Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saring dan Sharing di Era Homo Digitalis

Iklan Landscape Smamda
Saring dan Sharing di Era Homo Digitalis
Penulis Ahmad Fikri

PWMU.CO – Ada istiilah bahwa saat ini dunia hanya ada dalam genggaman. Setiap orang dengan mudah mengakses informasi melalui gadget miliknya. Berita tentang problem sosial, ekonomi, politik, hingga berita seputar selebriti telah menjadi informasi rutin harian. Bahkan saat ini ceramah atau nasihat para ustadz kurang laku. Seseorang merasa tidak butuh guru untuk belajar agama, tapi cukup bermodal google untuk mendapatkan pengetahuan agama secara instan.

Dalam buku “Aku Klik Maka Aku Ada” karya Budi Hardiman menjelaskan hakikat manusia dalam realitas digital. Jika semula “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) maka kini berubah menjadi “premi ergo sum” (aku klik maka aku ada). Tidak ada yang lebih pasti daripada itu. Realitas digital yang kita alami saat ini, homo sapiens berubah menjadi homo digitalis.

Bersamaan dengan itu pula, kepastian layar menggeser kepastian realitas. Istilah “digital” berasal dari kata Latin “digitalis” yang artinya “jari”. Homo digitalis diartikan sebagai “manusia jari“, memastikan keberadaannya lewat jari yang meng-klik.

Namun, kepastian itulah yang perlu kita sangsikan di sini, jika kita tidak ingin seluruhnya dalam kendali genius malignus zaman kita yang menukar eksistensi korporeal dengan eksistensi digital.

Ironisnya, era digital ini terkadang informasi yang menyesatkan dan tidak dapat dipertanggung jawabkan, justru diyakini sebagai kebenaran. Penerima informasi terkadang tidak memahami isinya atau sekedar melihat judul tulisan, dan langsung menyebarkan (share) ke sosial media miliknya. Dampak, berita bohong tersebut mengakibatkan merubah orang baik menjadi jahat, hobi menyalahkan orang lain, mudah su’udzan (buruk sangka), gampang mencaci maki, merasa paling benar dan lain sebagainya.

Seharusnya kita berfikir waras bahwa tidak semua informasi yang ada di media sosial tidak mengandung kebenaran. Karena itu, jika mendapatkan informasi harus diuji dan diverifikasi lebih lanjut kebenarannya.

Bagi mereka yang berwawasan luas, serta mampu bersikap bijak dengan informasi yang sampai kepadanya, tentu bukanlah sebuah ancaman yang serius. Tetapi bagi orang awam dan tidak bijak bijak dalam menyikapi sebuah informasi, akan sangat berbahaya karena berpotensi mengakibatkan kesalahpahaman, perselisihan, pertikaian, konflik, dan sebagainya.

Karena itu, tabayyun (klarifikasi) menjadi hal yang penting. Al-Quran menjadikan tabayyun sebagai salah satu problem solving. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui ke- adaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujarat: 6)

Dalam At-Tafsir Al-Wajiz, Al-Wahidi memberikan beberapa pendapat dari imam qira’at (yaitu: Imam Hamzah dan Imam al-Kisai) bahwa membaca “fa tabayyanu” dengan “fa tsabbitu“, kedua kata tersebut mempunyai makna yang sama yaitu bersikap “taanny” artinya tenang ketika mendengarkan atau menerima sebuah informasi. Tidak dengan “ta’ajjul” atau  tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau kesimpulan dari informasi apapun yang belum pasti kebenaranya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Al-Wahidi juga berkomentar dalam tafsirnya bahwa kata “in” dalam ayat tersebut menunjukkan kepada sesuatu yang masih meragukan. Ayat ini memperjelas bahwa sebagai mukmin harus memiliki kesadaran dan kejernihan berpikir, mengetahui inti permasalahan, tidak merasa sok tahu semua urusan, atau dalam terminologi agama istilahnya madakhil al-umur.

Al-kisah dalam Sirah Nabawiyah  tentang peristiwa yang menimpa istri Baginda Rasulullah Saw, Sayyidah ‘Aisyah. Peristiwa ini dalam bahasa Al Quran sebgai haditsul ifki (berita bohong), yaitu berita hoaks (bohong) dari sebagian orang-orang munafik. Mereka telah menuduh Siti ‘Aisyah telah berselingkuh dengan sahabat nabi yang bernama Shafwan bin Al-Mu’atthal. Tanpa sepengetahuan ‘Aisyah tentang isu perselingkuhan tersebut, ternyata fitnah itu telah menyebar ke kemana-mana dan menjadi trending topic, dan sampai pula pada Nabi Muhammad Saw.

Setalah perkara tersebut menjadi jelas, maka Rasulullah segera memberi sanksi bagi mereka yang terlibat dalam penyebaran berita hoaks tersebut.  Allah sangat mencela serta memberikan ancaman yang cukup besar terhadap pelaku penyebaran berita dusta tersebut. Pelajaran berharga dari penggalan kisah yang disajikan Al Quran ini, hendaknya ketika mendengar berita-berita yang dapat mencederai atau melukai perasaan saudaranya, tidak  langsung menjustifikasi tanpa mengetahui hakikat yang terjadi atau melakukan klarifikasi secara langsung dari yang bersangkutan.

Sebagai muslim, seharusnya kita melakukan tabayyun  terlebih dahulu ketika mendapati berita, tidak asal percaya dan meyakini sebagai hal yang benar adanya. Bisa jadi hal yang kita anggap benar itu ternyata mengandung kepalsuan dan kebohongan, yang sengaja bertujuan untuk memecah belah umat.

Tindakan kita dalam menyebarkan informasi merupakan tindakan moral yang perlu dipertanggungjawabkan. Budi Hardiman memperingatkan “sebelum Anda klik pesan berisi hoaks, misalnya, Anda harus memikirkan apakah Anda ingin kebohongan menjadi aturan universal sehingga Anda dan semua orang lain tidak dapat menerima lagi informasi yang benar. Hanya makhluk irrasional dan tidak bermoral  yang akan melanjutkan klik itu. Jeda ini diperlukan sekurangnya untuk menyadari bahwa klik adalah sebuah tindakan moral.”

Hendaknya setiap mukmin kapan pun dan di mana pun ia berada, harus siap dan bijak dalam meyikapi segala bentuk informasi. Jangan merugikan pihak lain akibat kebodohan dan kecerobohan yang kita lakukan. Ironisnya lagi jika kemudian tanpa disertai penyesalan akibat tindakan yang diperbuatnya.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡