Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Membela Teman yang Salah, Kita Sedang Mengundang Dosa

Iklan Landscape Smamda
Saat Membela Teman yang Salah, Kita Sedang Mengundang Dosa
Ilustrasi: health.clevelandclinic.org
pwmu.co -

Dalam pandangan Islam, mencocoki atau mengikuti teman dalam hal kemaksiatan meskipun berdosa hukumnya sangat dilarang (haram). Pun membela teman yang salah, itu artinya kita sedang mengundang dosa.

Islam menekankan pentingnya memilih teman dekat karena perilaku dan agama seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras kepada kita,

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ‘ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ‘ashabiyyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud No.4456).

‘Ashabiyyah adalah fanatik buta. Bersikap membela dan mengikuti pihak tersebut benar ataupun salah. Benar atau salah tetap dibela. ‘Ashabiyyah dilarang karena seharusnya seseorang membela kebenaran.

Imam Abu Dawud menuturkan Watsilah bin al-Asqa’ ra, bahwasanya ia mendengar bapaknya berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

“Saya (bapak Watsilah bin al-Asqa’ ra) bertanya, “Yaa Rasulullah, apa ‘ashabiyyah itu?” Beliau menjawab, “Kamu menolong kaummu atas kezaliman.” (HR. Imam Abu Dawud)

Hukum ‘ashabiyyah adalah, “haram.” Di antara perbuatan yang terkategori tindakan ‘ashabiyyah adalah membela keluarga dan kerabat meskipun mereka melakukan kemungkaran, kebatilan dan kezaliman.

Termasuk ‘ashabiyyah pula, membela perseorangan maupun kelompok yang jelas-jelas telah menyimpang dari kebenaran.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Sudah semestinya kita bisa memilah dan memilih mana yang haq dan mana yang hoax, mana yang betul dan mana yang bathil, mana yang asli dan mana yang palsu. Tidak asal membela dengan membabi buta…

Ternyata untuk mendapatkan dosa tidak harus melakukannya. Terkadang, ketika kita diam saat melihat orang lain melakukan kemaksiatan adalah salah satu bentuk dosa.

Begitupun ketika tidak berbuat kemungkaran, tetapi punya andil dalam terjadinya kemungkaran itu. Maka, kita juga akan memikul pertanggungjawabannya di akhirat nanti…

Terkait diam, tapi tetap mendapatkan dosa tidak hanya satu hadits yang membicarakan hal tersebut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ بْنُ زِيَادٍ الْمَوْصِلِيُّ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ عَدِيٍّ، عَنِ الْعُرْسِ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :”إِذَا عُمِلَتِ الْخَطِيئَةُ فِي الْأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا – وَقَالَ مَرَّةً : أَنْكَرَهَا – كَانَ كَمَنْ غَابَ عَنْهَا، وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا”.

أبو داود : سليمان بن الأشعث بن شداد بن عمرو بن إسحاق بن بشير الأزدي السجستاني

Dari al-‘Urs bin ‘Amirah al-Kindi r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Jika ada satu kemaksiatan dikerjakan di muka bumi, maka orang yang melihatnya kemudian membencinya atau mengingkarinya, maka ia seperti orang yang tidak melihatnya, yakni tidak berdosa. Sedangkan, orang yang tidak melihatnya, namun ia ridha dengan kemaksiatan tersebut, maka ia seperti orang yang melihatnya, yakni ikut berdosa.” (HR. Abu Daud)

Kita harus menghapus kemaksiatan atau kemungkaran semampunya. Jika mampu secara fisik, lakukanlah. Jika tidak, maka secara lisanlah. Jika tidak mampu juga, maka cukup dengan menjadikan hati kita tidak meridhainya, alias mengingkarinya.

Hadits ini merupakan salah satu dalil yang menyebabkan munculnya kaidah:

الرضا بالإثم إثم، الرضا بالمعصية معصية، الرضا بالمنكر منكر، الرضا بالكفر كفر

“Rida terhadap perbuatan dosa adalah perbuatan dosa. Rida terhadap kemaksiatan adalah kemaksiatan. Rida terhadap kemungkaran adalah kemungkaran. Ridha terhadap kekufuran adalah kekufuran.” (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡