Search
Menu
Mode Gelap

Sejarah Asal Mula Desa Godog

Sejarah Asal Mula Desa Godog
pwmu.co -
Suasana saat rapat para Tokoh Desa Godog. (Dokumen Sejarah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Asal mula Desa Godog berawal dari sebuah tempat bernama Meliwis, yang kini dikenal sebagai area pemakaman Desa Godog.

Pada masa itu, penduduk Meliwis mengalami kesulitan mendapatkan air, sehingga mereka terpaksa mencari sumber air di tempat lain. Dengan izin Allah, mereka akhirnya menemukan sebuah tempat bernama Kliteh, yang memiliki sumber air yang melimpah.

Di sekitar Kliteh, terdapat pohon besar yang digunakan untuk berteduh. Saat merasa lapar, para pencari air ini menemukan ubi jalar dan bahan pangan lainnya di sekitar pohon tersebut, yang kemudian digodok (dimasak) dan didihkan airnya di Kliteh.

Oleh karena itu, tempat tersebut kemudian dinamakan “Godok,” sekitar pada tahun 1850 yang kemudian menjadi asal mula nama Desa Godog.

Kliteh dikenal sebagai sumber air yang tidak pernah kering. Dahulu, banyak penduduk Meliwis yang mengantri untuk mengambil air di sana. Namun, seiring perkembangan zaman dan munculnya teknologi seperti sumur bor, Kliteh pun semakin jarang digunakan.

Suasana saat membangun masjid. (Dokumen sejarah/PWMU.CO)

Kampung Macapat

Desa Godog dahulu dikenal sebagai kampung Macapat, yang berarti kampung dengan bentuk persegi empat, dengan jalan-jalan yang lurus dan teratur.

Jalan utama desa mengarah ke selatan dengan lima baris, serta ke timur dengan enam baris. Bentuk desa ini diwariskan oleh nenek moyang kita, meski dahulu jalan-jalan di desa ini tidak beraspal, dan hanya ada satu jalan utama yang menuju Bulubrangsi. Selain itu, jalan-jalan lain seringkali becek dan sulit dilalui.

Rumah-rumah di desa ini dulu sederhana, banyak di antaranya terbuat dari bahan bambu, dan sapi-sapi dipelihara di kandang yang terletak di depan rumah, atau bahkan di bagian depan rumah itu sendiri.

Pada masa itu, bantuan dari pemerintah sangat terbatas, sehingga kondisi jalan dan rumah di desa masih sangat memprihatinkan.

Langgar dan Musholah

Di Desa Godog, kegiatan ibadah dilakukan di langgar, atau mushola, yang dahulu terbuat dari bambu dan digunakan untuk mengaji serta sholat.

Langgar pertama di desa ini adalah langgarnya mbah hasyim, orang kendal yang menetap di Godog. Karena jasanya mengajari ngaji masyarakat godog maka diberi tanah untuk tempat tinggal oleh kepala desa (Sarpin).

ketika mbah hasyim sudah sepuh kemudian diajak istrinya kembali ke kendal pada saat periode kepala Desa Mbah Hadist, dan tanahnya diserahkan kembali ke desa. Kemudian tanah tersebut dibangun Madrasah Al Islam pada zaman Mohammad Showab.

Selain itu, ada langgar milik Mbahnya Ibu Mualifah (Istri Bapak Kaniran) yang dibakar oleh Belanda pada waktu agresi militer belanda tahun 1948-1949.

Dan langgar di rumah Haji Sowab Mabrur, seorang perintis Desa Godog. Bukti sejarah menunjukkan bahwa langgar ini sudah ada sejak tahun 1940-an, menjadi pusat kegiatan Islam di desa ini.

Kemudian Kepala Desa Godog yang pertama adalah Pak Ginah, yang berasal dari Sugian. Setelah beliau, kepemimpinan desa diwariskan kepada cucunya, Sarpen (Singosari). Setelah Sarpen wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Hadist, ayah dari Haji Munawar Hadist.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Setelah Hadist digantikan oleh saudaranya yaitu Giri, Setelah Giri digantikan oleh H. Toha Abdullah dan setelah wafat digantikan oleh Kaniran, kemudian Maslihan, hingga saat ini dipimpin oleh Pak Kasdaun.

Saat acara di Desa Godoh zaman dulu. (Dokumen sejarah/PWMU.CO)

3 Buku Penting

Pemerintahan Desa Godog juga memiliki tiga buku penting yang harus dijaga dan dirahasiakan, yaitu Buku C Desa, Buku Rincik, dan Buku Kretek Blok.

Buku C Desa ditetapkan pada masa kepemimpinan Petinggi Hadist sekitar tahun 1951 atau 1952. Buku Rinci ditetapkan pada tahun 1993 saat kepemimpinan Pak Kaniran, dan Buku Kretek Blok adalah peta desa yang berbunyi kretek-kretek saat dibuka.

Pendidikan di Desa Godog dirintis oleh Haji Sowab Mabrur pada tahun 1945, dengan mendirikan Madrasah Al Islam, yang kemudian menjadi Madrasah Ibtidaiyah pertama di wilayah ini.

Kemudian Desa Godog sebelum tahun 1960-an, kepercayaan masyarakatnya masih banyak dipengaruhi oleh tradisi lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Namun, berkat dakwah dan pendidikan agama yang terus digalakkan, akidah masyarakat perlahan-lahan berubah menuju Islam yang lebih murni.

Serangan PKI

Kemudian pada tahun 1965, terjadi ancaman serangan dari PKI terhadap Desa Godog dan Bulubrangsi, yang berhasil digagalkan berkat informasi yang bocor dari seorang penduduk asal Brangsi yaitu namanya pak Jali.

Untuk melindungi desa, penduduk Desa Godog membangun pagar betis dari duri dan bambu, sehingga PKI tidak dapat masuk.

Pada waktu itu, Desa ini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Kyai Muhammad Sowab Mabrur dan Haji Toha Abdullah, dengan bantuan dari Bapak Mohammad Suhaimi di lapangan.

Cerita sejarah Desa Godog ini diabadikan dalam film “Jejak Langkah Sang Waktu,” menggambarkan perjuangan dan kehidupan masyarakat desa ini dari masa ke masa. Dan InnsyaAllah cerita ini akan berlanjut.

Sumber: Nakrawi, Munawar Hadist, Nasihin, Ahmad Kasuwi Thorif, Moh Aqib, Abdul Aziz Yusuf, Kaniran, Kasdaun

Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments