Mendidik dalam Doa, Menumbuhkan dalam Ikhlas

Sementara itu, di PG-TK Al-Azizi, nuansa spiritual kental terasa. Amrozi SFilI MPd Wakil Kepala Sekolah Bidang Al-Islam, membawakan materi Orang Tua Hebat, Anak Dahsyat. Dalam gaya tutur yang teduh dan menyentuh, ia memantik renungan mendalam tentang tanggung jawab ruhani seorang ayah dan ibu.
“Anak adalah amanah. Maka orang tua hebat bukan yang sempurna, tapi yang terus belajar dan bersungguh-sungguh dalam ikhtiar mendidik dengan sabar dan istiqamah,” ucapnya lirih, namun menggugah.
Ia mengajak hadirin melihat anak bukan sebagai beban, tetapi sebagai ladang pahala. Bahwa pendidikan bukan hanya soal kemampuan, melainkan keikhlasan yang tak henti tumbuh.
Dakwah Mumtaz: Dari Kelas Menuju Umat
Tiga pemateri. Tiga titik. Satu semangat: membumikan nilai-nilai Islam dalam pengasuhan. Bagi SD Mumtaz, ini bukan sekadar program, melainkan bagian dari syiar dan tanggung jawab sosial keumatan.
Mumtaz memahami, pendidikan sejati tak berhenti di pagar sekolah. Ia mesti menjangkau rumah-rumah, merangkul keluarga, dan menggerakkan hati. Maka, inilah dakwah dalam wajah pendidikan: menghidupkan kembali peran orang tua sebagai madrasah pertama.
Di tengah era kompetisi, Mumtaz hadir sebagai oase—menawarkan nilai, bukan sekadar angka. Menyapa umat bukan dengan klaim prestasi, tetapi dengan ketulusan untuk terus membersamai tumbuhnya generasi saleh dan cerdas.
Sebab, mendidik bukan sekadar kewajiban, tetapi peradaban yang dibangun dari cinta dan kolaborasi.
Inilah SD Mumtaz: sekolah Islam modern yang tak hanya mendidik murid, tetapi juga menginspirasi keluarga. Sekolah yang bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah syiar untuk umat.
Penulis Inggit Iksan Ferredika Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments