SD Muhammadiyah 1&2 Taman (SD Mumtaz) meneguhkan komitmennya menghadirkan layanan pendidikan inklusif dengan menggelar Seminar Internasional Public Talk sekaligus Grand Launching Inclusive Home Care & Therapy Program di Aula Mas Masyur, Komplek Al-Manar, Sepanjang, Sabtu (20/9/2025).
Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Fazlin Sofia binti Mat Ghani dari Professional Special Learning Centre (PSLC) Malaysia dan Dr. Mierrina, M.Si., Psikolog, dosen sekaligus praktisi psikologi dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Keduanya membagikan pengalaman serta wawasan tentang strategi pendidikan inklusi, layanan terapi, dan pentingnya sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Sebagai tindak nyata, SD Mumtaz resmi meluncurkan program inovatif Inclusive Home Care & Therapy Program. Program ini dirancang untuk memberikan layanan terapi, pendampingan belajar, serta konsultasi psikologi yang terintegrasi antara sekolah dan rumah, sehingga anak mendapatkan dukungan penuh di kedua lingkungannya.
PSLC sendiri merupakan lembaga pendidikan dan terapi anak berkebutuhan khusus berbasis di Malaysia. Lembaga ini dikenal melalui pendekatan riset, metode terapi modern, serta pelatihan bagi orang tua dan guru. Dengan rekam jejak panjang, PSLC menjadi mitra strategis SD Mumtaz dalam mengembangkan layanan inklusif berstandar internasional.
Pendidikan Inklusif
Dalam materinya, Fazlin Sofia menegaskan bahwa setiap anak adalah unik. Dengan terapi yang tepat, bimbingan konsisten, dan dukungan lingkungan, anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat berkembang bahkan melampaui batasan yang diberikan masyarakat.
“Kolaborasi SD Mumtaz dengan PSLC adalah langkah penting menuju pendidikan inklusif yang lebih maju di Indonesia,” paparnya.
Sementara itu, Dr. Mierrina menyoroti pentingnya aspek psikologis dan peran keluarga.
“Anak dengan kebutuhan khusus tidak bisa berjalan sendiri. Mereka membutuhkan ekosistem yang mendukung. Sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bergerak bersama. Melalui program ini, kita ingin menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, tetapi langkah nyata yang berdampak langsung pada perkembangan anak,” tuturnya.
Selain seminar, acara juga menampilkan perayaan inklusivitas. Para siswa ABK tampil percaya diri menunjukkan bakat mereka di depan audiens, menghadirkan suasana hangat sekaligus haru. Hal ini menjadi bukti bahwa dengan dukungan tepat, setiap anak mampu berkarya dan menginspirasi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Ng. Tirto Adi, MP, M.Pd., turut memberikan apresiasi.
“Saya bangga dengan SD Mumtaz. Sekolah ini menjadi yang pertama membuka program terapi bagi anak PDPD, dan saya berterima kasih atas terselenggaranya acara luar biasa ini,” ujarnya.
Melalui seminar internasional dan peluncuran program baru ini, SD Mumtaz menegaskan diri sebagai pelopor sekolah inklusif di wilayah Taman dan sekitarnya. Kolaborasi dengan PSLC Malaysia diharapkan menjadi pijakan awal untuk menghadirkan layanan inklusif berstandar global, sekaligus memberi inspirasi bagi sekolah lain dan membuka lebih banyak kesempatan bagi anak PDPD untuk berkembang sesuai potensinya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments