Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sejarawan Muhammadiyah Turun Gunung, Baca Ulang Sejarah Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Sejarawan Muhammadiyah Turun Gunung, Baca Ulang Sejarah Surabaya
Prof. Purnawan Basundoro (kiri) menjelaskan sejarah Kota Surabaya di hadapan peserta Muhammadiyah Historical Walk. Foto: Agus Budiman/PWMU.CO

Di tengah riuh langkah peserta Muhammadiyah Historical Walk (MHW) yang digelar pada Ahad (9/11/2025), tampak sosok yang tak asing bagi kalangan akademisi dan pemerhati sejarah perkotaan.

Dialah, Prof. Dr. Purnawan Basundoro. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair itu memilih untuk turun gunung, larut bersama ratusan peserta dalam perjalanan menelusuri jejak sejarah Kota Surabaya.

MHW yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dimulai dari halaman SMP Muhammadiyah 2 Surabaya, Jalan Genteng Muhammadiyah.

Kawasan itu yang sudah berusia lebih dari seabad dan menjadi saksi perjalanan dakwah Muhammadiyah di Surabaya. Dari titik inilah para peserta melangkah menyusuri ruas-ruas jalan yang sarat kenangan kolonial, termasuk Jalan Tunjungan yang kini menjadi ikon pusat kota.

Purnawan, dengan gaya khasnya yang bersahaja, berjalan sambil bercerita kepada peserta di sekitarnya. Dia tak sekadar berjalan, tapi membaca ruang dan waktu.

Prof. Purnawan Basundoro Turun Gunung, Baca Ulang Sejarah Surabaya
Para peserta MHW di depan Gedung Siola. Foto: Agus Budiman/PWMU.CO

“Kalau kita perhatikan, kawasan Tunjungan ini menjadi penanda bagaimana kota Surabaya tumbuh, meluas, dan menyesuaikan diri dengan arus modernitas kolonial,” ujarnya.

Menurutnya, pada awal abad ke-20, dinamika sosial-ekonomi Surabaya bergeser. Pusat keramaian yang sebelumnya berpusat di kawasan Pasar Besar, dikenal dengan suasana niaga yang padat dan khas Timur, mulai beralih ke Tunjungan, yang kala itu menjadi simbol uptown society ala Hindia Belanda.

Dari sekian banyak bangunan yang dilewati, Gedung Siola menjadi titik yang paling menyita perhatian Prof. Purnawan. Dengan mata yang menyapu detail fasad bangunan tua itu, ia mulai berkisah.

“Gedung ini awalnya dikenal sebagai Whiteaway Laidlaw, sebuah department store bergaya Eropa yang dibangun tahun 1919. Pemiliknya adalah dua orang Skotlandia yang mendirikan jaringan toko serupa di Asia dan Afrika. Cabang utamanya ada di Singapura. Sementara yang di Surabaya ini melayani kalangan Eropa dan kaum elite pribumi,” tuturnya.

Whiteaway Laidlaw bukan sekadar tempat belanja, melainkan representasi gaya hidup modern masyarakat kolonial. Rak-rak tinggi berisi tekstil impor, sepatu kulit, dan kosmetik Eropa menjadi lambang kemewahan dan perbedaan kelas sosial yang mencolok di masa itu.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Prof. Purnawan Basundoro Turun Gunung, Baca Ulang Sejarah Surabaya
Gedung Siola tempo dulu. Foto: Istimewa

Namun, cerita megah itu berubah drastis saat perang kemerdekaan pecah. “Ketika pertempuran Surabaya meletus pada 1945, gedung ini menjadi salah satu titik pertahanan pejuang. Dari sinilah mereka menahan gempuran pasukan Sekutu yang datang dari arah utara,” ujar Purnawan.

Pertempuran sengit menyebabkan gedung itu terbakar hebat. “Gedung Siola juga pernah terbakar habis saat perang tahun 1945. Jadi gedung ini bukan aslinya,” ungkapnya sambil menunjuk bagian dinding yang sudah melalui berbagai renovasi.

Pasca kemerdekaan, bangunan ini dibangun kembali dan berpindah kepemilikan. Ia berganti nama menjadi SIOLA, singkatan dari nama para pemilik barunya: Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang.

Dalam perjalanan waktu, gedung ini sempat beralih fungsi menjadi Ramayana Department Store, kemudian Tunjungan City, dan kini menjadi Mal Pelayanan Publik.

Beberapa urusan publik bisa diurus di sana. Di antaranya, pelayanan kependudukan, perizinan usaha, kepariwisataan, investasi, pengurusan pajak, dan masih banyak lagi. Pengurusan SIM dan denda tiang juga bisa diurus di sana.

Di Gedung Siola juga ada Museum Surabaya. Selain menampilkan sejarah Kota Surabaya dari berbagai periode, museum ini juga menyediakan area yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto.

Di dalamnya, tersaji perjalanan sejarah Surabaya mulai dari masa pra-kolonial, masa kolonialisme, masa pendudukan militer Jepang, masa pascaproklamasi, hingga representasi Surabaya pada masa depan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡