Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SD Mudipat, Kawah Candradimuka Calon Kepala Sekolah

Iklan Landscape Smamda
SD Mudipat, Kawah Candradimuka Calon Kepala Sekolah
The Millenium Building, salah satu fasilitas yang dimiliki SD Mudipat. Foto : Mulyanto/Humas
pwmu.co -

Di Surabaya, ada sebuah sekolah dasar yang namanya sering disebut-sebut sebagai “laboratorium” calon kepala sekolah.

Sekolah itu adalah SD Muhammadiyah 4 Surabaya, yang lebih akrab dikenal dengan sebutan SD Mudipat.

Terletak di Jalan Pucang Anom, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar anak-anak, tetapi juga kawah candradimuka bagi para pendidik yang ingin menimba ilmu kepemimpinan sekolah.

Didirikan pada 1 Januari 1963, SD Mudipat awalnya tidak jauh berbeda dengan sekolah dasar pada umumnya. Tidak ada yang menonjol. Namun, waktu membuktikan sebaliknya.

Dari tahun ke tahun, sekolah ini tumbuh menjadi salah satu sekolah unggul di Surabaya, bahkan di Indonesia. Prestasi demi prestasi diraih, mulai dari tingkat kota, provinsi, nasional, hingga internasional.

Keberhasilan itu rupanya membuat banyak pihak ingin belajar. Sejak pertengahan 1990-an, nama SD Mudipat mulai dikenal sebagai tempat rujukan magang bagi calon kepala sekolah maupun guru.

Meski tidak ada catatan resmi, beberapa alumni dan pengurus sekolah menyebut tradisi itu sudah berlangsung sejak tahun 1996–1997.

Dr. KH. M. Sholihin Fanani, salah seorang kepala sekolah yang pernah memimpin SD Mudipat, mengaku awalnya tak tahu persis mengapa sekolahnya begitu diminati. Namun, hampir setiap bulan ia menerima surat permohonan magang dari berbagai daerah.

“Surat masuk, tentu kita tanggapi dengan tangan terbuka,” kenangnya. Kini, Sholihin menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

SD Mudipat, Kawah Candradimuka Calon Kepala Sekolah
Tiga bangunan mewan yang dimiliki SD Mudipat. Foto: Istimewa

Para calon kepala sekolah itu tidak hanya datang dari sekitar Surabaya atau Jawa Timur, melainkan juga dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Riau, Lampung, dan daerah-daerah lain. Bagi mereka, belajar langsung dari budaya kerja SD Mudipat menjadi pengalaman berharga.

Salah satu alasan yang membuat Mudipat dilirik adalah keberhasilannya menjaga kepercayaan masyarakat. Sekolah ini nyaris tak pernah kekurangan pendaftar. Setiap tahun ajaran baru, kursi murid selalu penuh. Bahkan, jauh sebelum musim penerimaan murid dimulai, pihak sekolah sudah berani memasang spanduk besar: “Mohon Maaf, PPDB SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya Sudah Tutup.”

Tak jarang, orang tua rela mendaftar lebih awal untuk memastikan anak mereka mendapat tempat. “Banyak yang inden untuk tahun ajaran berikutnya. Bahkan ada yang daftar untuk dua tahun mendatang,” ungkap Sholihin.

Fenomena ini membuat SD Mudipat tidak hanya menjadi sekolah favorit bagi para orang tua, tetapi juga pusat pembelajaran bagi para calon pemimpin sekolah.

Dari sinilah istilah “kawah candradimuka calon kepala sekolah” tersemat pada SD Mudipat—sebuah sekolah yang bukan hanya mencetak murid berprestasi, tetapi juga menginspirasi lahirnya pemimpin pendidikan di berbagai penjuru negeri.

SD Mudipat, Kawah Candradimuka Calon Kepala Sekolah
Edy Susanto, M.Pd, kepala SD Mudipat. Foto: Istimewa

Belajar dari Lapangan, Tidur di Masjid

Magang di SD Mudipat bukan sekadar menonton dari kejauhan. Para calon kepala sekolah yang datang harus siap terjun langsung, menyatu dengan denyut kehidupan sekolah. Proses magang biasanya berlangsung selama sebulan penuh. Tidak ada fasilitas istimewa yang disediakan. Semua peserta hanya mengandalkan bekal pribadi serta semangat untuk belajar.

“Pada awalnya mereka memang harus siap hidup seadanya. Kami tidak punya guest house atau asrama. Jadi, tempat tidur yang paling memungkinkan adalah di masjid sekolah,” cerita Kepala SD Mudipat, Edy Susanto, M.Pd, sambil tersenyum mengingat pengalaman para peserta.

Bagi sebagian orang, tidur di masjid mungkin terdengar merepotkan. Namun, bagi para calon kepala sekolah, pengalaman itu justru menjadi bagian dari pelajaran berharga. Mereka belajar kesederhanaan, kedisiplinan, dan bagaimana sekolah Muhammadiyah membangun budaya religius sejak dari hal-hal kecil.

Soal materi magang, Edi menjelaskan ada tiga tahapan utama. Pertama, orientasi kelembagaan. Pada tahap ini, para peserta mendapat pembekalan langsung dari kepala sekolah serta wakil kepala sekolah sesuai bidang masing-masing—mulai dari humas, kesiswaan, sarana prasarana, hingga bidang kemuhammadiyahan.

“Orientasi ini semacam pintu masuk. Mereka mengenal sistem kerja dan nilai-nilai yang dijalankan di Mudipat,” ujar Edy.

Tahap kedua adalah observasi lapangan. Di sinilah para peserta benar-benar terjun mengikuti denyut aktivitas sekolah. Mereka mengamati proses pembelajaran di kelas, ikut mendampingi kegiatan siswa, hingga duduk dalam rapat guru.

Semua dijalani secara penuh, dari pagi hingga sore. Bahkan, mereka pun terikat dengan rutinitas spiritual sekolah. “Peserta magang harus masuk pagi, ikut piket, salat dhuha, dan semua salat berjamaah di sekolah. Mereka juga bisa belajar dari kegiatan di luar kelas,” tambah Edy.

Tahap ketiga adalah penyusunan laporan. Setiap peserta diminta menuliskan pengalaman mereka secara detail: apa yang diketahui sebelum magang, apa yang dipelajari selama di Mudipat, dan apa yang akan dibawa pulang sebagai bekal kepemimpinan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Laporan itu dibuat tiga rangkap. Satu untuk sekolah, satu untuk Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), dan satu lagi untuk arsip pribadi mereka sendiri,” jelas Edi.

Dari serangkaian tahapan itu, jelas terlihat bahwa magang di Mudipat bukan sekadar formalitas. Ada nilai yang ditanamkan, yakni kesungguhan, kedisiplinan, dan keberanian belajar dari pengalaman nyata.

SD Mudipat, Kawah Candradimuka Calon Kepala Sekolah
(ki-ka) Dr. KH. M. Sholihin Fanani, Dr. Mulyana AZ, dan Edy Susanto, M.Pd yang ikut membesarkan SD Mudipat. Foto: Istimewa.

Dari Magang hingga Jadi Pemimpin

Banyak kisah sukses lahir dari pengalaman singkat namun berharga itu. Salah satunya adalah Pahri S.Ag, MM. Ia pernah menjadi kepala SD Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Malang. Saat pertama kali memimpin, sekolahnya masih sepi peminat. Jumlah murid bisa dihitung dengan jari.

Namun, setelah mengikuti magang di SD Mudipat, dia pulang dengan cara pandang baru. Sekolah yang semula kurang diminati berubah menjadi sekolah besar dengan ribuan siswa, bahkan memiliki pondok pesantren.

Jejak kepemimpinannya terus berlanjut hingga kini. Dia dipercaya ikut menangani Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) sebagai kepala SMP-SMA. Pahri juga menjabat Ketua Forum Guru Muhammadiyah Indonesia.

Cerita serupa datang dari Said Matondang, M.Pd. Ia pernah menjabat Kepala SD Muhammadiyah 5 Limau, Kebayoran, Jakarta Selatan. Setelah magang di Mudipat, kariernya kian menanjak. Kini, ia memimpin Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebayoran Baru, bahkan dipercaya sebagai Ketua PCM Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Lalu ada Turrahman, M.Pd., yang dulu menjadi kepala SMP Muhammadiyah 1 Adiwerna, Tegal. Pengalaman belajarnya di Mudipat memperkaya wawasannya. Kini, ia dipercaya memimpin sebuah pondok pesantren.

Rekannya, Daryono, M.Pd., yang semula kepala SD Muhammadiyah 1 Adiwerna, kini menjadi kepala SMP Muhammadiyah 1 Adiwerna Tegal selama empat periode berturut-turut—prestasi kepemimpinan yang jarang terjadi.

Kisah lain datang dari Sutomo, M.Ag., mantan kepala SD Muhammadiyah 1 Salatiga. Berkat bekal pengalaman magang di Mudipat, ia kini menjabat Ketua Umum Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Pusat periode 2023–2027.

Menariknya, jika dulu program magang ini berlangsung selama sebulan penuh, kini durasinya dipadatkan menjadi seminggu. Perubahan ini menyesuaikan kebutuhan dan kesibukan para calon kepala sekolah.

Meski lebih singkat, esensi dan substansinya tetap sama. Dalam tujuh hari, para peserta digembleng padat—dari orientasi kelembagaan, observasi lapangan, hingga penulisan laporan.

“Sekarang waktunya lebih ringkas, hanya seminggu. Tapi materi yang disampaikan tetap lengkap. Justru lebih padat dan fokus,” ujar Kepala SD Mudipat, Edi Susanto, M.Pd.

Cerita-cerita sukses alumni memperkuat reputasi Mudipat sebagai kawah candradimuka para pemimpin sekolah Muhammadiyah. Dari sinilah kemudian muncul kepercayaan masyarakat yang luar biasa.

Setiap kali musim penerimaan siswa baru, spanduk besar bertuliskan “Mohon Maaf, PPDB SD Muhammadiyah 4 Pucang Sudah Tutup” selalu terpampang.

SD Mudipat, Kawah Candradimuka Calon Kepala Sekolah
Edy Susanto bersama siswa SD Mudipat saat melakukan studi banding ke Jepang. Foto: Istimewa

Menariknya, popularitas Mudipat tidak dibarengi dengan pungutan biaya magang. Semua yang datang belajar, diterima dengan tangan terbuka, tanpa dipungut sepeser pun. Tagline sekolah ini, “Maju dan Bersinar Bersama”, benar-benar terwujud.

Tentu, perjalanan magang tidak lepas dari kendala. Edi menyebut ada tiga tantangan utama. Pertama, belum tersedianya guest house sehingga peserta harus tidur di masjid sekolah. Kedua, soal manajemen waktu, karena ada peserta yang memilih pulang ke rumah dan kembali lagi. Ketiga, kesulitan menulis laporan.

“Banyak peserta awalnya tidak terbiasa menulis. Tapi setelah dipaksa, ternyata bisa. Bahkan, dari sanalah muncul banyak catatan penting tentang manajemen sekolah,” jelasnya.

Dengan segala keterbatasan itu, Mudipat tetap membuktikan diri. Kesuksesan sekolah ini tidak lahir dari fasilitas mewah, melainkan dari budaya kerja keras, keikhlasan, dan keseriusan belajar.

Maka tidak heran, meski sekarang magang hanya berlangsung seminggu, banyak yang menganggap pengalaman di Mudipat tetap sepadan dengan bertahun-tahun memimpin sekolah di tempat lain. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu