Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sambut Ramadan, SMP Muven Bekali Wali Murid Strategi Cetak Generasi Pembelajar

Iklan Landscape Smamda
Sambut Ramadan, SMP Muven Bekali Wali Murid Strategi Cetak Generasi Pembelajar
Ferry Yudi saat memaparkan tips mencetak generasi pembelajar. Foto: Fikri/PWMU.CO.
pwmu.co -

SMP Muhammadiyah 11 Surabaya (Muven) menggelar Kajian Tarhib Ramadan yang dihadiri para wali murid kelas 7, 8, dan 9, pada Sabtu (14/2/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, Ferry Yudi Antonis Saputra, S.H.I., M.Pd.I., CSTMI, sebagai pemateri. Kegiatan ini mengangkat tema “Menanam Benih Kesadaran: Strategi Orang Tua Mencetak Generasi Pembelajar di Bulan Suci”.

Dalam pemaparannya, motivator nasional itu menyampaikan bahwa seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi hebat apabila orang tuanya mau berjuang dan beramal secara luar biasa. Ia juga menegaskan bahwa orang tua maupun anak tidak boleh merasa minder dengan kondisi keluarga saat ini.

Dalam seratus tahun ke depan, generasi tentu akan terus berganti. Oleh karena itu, menurutnya, orang tua perlu memberikan yang terbaik bagi anak, terutama dalam hal pendidikan.

“Jika memiliki impian besar, jangan berhenti pada satu titik saja, tetapi libatkan anak dengan cara yang baik dalam proses membangun dan mewujudkan impian tersebut,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa generasi terbaik lahir dari generasi terbaik. Karena itu, orang tua hendaknya senantiasa mengiringi ikhtiar dengan doa serta berusaha secara maksimal.

“Bulan Ramadan merupakan bulan pembentukan karakter. Pembentukan tersebut tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga melibatkan peran keluarga,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa orang tua akan selalu menjadi model karakter bagi anak-anaknya. Jika orang tua menyuruh anak membeli rokok, anak pun berpotensi merokok. Hal itu karena anak merupakan peniru yang sangat ulung.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Munculkan kesadaran dari dalam dan bangun dari luar. Giring anak melakukan sesuatu dari apa menjadi mengapa,” imbuhnya.

Pembiasaan di sekolah akan menjadi sia-sia jika tidak didukung oleh orang tua di rumah. Misalnya, ketika orang tua terlalu sibuk bekerja atau asyik bermain gawai hingga kurang memberi perhatian kepada anak. Anak yang terlalu sering menggunakan gawai juga berpotensi mengalami hambatan dalam proses belajar.

“Anak zaman sekarang dihantam arus digitalisasi sehingga kepekaan mereka bisa menurun. Karena itu, sekolah, keluarga, dan lingkungan harus memiliki frekuensi yang sama dalam membangun karakter anak,” ujarnya.

Orang tua sejatinya mendidik anak untuk puluhan tahun ke depan. Jika menginginkan anak yang tangguh, maka visi orang tua pun harus jauh ke depan. Pendidikan yang diberikan kepada anak merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Anak bukanlah wadah yang sekadar diisi air, melainkan api yang perlu dipantik. Dengan begitu, anak akan tumbuh dan menjadi kebanggaan,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu