Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS Thaha [20]: 114)

Ayat ini sebagai isyarat bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan, baik ketika hidup maupun setelah wafat. Ulama yang berpulang sejatinya telah menyelesaikan tugasnya, sementara amanah dakwah kini berpindah kepada umat yang masih hidup.

Menurut penulis, rangkaian wafatnya ulama dan tokoh berilmu dalam waktu berdekatan adalah peringatan halus namun tegas agar umat Islam tidak hanya pandai berduka, tetapi juga siap melanjutkan perjuangan. Umat yang sehat bukanlah umat yang hanya mengenang, melainkan umat yang membaca, belajar, mengamalkan, dan mewariskan ilmu.

Akhirnya, ketika Allah mencabut para ulama, itu bukan semata kehilangan, melainkan panggilan untuk bangkit. Bangkit mencintai ilmu, bangkit mendidik generasi, dan bangkit menegakkan kebenaran dengan akhlak dan hikmah. Semoga kita termasuk orang-orang yang setia menjaga warisan para ulama, hingga cahaya ilmu tetap menyala dari generasi ke generasi.

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments