Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Darul Falah, Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, mengembangkan inovasi kemandirian ekonomi melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) berbasis pengelolaan sampah organik. Program tersebut dilaksanakan dalam skema hibah riset Muhammadiyah Batch IX Tahun 2025/2026 sebagai alternatif pakan lele yang lebih hemat dan efisien.
Program yang berlangsung pada Jumat (16/1/2026) tersebut mengusung tema “Dari Sampah Jadi Berkah: Budidaya Maggot oleh Santri Darul Falah sebagai Alternatif Pakan Lele Hemat dan Efisien.” Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Ali Usman, M.Pd., dengan anggota Nurhalim, S.T., M.Eng., dan Nely Ana Mufarida, S.T., M.T., dari Universitas Muhammadiyah Jember.
Program ini berangkat dari persoalan dalam budidaya lele, yaitu tingginya biaya pakan pabrikan yang dapat menyerap sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi. Oleh karena itu, pengembangan maggot BSF dipilih sebagai alternatif yang dinilai lebih ekonomis sekaligus memanfaatkan limbah organik secara produktif.
Pengasuh MBS Darul Falah, Safrizal Muhammad Arifin, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan bahwa program tersebut selaras dengan konsep pendidikan di pesantren.
“Santri tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik mengelola sampah dapur menjadi sesuatu yang bernilai. Ini sejalan dengan pendidikan kemandirian dan kepedulian lingkungan yang kami tanamkan,” ujarnya.
Berdasarkan observasi awal, pesantren menghasilkan limbah organik dapur sekitar 15 kilogram setiap hari. Limbah tersebut kemudian difermentasi dan dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot BSF yang memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi digunakan sebagai pakan lele.
Maggot yang dihasilkan telah dimanfaatkan untuk mendukung budidaya lele yang dikelola oleh Kelompok Budidaya Lele “Songot Manis”. Kelompok ini merupakan unit usaha santri yang menjadi mitra utama dalam program tersebut. Para santri terlibat dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari pengumpulan sampah organik, pembuatan media fermentasi, pemeliharaan maggot, hingga pemberian pakan kepada ikan lele di kolam budidaya.
Antusiasme santri dalam kegiatan ini tergolong tinggi. Namun, tim pelaksana mencatat bahwa budidaya maggot yang dilakukan selama ini masih bersifat insidental dan belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang baku. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas budidaya maggot belum mencapai tingkat yang optimal.
Ke depan, pengembangan program tidak hanya difokuskan pada pemanfaatan maggot segar. Tim pelaksana juga merencanakan produksi maggot kering serta kasgot, yaitu residu maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dari kegiatan budidaya maggot.
Selain itu, penguatan manajemen usaha juga menjadi bagian dari rencana pengembangan program. Hal ini meliputi pencatatan produksi, pengelolaan usaha, hingga pengembangan strategi branding dan pemasaran produk.
Ketua tim penelitian, Dr. Ali Usman, menegaskan bahwa tujuan utama program ini tidak hanya untuk menekan biaya produksi pakan lele.
“Kami ingin santri menjadi pelaku utama, mampu mengelola usaha dari hulu ke hilir, sekaligus berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan,” jelasnya.
Ke depan, budidaya maggot dan lele direncanakan dapat terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran keterampilan di pesantren secara rutin. Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sementara, tetapi dapat berkembang menjadi model pemberdayaan santri yang berkelanjutan serta memberikan dampak ekonomi bagi pesantren dan masyarakat sekitar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments