
PWMU.CO – Sabtu pagi (12/7/2025), tiga pimpinan SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman—dikenal sebagai SD Mumtaz—bergerak ke empat titik berbeda di Sidoarjo. Misinya tunggal dan tak sederhana: menyalakan obor pengasuhan dalam jiwa para orang tua, menyampaikan risalah pendidikan yang menumbuhkan iman dan peradaban.
Di tengah gelombang zaman yang menuntut kecepatan, Mumtaz memilih mendekap umat. Tidak hanya mengajar murid di ruang kelas, tetapi juga hadir di jantung keluarga. Menyapa ayah dan bunda, membuka pintu-pintu kesadaran bahwa mendidik anak adalah dakwah panjang yang mesti ditunaikan bersama.
Di TK Al-Amin Wage, Fatchul Mubarok SThI MPd, Kepala SD Muhammadiyah 2 Taman, membuka pagi dengan materi Strategi Orang Tua Menghadapi Tantangan Gen Alpha. Ia bukan sekadar mengisi seminar, tetapi membangkitkan kesadaran bahwa anak adalah ladang amal, bukan proyek prestasi semata.
“Jangan tunggu anak dewasa untuk diajari nilai. Justru masa TK adalah usia emas untuk menanamkan akhlak mulia,” ucapnya dengan suara yang tenang namun dalam, menyentuh kalbu para orang tua yang hadir.
Ia menegaskan bahwa penguatan karakter tidak dapat ditunda. Dalam derasnya arus digital dan budaya instan, orang tua adalah garda terdepan penjaga fitrah.
Apresiasi: Bahasa Cinta yang Membangun Jiwa
Di KB-RA IT Lebah Ceria, kehangatan memancar dari Heni Dwi Utami SSos SPd Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas yang juga Koordinator Home Care dan Terapi Inklusi SD Mumtaz. Dengan tema Cara Efektif Memberi Apresiasi kepada Anak, ia menyuguhkan perspektif yang sering luput: bahwa setiap anak haus akan afirmasi.
“Anak bukan hanya butuh makanan bergizi, tapi juga kalimat-kalimat yang menguatkan. Apresiasi adalah bahasa cinta yang menghidupkan jiwa,” katanya penuh empati.

Ia mengajak para orang tua untuk tidak pelit memuji, tetapi juga tidak asal memanjakan. Sebab, apresiasi sejati adalah yang terarah, tulus, dan membangun jati diri anak sebagai insan berakhlak.






0 Tanggapan
Empty Comments