Di tengah popularitas lagu “Sedia Aku Sebelum Hujan” yang belakangan viral, pesan tentang pentingnya kesiapsiagaan hidup juga mengemuka dalam kajian bertema “Sedia Payung Sebelum Hujan” yang disampaikan oleh Ustadz H. Abd. Ghani, S.Pd., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumenep, di Masjid Mujahidin, Sumenep.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Abd. Ghani membuka kajian dengan analogi kehidupan sehari-hari. Ia mengisahkan seseorang yang mengendarai sepeda motor pada musim hujan dalam keadaan terburu-buru tanpa membawa jas hujan. Menurutnya, kondisi tersebut menggambarkan sikap kurangnya kesiapan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.
“Ketergesaan dan ketidaksiapan sering kali membuat kita sulit oleh keadaan itu sendiri,” ujarnya.
Kajian tersebut mengangkat QS. Al-Hasyr ayat 18 sebagai landasan utama. Ayat ini disebut sebagai ayat yang mengajarkan sikap visioner, karena mengingatkan setiap mukmin agar memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Ia menjelaskan bahwa refleksi terhadap masa lalu tetap diperlukan, namun tidak boleh menghilangkan fokus pada masa depan.
“Seperti halnya sepeda motor yang memiliki spion untuk melihat ke belakang, kita boleh menoleh ke masa lalu, tetapi tidak terus-menerus menatapnya. Arah pandang utama tetap ke depan,” jelasnya.
Menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan memperbaiki masa lalu, Ustadz Abd. Ghani menegaskan bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi dapat diperbaiki melalui tindakan di masa kini.
“Karena masa kini, kelak, akan menjadi masa lalu,” tegasnya.

Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “Ightanim khamsan qabla khamsin” (manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara). Lima perkara tersebut meliputi masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. Ia juga mengutip perkataan Imam Abu Syuja’, “Karena aku menjaga masa mudaku, maka Allah menjagaku di masa tuaku.”
Lebih lanjut, penceramah menyampaikan bahwa kebenaran bersifat mutlak, namun pemahaman individu terhadap kebenaran dapat berbeda, bergantung pada tingkat keimanan, amal, serta cara pandang masing-masing.
Dalam upaya mempersiapkan masa depan, Ustadz Abd. Ghani memaparkan tujuh kekuatan yang perlu dibangun. Pertama, quwwatul iman melalui penguatan keyakinan dan pembinaan ruhani. Kedua, quwwatul ilmi yang diperoleh melalui proses belajar dan pengamalan ilmu. Ketiga, quwwatul jasad dengan menjaga kesehatan fisik. Keempat, quwwatul ibadah. Kelima, quwwatul khuluq. Keenam, quwwatul iqtishad atau kemandirian ekonomi. Ketujuh, quwwatur rahim sebagai kekuatan dalam menjaga silaturahmi.
Menutup kajian, Ustadz Abd. Ghani berharap, “Mudah-mudahan seluruh payung yang disiapkan dalam kehidupan dunia dapat menjadi bekal untuk menyongsong kehidupan akhirat,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments