Chaterine Diamond, profesor ekologi asal Amerika Serikat (AS), memilih cara yang tak biasa untuk menanamkan kesadaran lingkungan di kampus.
Dia tak hanya memberikan kuliah tamu atau seminar sehari, tetapi tinggal lebih dari sebulan di fakultas, berbaur dengan mahasiswa, dan setiap hari melatih mereka membuat teater bertema ekologi.
Chaterine yang kini menetap di Taiwan dan mengajar di Soochow University, sejak Januari hingga Februari 2026, dia tinggal di Fakultas Pendidikan, Komunikasi dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), menjalani hari-hari yang padat bersama mahasiswa.
Berbeda dari visiting professor pada umumnya yang datang, mengajar, lalu kembali ke negaranya, Chaterine memilih menetap di lingkungan fakultas. Selama lebih dari satu bulan, dia hadir setiap hari untuk melatih mahasiswa menyusun dan memainkan teater bertema ekologi.
Teater tersebut dirancang sebagai medium refleksi kritis tentang krisis lingkungan. Tentang perubahan iklim, sampah plastik, eksploitasi alam, hingga pola konsumsi manusia modern.
Mahasiswa tidak hanya berlatih akting, tetapi juga diajak mendalami isu-isu ekologis secara konseptual dan emosional.
“Teater adalah cara untuk membuat orang merasakan, bukan hanya memahami,” begitu kata Chaterine.
Melalui dialog, gerak tubuh, dan ekspresi, dia mengajak mahasiswa menghidupkan persoalan lingkungan dalam panggung yang menyentuh hati.
Rencananya, pertunjukan teater ekologi ini akan dipentaskan pada Juni 2026 mendatang. Chaterine dijadwalkan kembali ke fakultas selama dua bulan untuk mematangkan produksi sekaligus mendampingi mahasiswa hingga pementasan.
Proyek kolaboratif ini sendiri dirancang berlangsung selama dua tahun, sebagai upaya berkelanjutan membangun kesadaran lingkungan berbasis seni.
Selain melatih teater, Chaterine juga sempat memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa. Dia membahas ekologi bukan hanya sebagai ilmu tentang lingkungan, tetapi sebagai etika hidup.
Dia menekankan pentingnya perubahan gaya hidup, kebijakan berkelanjutan, serta peran generasi muda dalam merespons krisis iklim global.
Perspektif global yang ia bawa dari pengalaman di Amerika dan Taiwan, membuka cakrawala baru bagi mahasiswa tentang bagaimana isu lingkungan dipahami lintas negara dan budaya.
Komitmen ekologinya tidak berhenti di ruang kelas atau panggung teater. Dalam keseharian, Chaterine dikenal sebagai seorang vegan. Ia tidak mengonsumsi daging, termasuk daging ikan. Baginya, pilihan makanan adalah bagian dari sikap etis terhadap lingkungan.

Gado-Gado Tanpa Telur
Selama tinggal di Surabaya, Chaterine sangat selektif terhadap makanan. Ia menghindari makanan yang dibungkus plastik dan lebih memilih sajian sederhana yang minim limbah.
Salah satu makanan favoritnya adalah gado-gado tanpa telur karena dianggap lebih ramah lingkungan dan sesuai prinsip hidupnya.
Sikap konsisten ini menjadi pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya melihat teori tentang keberlanjutan, tetapi juga praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Yang membedakan Profesor Diamond dari kebanyakan profesor tamu adalah keterlibatan totalnya. Ia tidak sekadar hadir untuk berbagi materi, tetapi membangun relasi, mendampingi proses kreatif, dan hidup bersama dinamika kampus.
Selama sebulan lebih di FPKS Umsura, hari-harinya diisi dengan diskusi, latihan, revisi naskah, hingga refleksi bersama mahasiswa. Pendekatan partisipatif ini menciptakan pengalaman belajar yang mendalam dan personal.
Proyek teater ekologi ini diharapkan tidak hanya melahirkan pertunjukan seni, tetapi juga gerakan kesadaran baru di kalangan mahasiswa. Bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana akademik, melainkan panggilan moral yang bisa disuarakan melalui berbagai medium—termasuk panggung teater.
Dengan komitmen dua tahun ke depan, kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan kampus sebagai ruang hidup yang lebih sadar lingkungan, kreatif, dan berdaya dampak.

Internasionalisasi yang Berkelanjutan
Dekan FPKS Umsura Achmad Hidayatullah, S.Pd., M.Pd., PhD, menuturkan bahwa program Visiting Professor ini merupakan langkah konkret dalam mengimplementasikan visi internasionalisasi fakultas.
“Kami tidak sekadar menghadirkan pakar luar negeri untuk memberikan kuliah umum, tetapi membangun kolaborasi akademik yang berkelanjutan dalam bentuk proyek bersama selama dua tahun,” ujarnya.
Pada tahap pertama, lanjut Hidayat, profesor tersebut berkegiatan dan tinggal bersama civitas akademika selama dua bulan untuk terlibat langsung dalam riset serta pendampingan akademik soal ekologi bagi mahasiswa setiap hari.
“Kami ingin menegaskan bahwa internasionalisasi bukanlah agenda seremonial. Kehadiran akademisi internasional dalam jangka panjang akan membentuk ekosistem akademik yang lebih global, memperkuat budaya riset, dan meningkatkan kualitas kolaborasi lintas negara di fakultas kami,” tandasnya.
Menurutnya, pola pendampingan intensif seperti ini menjadi model baru dalam kerja sama internasional di lingkungan kampus. Tidak hanya bertukar gagasan, tetapi membangun proyek nyata, proses kreatif, dan jejaring riset jangka panjang.
“Dua tahun ke depan, kolaborasi antara FPKS Umsura dan Profesor Chaterine Diamond diharapkan melahirkan bukan hanya pertunjukan teater ekologi, tetapi juga generasi mahasiswa yang memiliki sensitivitas sosial, kesadaran lingkungan, dan perspektif global yang kuat,” pungkas Hidayat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments