Penetapan 1 Ramadan 1447 H yang jatuh pada 18 Februari 2026 melalui Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) telah memicu diskusi hangat.
Sebagai mahasiswi yang bergelut dengan angka dan logika di FMIPA Unesa, sekaligus kader Nasyiatul Aisyiyah di Sukomanunggal, saya melihat transisi ini bukan sekadar perubahan kalender, melainkan sebuah paradigm shift (pergeseran paradigma) yang menuntut kecerdasan intelektual dan keluasan spiritual.
1. Logika Matematis dalam Kepastian Hisab
Dalam studi matematika, kita mengenal konsep aksioma dan kepastian fisis. KHGT bekerja dengan prinsip Hisab sebagai instrumen qath’i (pasti). Banyak yang bertanya: “Mengapa Indonesia puasa duluan padahal hilal baru terlihat belasan jam kemudian di Alaska?”.
Secara matematis, kita harus memahami bumi dalam satu putaran 24 jam yang terintegrasi. Kita di Indonesia memulai hari lebih awal karena posisi zona waktu, bukan karena mendahului takdir.
Hisab memberikan “tiket valid” atau kepastian variabel bahwa pada saatnya nanti, parameter hilal di Alaska pasti terpenuhi. Di matematika, jika sebuah fungsi sudah terbukti secara universal dalam satu domain (bumi), maka hasilnya valid untuk seluruh titik di domain tersebut.
2. Menghapus Sekat Geografis: Satu Hari Satu Tanggal
Sebagai Ketua PCNA, saya sering menekankan pentingnya persatuan. Selama ini kita sudah terbiasa dengan Garis Tanggal Internasional dalam pelaksanaan salat Jumat tanpa pernah protes mengapa Jumat dimulai dari Pasifik.
KHGT hanya mengukuhkan konvensi tersebut ke dalam sistem penanggalan Islam agar lebih teratur (kaidah al-‘adah muhakkamah).
Penerapan konsep Wilayatul Ardh (kesatuan wilayah bumi) adalah bentuk tertinggi dari ukhuwah. Jika saudara kita di belahan bumi lain (seperti Alaska) sudah melihat hilal secara syar’i dan astronomis, maka secara korps global, kewajiban itu jatuh kepada kita semua.
3. Warisan Intelektual yang Matang
Penting bagi kader muda seperti kita di Nasyiatul Aisyiyah untuk mengetahui bahwa KHGT bukanlah keputusan “kemarin sore”. Ini adalah buah ijtihad panjang selama 19 tahun yang diinisiasi sejak era Prof. Din Syamsuddin pada 2007 dan melalui verifikasi (tahqiq) yang sangat ketat. Ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang melintasi zaman dengan basis ilmu pengetahuan.
Kesimpulan
Bagi saya, menjalankan Ramadan 1447 H dengan sistem KHGT adalah wujud ketaatan pada sistem yang memberikan kepastian ilmu. Ini adalah cara kita melunasi “utang peradaban” selama 14 abad untuk memiliki sistem penanggalan yang unifikatif.
Mari kawan-kawan PCNA Sukomanunggal dan rekan-rekan mahasiswa, kita sambut Ramadan ini dengan penuh keyakinan.
Tidak perlu ragu, karena secara astronomis, langkah kita pun selaras dengan kriteria di Mekah (Ummul Quro). Mari kita syiarkan bahwa Islam adalah agama yang mencintai keteraturan dan ilmu pengetahuan.
Wallahu a’lamu bis shawab. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments