Pelaksanaan Salat Tarawih hari ketigabelas Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Giri Gajah berlangsung khusyuk di Musholla Al-Jihad pada Ahad (1/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah adalah H. Sugeng Santoso dari Giri Gajah.
Dalam kultumnya, beliau mengangkat tema tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa sebagai inti dari ibadah puasa. Ia menyampaikan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi proses membersihkan hati dari penyakit batin.
Sugeng mengutip hadits Rasulullah SAW tentang segumpal daging dalam tubuh manusia—yakni hati—yang menentukan baik buruknya perilaku seseorang. Bila hati bersih, maka perbuatan akan mengikuti kebaikan. Sebaliknya, jika hati dipenuhi iri, dengki, sombong, dan amarah, maka seluruh perilaku turut tercemar.
Ia juga menafsirkan QS. Asy-Syams ayat 7–10 yang menjelaskan bahwa setiap manusia diberi dua potensi: kecenderungan menuju kefasikan dan kecenderungan menuju ketakwaan. Ayat “Qad aflaha man zakkaha” menjadi penegasan bahwa keberuntungan sejati ada pada kemampuan seseorang menyucikan jiwanya, bukan pada harta atau kedudukan.
Dalam penutup tausiyahnya, H. Sugeng menegaskan bahwa puasa adalah sarana ampuh untuk melatih pengendalian diri. Rasa lapar mengasah empati, sementara menahan amarah dan menjaga lisan menjadi latihan membersihkan hati. Proses ini dalam tradisi tasawuf dikenal dengan takhalli (mengosongkan diri dari sifat tercela), tahalli (menghias diri dengan sifat terpuji), hingga mencapai tajalli atau pencerahan batin.
Dengan demikian, puasa diharapkan tidak hanya menjadi ritual fisik, tetapi perjalanan spiritual yang menuntun pada ketakwaan yang lebih mendalam. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments